Aku, Kamu, dan Yogya

This short story were written for our bahasa Indonesia assignment. I wrote this mainly, but with enormous help from Fani, Samantha, Nadya, and Jane. Can’t thank them enough. I owe you guys a lot! Hugs & kisses xx


7 Oktober 2014

Sepatu flatsku menginjak sebuah kubangan air dengan suara pyuk, membuat warna pink sepatuku yang sudah pudar semakin pudar. Aku merapatkan jas hujan plastikku yang sudah basah kuyup, suara rintik hujan terdengar jelas di telingaku.

Sejelas wajahnya yang dingin, sedingin hujan yang jatuh tanpa ragu membasahi bumi. Sejelas perkataannya yang bergaung di telingaku, “Ini Kinan, cewek gue.” Sejelas imajinya yang tersenyum, lengkap dengan lesung pipi yang menjadi ciri khasnya. Sejelas tatapan mata cokelatnya yang menerobos dimensi ujung hatiku yang kosong, menghangatkannya seketika dengan esensi yang aneh tapi menenangkan.

Aku menengadah ke langit yang abu-abu dan yang mengguyur tubuhku dengan tusukan-tusukan air hujan yang segar juga dingin. Aku terus berjalan melewati kios-kios dan ruko-ruko dan warung-warung di sepanjang jalan Malioboro.

Sudah empat hari aku mengunjungi Yogya. Yogya, suatu kota yang kembali menggemakan suara-suara kenangan yang terdapat di relung hatiku yang tersembunyi.

“Ajeng?”

Suaranya.

*****

12 Mei 2011

“Sebenernya gue males banget, Na, ikut acara kepemimpinan kayak begini,” Aku melemparkan kepalaku ke senderan kursiku yang dibilang cukup empuk, “mana ke tempat yang kayak kampung-kampung gitu. Pasti banyak kegiatan alamnya.” Aku protes kepada sahabatku, Kirana, yang hanya tertawa menampung segala keluhanku selama 5 jam tadi.

“Nggak apa-apalah. Yah, kita juga OSIS, elo ketuanya lagi. Ya elo mau nggak mau harus ikut. Lagian seru juga ke tempat yang kita nggak pernah datengin.” Kirana tersenyum, berusaha meluruskan bibirku yang cemberut.

Aku melemparkan pandanganku ke bus yang membawaku ke Yogya ini. Banyak sekali wajah-wajah yang tidak kukenal, namun ada juga beberapa siswa yang aku kenal dari beberapa sekolah swasta di Jakarta. Memang acara kepemimpinan ini diselenggarakan oleh beberapa wakil dari provinsi di Pulau Jawa, sehingga setiap sekolah harus mengirimkan 2 orang perwakilannya untuk ikut acara ‘massal’ ini. Ke Yogyakarta.

Sejujurnya aku hanya takut satu hal : hiking. Dari kecil, aku beberapa kali ikut hiking, and… they were the worst experience ever. Aku sering jatuh, terpeleset, luka-luka, terbaret-baret, apalah. Dan satu lagi : lelahnya luar biasa. Sembari aku menatap keluar jendela bus yang terasa begitu asing ini, aku berharap pengalaman ini dapat menjadi pengalaman yang paling memorable.

Aku harap Yogyakarta dapat menyambutku dengan hangat.

****

12 Mei 2011, pukul 22.14 WIB

Aku membawa seluruh tas-tasku dan segala keperluan yang sudah kubawa dari Jakarta dengan mata yang sudah meredup. Aku merasa sangat ngantuk dan aku menyeret langkahku menuju pendopo dimana kita harus berkumpul. Aku melemparkan pandanganku ke siswa-siswa yang lain yang juga menyeret langkah mereka menuju pendopo. Sesampainya aku sampai ke pendopo, orang-orang di sana menyambut kami dengan segelas teh, pisang goreng, dan kacang rebus yang bertumpuk di piring. Aku memberi ibu-ibu, bapak-bapak, dan pengurus di sana senyumku yang terbaik. Lama-lama aku jadi jago akting. Tapi ada satu sosok yang menarik mataku. Ujung mataku mengekor figurnya dengan seksama.

