Antara Karena dan Laut

Karena kamu segalanya yang aku mau.

Karena kamu mempunyai segalanya yang aku ingini. Tubuh yang sungguh ingin kupeluk. Jiwa yang sungguh ingin aku selami.

Aku ingin mendekap semestamu.

Aku ingin menyelami lautmu. Tidak — bukan tenggelam. Aku ingin membiarkan ombakmu menyapu pantaiku.

Karena kamu segalanya yang aku mau.

Karena itu Tuhan memisahkan jalan kita.

Karena Tuhan membuat anak-anak sungai yang berpencar. Yang berkelok-kelok.

Indah, bukan?

Ia kembali ke laut.

Ia ke samudera. Ia biru, hijau.

Kita mungkin tak saling kenal lagi, tapi

segalanya adalah kamu.

Sang laut, sang air.

Lalu senyumku mengembang.

Karena segalanya adalah kamu. —

“Hei, kamu kenapa bengong?”
Aku tersentak, kembali dari lamunanku.

Ah, hanya matamu saja sanggup membuatku menuliskan sepotong sajak.

[Rabu, 2 September 2015]

Pk. 21.31 WIB

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.