Pagi dan Kenangan

PAGI INI AKU TERBANGUN SEHABIS BERMIMPI.

Mimpi yang begitu sejenak, terasa sepersekian menit–kamu mendekapku dari belakang. Mencium pipiku.

Pagi ini aku terbangun dengan mencium aroma kopi sachet murah. Aku menatap kosong menghadap langit-langit kamar, entah berbuat apa, entah merasa apa, entah berpikir apa. Semua begitu bercampur aduk.

Kenangan yang telah kusimpan dalam sudut ruang gelap hatiku mendobrak keluar. Menguap selayaknya aroma kopi yang menguar pagi ini. Dia seperti akar-akar pohon dan tanah humus penuh bunga dan rumput liar, melahap seluruh tubuhku. Entah mengapa aku menyapanya. Ia menari di hadapan mataku. Seperti sebuah sinar emas yang hangat, juga menjelma menjadi tanaman beracun yang hendak menghisap rasa yang telah bertumpuk di ujung mataku, entahlah.

Aku membayangkan wajahmu, seluruh detil yang kuingat. Aku menyentuhnya. Apakah ada aku yang tersenyum dalam sebuah ruangan–sekecil apapun itu, sesempit apapun itu–dalam hatimu yang begitu lapang? Apa ada? Apa ada wangi rambutku sehabis keramas yang kau kenang dan kau ingat sore-sore sehabis mandi? Apakah ada,

apakah masih ada hangat dan getar tubuhku yang menempel pada lenganmu saat kau merangkulku,

apakah masih ada sekeping hati yang kau pegang dan kau simpan dalam kotak yang berlabel kenangan?

Apakah masih ada aku dalam ujung lekuk bibirmu,

apakah masih ada kenangan akan warna mataku dalam warna kopimu

dan bibirku pada tepi gelas berwarna putih yang kau gunakan sekarang?

Apakah masih ada aku?

Apakah masih ada.

Ada.

Pikiranku masih terus diputar ulang, ulang, ulang. Aku tak mengerti. Mungkin aku bodoh.

Namun sebelum aku beranjak dari tempatku berbaring, aku bertanya pada sang kenangan yang kini hendak melahap hatiku :

Apakah masih ada aku, sekeping aku, dalam pijaran matahari sore yang tenggelam dalam hangat matanya?


28 September 2016

Pk. 07.28 WIB

Jika boleh mengutip sepenggal luka yang dipampang di Instagram pagi ini,

“Orang-orang butuh pulang, untuk sekedar melepas lelah

dari panjangnya bertualang.

Orang-orang bertanya, “Mengapa aku tidak pulang?”

Aku jawab,

Dua lengan yang dulu pernah memelukku erat kini telah pulang

bukan pada tubuhku.”

(Oleh Mbeeer, http://www.narasizaman.com)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.