Sebuah senyum yang cowok itu beri kepada seorang Bapak di belakang meja sambutan membuat hatiku seketika menghangat.

Pikiranku sepertinya sudah mulai terganggu. Aku memutuskan untuk berjalan dan duduk di lantai pendopo bersama Kirana dan siswa-siswa lain dari sekolah-sekolah terpilih di Pulau Jawa. Cowok itu pun ikut duduk dengan gestur santai. Sepertinya ia merasakan bahwa aku terus menatapnya, sehingga dia membalikkan badannya dan menatapku. Aku segera membuang muka dengan rona merah muda menghiasi kedua pipiku.

13 Mei 2011

“Woi, Kirana, kita nggak sekelompok!” Aku langsung berkata begitu ketika sahabatku berlari kecil menghampiriku.

“Ya, enggak apa-apa lah. Lo kan bisa kenalan sama yang lain. Bisa kenalan sama itu tuh…” dia menunjuk cowok yang kemarin itu dengan dagunya, “lumayan kan, Jeng? Ya kan? Ya kan?” Kirana menggoyangkan alisnya dengan playful.

“Ah capek ah ngomong sama lo! Godain gue aja terus…” Aku salting, tapi toh ikut tersenyum secerah senyum sahabatku. Ia mengatakan kata-kata yang menenangkanku. Soalnya, ini soal trekking. Pagi ini kita bakal trekking di Gunung Api Purba, salah satu objek wisata yang dibanggakan Desa Nglanggeran — dibanggakan Yogyakarta. Gunung ini sudah berusia jutaan tahun, begitu pula batu-batu besar yang berdiri dengan megah di sini. Katanya, batu-batu itu bahkan berasal dari zaman Pleistosen.

Kembali ke topik, kami dibagi menjadi 12 kelompok, masing-masing kelompok 15 orang. Dan ya, aku sekelompok dengan si dia. Dia rupanya sedang mengobrol dengan cowok-cowok di kelompokku selayaknya teman lama. Sepertinya dia adalah orang yang cukup easy going. Untuk sedetik, rasa takutku seperti hilang dari permukaan.

Detik kemudian, rasa takut itu kembali menguap ke permukaan. Wajahku berubah sedikit pucat. Setiap kali aku (harus) trekking, perasaan trauma itu selalu muncul. Trekking itu menjadi pengalaman yang buruk bagiku. Selalu. Mungkin paling buruk yang pernah aku alami. Tapi apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Aku setuju untuk ikut trekking. Lebih tepatnya, aku dipaksa oleh organisasi Karang Taruna Desa Nglanggeran itu. Dan di sinilah aku, bergabung dengan kelompokku, memakai sandal gunung, dan (siap nggak siap) ikut trekking. Kelompokku tampak antusias dan sudah ngobrol dengan pemandu. Sedangkan aku disini berdiri sendirian di bawah pohon dengan berbagai khayalan dan ketakutanku tentang ‘trekking’ atau ‘hiking’ atau itulah namanya yang bercampur aduk. Ingin sekali rasanya berlari kembali ke kamar dan bersembunyi. Hingga tiba-tiba semua rencana itu dibuyarkan ketika seseorang menghampiriku dan memanggilku, “Kamu ngapain di sini? Kita mau trekking.”

Aku mendongak dan mata cokelat teduhnya menyambutku.

Wrong move.

Karena saat itu, lidahku terasa kelu. Tenggorokanku tercekat.

“Hei. Nggak bagus loh bengong pagi-pagi gini. Di bawah pohon lagi, hahaha…” Cowok itu nyengir sambil melambai-lambaikan tangan kirinya di hadapanku. Aku tersentak kembali ke realita.

“Oh, maaf, maaf. Mmm… Gue Ajeng.” Aku mengulurkan tanganku yang sedikit gemetar. Dia menyambut tanganku dengan erat dan tegas.

“Gue Erlang.” Dia tersenyum tipis. Hmm, namanya unik.

“Ngumpul bareng yang lain, yuk, Jeng. Kita mau trekking Gunung Api Purba. Senyum dikit dong. Seru, lho.” Erlang menggamit tanganku dengan kasual, menarikku ke kelompokku yang sudah siap-siap untuk trekking. Tanganku terasa kesetrum atas sentuhan kasualnya. Aku langsung merelakan diriku untuk dibawa trekking. Jelaslah aku nggak mau membuka ketakutannya ke Erlang. Bisa-bisa aku dibilang manja lah, payah lah, walaupun sepertinya Erlang bukan tipe cowok yang akan mengatakan hal-hal seperti itu. Kita mulai trekking. Sebetulnya jalurnya tidak terlalu susah, tapi cukup melelahkan. Aku lama-lama mulai optimis walaupun terkadang sikap skeptis dan takutku muncul. Melihat kekompakan kelompok ini, senyum mulai tersungging di bibirku. Ya, aku sudah mulai berkenalan dengan orang-orang di kelompokku, termasuk pemanduku yang sangat helpful. Apalagi Erlang. Dia seperti bisa merasakan ketakutanku dan terus mendukungku dengan penuh semangat. Aku tersenyum dan tertawa bersama teman-teman baruku tersebut.

Ketika kakiku bertumpu pada suatu batu besar yang licin (mungkin karena kemarin malam hujan), aku kontan berteriak karena aku terpeleset. Aku menopang tubuhku dengan tanganku sehingga aku tidak terjerembab total. Aku meringis kesakitan, begitu tenggelam dengan kesakitanku yang mengingatkan aku mengenai trekking-trekking yang terdahulu sehingga aku tidak menyadari bahwa teman-temanku mengelilingiku dengan wajah khawatir. Aku mengaduh kesakitan.

“Ajeng, lo nggak apa-apa kan?”

“Lutut gue berdarah, Lang. Pergelangan kaki gue kayaknya lebam deh. Tangan gue juga — “

“Mas Subarno,” Erlang memanggil pemandu kami dengan suara yang tegas, “aku sama Ajeng balik aja, ya.” Aku terkesiap. Erlang dengan sigap mengangkat lenganku dan melingkarkannya di bahunya, membantu aku berjalan kembali ke pendopo. Degup jantungku sudah meningkat menjauhi tingkat normal. Aku harap aku tidak cepat mati.

“Makasih, ya, Lang.” Aku membisikkan kata-kata itu di telinganya.

Ia hanya membalas dengan seulas senyum hangat. Sehangat matahari pagi ini.

14 Mei 2011

Aku dan Erlang seperti inseparable. Sejak kejadian aku terpeleset saat trekking, aku dan Erlang menghabiskan waktu bersama. Kami saling bertukar cerita. Ternyata dia sekolah di Yogya, sedangkan ia sempat menghabiskan masa SDnya di Jakarta. Aku tersenyum ketika ia menyebutkan nama lengkapnya, Erlang Narayana. Narayana. Nama yang unik.

“Ajeng Christina. Ajeng Christina,” ia berhenti sejenak, mengucapkan namaku seperti sebuah mantra, “I like it. Seperti percampuran nama Jawa dan juga modern.” Ia menatapku sambil tersenyum.

Ada orang dengan mata seindah itu, aku tidak tahu.

“Jeng, ke Embung Nglanggeran, yuk? Kata orang-orang sini bagus banget, apalagi pas sunset. Pas banget ini udah jam 5-an.” Erlang menengadah ke langit, mengagumi langit yang mulai menampilkan semburat oranye.

“Ha?”

Erlang tidak menghiraukanku. “Eh, ada pickup tuh. Yuk. Nggak jauh dari sini kok, plus, nggak usah trekking.” Ia menatapku dengan tatapan jahil. Aku tertawa dan meninju lengannya dengan ringan. Sejujurnya, kalau trekking dengan Erlang seperti kemarin pagi, aku mau mengulangnya sekali lagi, hehehe. Akhirnya aku setuju dan naik pickup bersama Erlang, membawaku ke embung Nglanggeran. Aku berteriak ketakutan ketika mobilnya menanjak ke atas, karena medan yang cukup sulit dan curam. Aku berpegangan erat kepada Erlang dan kami tertawa akan kebodohan kami sendiri. Namun, ketika kami berdua sudah sampai, aku menatap pemandangan di depan kami dengan penuh kekaguman.

“Lang, ini bagus banget.”

“Mm-hmm.” Tatapan mata Erlang tetap lurus ke depan, menikmati pemandangan sunset di atas embung tersebut. Aku merapatkan kembali baju dinginku karena suhu udara yang semakin turun ketika kami menaiki tangga yang membawa kami lebih tinggi. Erlang melihat gesturku dan langsung memakaikan jaketnya ke tubuhku tanpa babibu. Ketika aku hendak membuka mulutku untuk protes, ia ‘memotongku’ dengan sebuah senyum.

Aku terpukau melihat wajahnya yang luar biasa gantengnya di bawah sinar matahari yang lambat laun meredup. Semburat campuran kuning dan merah jatuh di wajahnya, rambutnya, dan tubuhnya, membuat wajahnya yang sedang menikmati pemandangan hampir angelic. Wajahnya yang tampan serta matanya yang teduh membuat auranya yang lembut bervibrasi ke arahku, membuat aku gemetar tanpa aku sadari. Dan ketika ia menggamit tanganku lembut dan mengajakku turun dan kembali ke desa, aku sadar akan sebuah kenyataan bahwa aku telah jatuh cinta.

15 Mei 2011

“Lang! Elo cewek atau cowok sih? Topeng lo bagus banget! Liat nih punya gue,” aku menyodorkan topengku yang berbopeng, “parah, canting gue bocor terus. Topeng gue jadi penuh tompel-tompel yang tidak dikehendaki.” Aku menatap topeng batik yang didekor Erlang dengan iri. Bagaimana cara Erlang bisa menggunakan canting dan membuat hiasan yang sangat rapi dan bagus?

“Ah, ini karena ibu gue juga sering bikin begini. Kan dari SMP gue udah di Yogya, Jeng. Ya pasti gue ngerti beginian.” Erlang menjawab dengan santai, tanpa ada kesombongan dalam nadanya. Aku menatap topeng milik Erlang dengan kekaguman. Aku mengambil topeng milik Erlang dari tangannya, lalu menaruh topengnya di wajahnya. Aku tertawa.

“Woi, apaan nih?”

“Hahahaha!”

Erlang menepis tanganku dengan lembut, “Tahu nggak arti dekorasi topeng batik ini?”

“Emang apa?” tantangku dengan sombong. Dekor, ya dekor aja. Nggak usah pake makna segala. Tapi tatapan Erlang yang lembut membuatku terdiam.

“Ini Narayana, tokoh perwayangan.”

Aku terdiam. Aku malah menelusuri topeng itu dengan jari-jariku. Seakan menyerap dan mengagumi karyanya.

“Narayana itu dianggap titisan dewa wisnu. Ibu gue menamakan gue itu karena berharap gue menjadi orang yang tangkas, baik hati, serta bijaksana. Ibu sangat suka wayang, Jeng. Sosok wayang selalu digambarkan kurus, agak menunduk, bukan seperti Superman yang berotot dan bertubuh besar. Perwayangan lebih menonjolkan sifat rendah hati, tekun, liat, dan tangkas.” Erlang berkata begitu. Aku menatap dia dengan tatapan kagum bercampur tidak percaya.

“Tahu nggak, arti namamu?”

“Emang apa?” tantangku.

“Ajeng artinya cantik.”

Aku tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa maluku.

Sore harinya, kami diajak pemandu kami untuk membuat dodol cokelat bersama. Aku meringis dan menyeka air mataku dengan tangan karena asap dari kayu bakar tersebut membuat mataku perih. Erlang tertawa geli, namun menyeka mataku dengan lengan bajunya yang panjang. Aku ikut-ikutan tertawa. Aku dengan sekuat tenaga berusaha membuat dodol, namun pada akhirnya aku menyerah. Tenagaku sudah habis terkuras. Akhirnya aku hanya bantu makan. “Hmm, enak banget, Lang, cobain deh.”

“Iya, iya.”

“Warna dodolnya mirip warna matamu, ya.”

Pernyataan isengku dibalas oleh tawa renyah milik Erlang.

2 Juli 2012

“Gila, Lang, ini mah surga buku!” Aku menatap ke sekeliling book shopping center yang terdapat di kompleks Taman Pintar Yogya. Mirip Mangga Dua di Jakarta, bedanya, ini semua adalah buku. Buku bertumpuk hingga seakan-akan sedang berlomba menuju langit-langit ruangan.

“Memang. Gue sering beli buku di sini. Harganya murah-murah, apalagi kalau beli buku pelajaran yang loakan.” Erlang tersenyum melihat aku yang berjalan di sisinya dengan antusias.

Ya. Aku kembali ke Yogya untuk mengunjungi sahabatku selama ini. Sejak kami pergi ke Desa Nglanggeran, hubungan kami sangatlah erat. Kami sering chatting hingga ke hal yang paling tradisional sekalipun : surat-suratan. Kami tidak mau memutuskan hubungan persahabatan kami. Bulan Maret, Erlang berkunjung ke Jakarta. Sekarang giliran aku berkunjung ke Yogya selama liburan SMA 2-ku.

Aku dan Erlang berjalan-jalan sekeliling book shopping center tersebut, Erlang yang paling sering membeli buku. Buku-buku Tan Malaka, Kahlil Gibran, Putu Wijaya, bahkan buku-buku textbook loakan ia embat semua. Sedangkan aku hanya membeli beberapa buku saja seperti karangannya Nh. Dini.

“Nah, di toko itu,” ia menunjuk sebuah toko atau kios kecil di pojokan, “banyak dijual buku-buku kiri dan buku-buku sastra yang bukan lagi langka, tapi antik. Harganya lumayan mahal. Bahkan toko itu jual lembaran-lembaran koran zaman dulu.”

Aku hanya ber-oh ria. “Gue suka banget nih seperti ini. Nunjukin kalau Yogya betul-betul kota pendidikan.”

“Yogya memang kota yang bersahaja, Ajeng.” Erlang berkomentar singkat.

Seperti hati kamu, Erlang, seperti hatimu.

Setelah satu setengah jam berkeliling, kami akhirnya keluar dari shopping center tersebut dan berjalan kaki menelusuri Malioboro. Sesekali kami berhenti untuk minum es kelapa muda, makan sate, dan makan bakso satu mangkok berdua. Kami mengobrol banyak — dari topik-topik sampah sampai topik-topik personal. Kemudian kami terus berjalan, membeli oleh-oleh untuk keluarga — dari kaos biasa, batik, rok, tas, dan aksesori kerajinan tangan khas Yogya. Kami juga tidak lupa melahap gudeg.

Selama satu tahun, aku masih mengharapkan pernyataan itu keluar dari mulutnya, walaupun Kirana sudah memaksa-maksa untuk move on. Tapi entah kenapa aku tidak bisa. Di dalam hatiku, di suatu tempat yang sangat tersembunyi, aku masih menghidupi harapan kecil itu.

25 Juni 2013

Aku menenteng tasku yang berisi kamera tersebut dan dengan hati gembira duduk di barisan ketiga pementasan Ramayana dan Sinta. Aku belum mengunjungi Erlang, melainkan aku mau nonton pementasan ini bersama keluargaku saja. Semacam family time. Ibu dan ayahku sedang membeli minum di luar, sedangkan aku sudah duduk dengan sigap di sana. Aku mulai mengeluarkan kameraku dan mengutak-atik untuk mempersiapkan kameraku di lighting yang gelap.

“Hai, Ajeng. Gue udah terima message elo tadi sore. Welcome back to Yogya.”

Aku mendongak dan cengiran Erlang yang khas. Aku langsung berdiri dan memeluk sahabatku erat. “Oh my God, Erlang, lo makin tinggi aja! Lo kapan sih berhenti bertumbuh?” Aku melepaskan pelukanku. Seketika aku kecewa akan aksiku, karena tubuhku tiba-tiba merindukan kehangatan Erlang sekali lagi.

Erlang tergelak. “Itu mah elo yang berhenti bertumbuh.”

“Kok lo ada di sini? Gue bilang kan gue bareng keluarga gue.”

“Gue nungguin cewek gue.”

Hatiku langsung terasa dingin. Cewek? As in pacar? Erlang udah punya cewek? Kenapa dia nggak pernah memberitahu?

“Gue mau jadiin ini surprise, Jeng. Gue tahu lo bakal seneng banget kalau ketemu dia. Kalian berdua bakal cocok deh, gue yakin. Dia yang bakal main jadi Sinta, Jeng. Nanti gue kenalin, ya.” Erlang mengatakan itu semua seakan-akan hanya dengan satu tarikan napas. Ia menginformasikan hal itu dengan santai, kasual, blak-blakan, sama seperti Erlang yang dulu.

Erlang yang aku cintai.

Aku tersenyum, berusaha menampilkan senyum yang paling ridho yang bisa kusodorkan pada sahabatku yang lagi kasmaran itu. “Selamat ya, Lang! Gile, gue nggak nyangka lo duluan yang dapet pacar…”

Erlang tertawa dan mengacak-acak rambutku. Aku sebal dengan gesturnya yang begitu kasual menyentuh rambut ikalku. Aku benci itu. Aku benci pada kenyataan ia mencintai perempuan lain. Aku benci pada kenyataan aku tidak dapat mendapatkan hati Erlang sepenuhnya. Aku benci pada diriku sendiri.

Pernah ikut bungee jumping atau pernah bermimpi jatuh ke jurang? Rasa hancurnya seperti itu. Free falling. Hatiku seperti terjun bebas ke dalam sebuah lubang yang gelap. Ambruk. Hancur. Berserakan.

Terluka.

Ayah dan ibuku sampai bingung aku tidak fokus nonton Ramayana dan Sinta. Kameraku bahkan aku masukkan kembali ke tas. Moodku hilang. Mataku kerap mengikuti sosok Sinta yang begitu ayu dan anggun. Gerakan tangannya begitu gemulai. Tubuhnya berbentuk angka delapan sempurna. Jauh dari imageku. Tidak heran Erlang akhirnya kesengsem pada perempuan itu. Tanpa izin, tanpa peringatan apapun, air mataku jatuh. Aku tidak menangis terisak-isak, tapi aku menangis untuk Erlang, untuk Sinta-nya. Untuk hatiku yang sudah hancur. Tiap tetes mata aku bawa seluruh perasaan untuk Erlang yang selama ini terpendam, yang akhirnya membludak keluar.

Dalam bisu.

Setelah Erlang ngobrol sebentar dengan ayah ibuku, aku akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bicara berdua saja dengan sahabatku itu. Dilatarbelakangi pemandangan Prambanan yang berdiri megah, aku hancur menatap wajahnya yang begitu indah walaupun penerangan kurang. Aku berdiri dalam diam, bingung mau ngomong apa.

“Ajeng? Gimana kabar lo?”

Hah, dia baru nanyain kabarku sekarang. Tadi saja dengan bersemangat ia bercerita tentang cewek barunya. “Oke oke aja. Siap-siap buat kuliah, Lang.” Tapi aku tetep bela-belain ke Yogyakarta khusus bertemu dengan kamu, Erlang. Memang aku naif sekali.

“Memang sih. Gue juga begitu — eh, itu dia. Para pemain udah selesai. Yuk, gue kenalin ke cewek gue.” Dia menarik tanganku dan aku mau nggak mau ikut berlari kecil untuk menyamai langkahnya. Tangan itu masih terasa hangat dan familiar. Tapi tangan tersebut sudah untuk orang lain, orang yang lebih spesial daripada Ajeng Christina.

Erlang menyuruhku untuk tunggu sebentar di luar. Erlang masuk ke dalam ruangan pemain untuk memanggil ceweknya, lalu sedetik kemudian, ia keluar dengan menggandeng seorang perempuan yang begitu ayu. “Ini Kinan, cewek gue.”

Perempuan yang dipanggil Kinan oleh Erlang tersenyum lembut, mengulurkan tangannya. Aku membalasnya dengan hangat yang agak dipaksakan. Aku tersenyum. “Ajeng.”

“Kinanthi.”

“Salam kenal, ya, Kinan.”

Erlang tersenyum bahagia. Mungkin lebih bahagia daripada ketika bersama aku. Momen-momen indah yang telah kulewati bersama Erlang sekarang menjadi begitu pahit dan dingin, seperti makanan mewah yang enak yang telah basi. “Ajeng ini sahabat aku, Kin, yang aku ceritain. Dia dari Jakarta.”

“Ooooh….”

Kami bertiga ngobrol sejenak ditemani tiga gelas teh manis hangat. Makin aku ngobrol dengan Kinan, aku makin sadar bahwa aku tidak dapat membencinya. Dia begitu baik, rendah hati, begitu gemulai. Layaknya seorang penari kehidupan. Penari betulan. Penari yang berhasil merebut hati seorang Erlang.

Dan aku benci fakta bahwa aku tidak dapat membenci Kinan.

29 Juni 2013

“Jeng, udah ya, jangan sedih lagi. Gue tahu lo kecewa.” Kirana menepuk pundakku dengan pelan, berusaha menghibur aku yang lagi sedih banget. Aku hanya mengangguk sambil memberikannya sebuah senyum lemah.

“Makasih, ya, Na.”

Sejujurnya, aku masih merasa begitu hancur. Waktu itu, aku iseng search namaku di google. Memang, Ajeng artinya puteri atau cantik seperti kata Erlang, tapi Ajeng juga berarti orang ketiga. Aku yakin Erlang tahu hal itu, tetapi mungkin saat itu ia tak punya hati untuk menyampaikannya.

Ajeng yang berarti orang ketiga.

Aku menangkupkan kepalaku di kedua telapak tanganku. Aku tidak lagi mengeluarkan air mata, karena hatiku terasa begitu dingin dan keras. Seperti intan. My heart is a freaking diamond.

Aku menatap keluar jendela.

Erlang, kamu sedang apa di Yogya sana?

7 Oktober 2014

Aku membalik tubuhku dan melihat ada Erlang di sana. Ia juga memakai jas hujan berwarna hijau muda. Ia nyengir. Aku balas senyumnya. Aku berjalan mendekatinya. Ia makin tinggi. Wajahnya terlihat dewasa. Tapi Erlang Narayana masih tetap seorang Erlang. Yang mata cokelatnya begitu teduh. Yang sentuhan dan pelukannya begitu hangat, begitu cocok dengan tubuhku, layaknya dua keping puzzle yang tepat.

“Makin tinggi aja, Lang.” Aku masih tetap menggodanya. Like the old days.

“Elo yang udah berhenti bertumbuh, Jeng.”

“Berisik.”

Uh-huh.”

“Selamat ulang tahun ke-253 untuk rumahmu, Yogya, ya, Lang.”

Erlang tersenyum, mengingatkan aku tentang senyum pertama yang ia sodorkan untukku. Begitu hangat dan membuai. “Terima kasih, Ajeng. Selamat ulang tahun untukmu juga. Yogya udah seperti rumahmu.”

“Terima kasih.” Aku tersenyum penuh arti. Aku memang telah menemukan rumah baru. Di Yogya pula. Telah kubuat halaman kehidupanku yang baru.

“Ajeng?” Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku tersenyum hangat. Rangga membawa dua plastik es kelapa muda, lengkap dengan sedotan kuning.

“Ga, ini Erlang. Yang aku sering ceritain ke kamu.” Aku memperkenalkan Rangga ke Erlang. Erlang menyambut uluran tangan Rangga dengan hangat. Sedetik kemudian, aku lihat Kinanthi datang menghampiri Erlang. Erlang segera menggenggam tangan Kinan erat. Aku tersenyum.

Senyum tertulus yang pernah aku berikan dalam 1 tahun terakhir ini.

Kinanthi mengangguk dan kemudian memelukku erat. Aku balas pelukan Kinan sama eratnya.

Setelah itu, kami berempat berkeliling Malioboro bersama. Rangga dan Erlang — dua orang yang sama-sama dari Yogya (hanya saja Rangga sudah pindah ke Jakarta) — langsung bercengkrama layaknya teman lama. Aku dan Kinan ngobrol dan tertawa bareng. Kami bertukar informasi dan saling bergurau.

Lambat laun, hujan pun berhenti. Langit masih kelabu, tapi satu hal yang pasti : cintaku memang hancur di Yogya, tapi aku membangun rumah baru di Yogya pula.

27 November 2014, pukul 20.03 WIB

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.