Petasan : Sepenggal Cerita di Tahun Baru

Anak lelaki berambut keriting itu menengok pada jam yang tergantung di rumah temannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.35 WIB — kalau dia tidak salah membaca jam. Ia bertanya kepada bunda temannya itu, dan ternyata ‘pembacaan jam’nya betul. Tubuh yang begitu kurus dan mungil, tulang dibalut daging, dipeluk oleh kaos berwarna merah yang telah kusam, gambar print Power Rangersnya telah terkelupas dan beberapa bagian hilang, tersenyum, menunjukkan gigi-giginya yang kuning dan masih terselip sedikit sisa-sisa singkong goreng yang tadi disantapnya. Sebentar lagi orang-orang di komplek sebelah tahun baruan. Aku akan melihat petasan di langit gelap ini. Ia menengadah ke atas, menatap langit yang begitu kelabu, dan ia masih bisa melihat awan-awan kelabu aneh yang bergumpal. Apa rasanya menyentuh awan itu?

Sejenak ia bermain mobil-mobilan yang rodanya telah rusak dan miring bersama temannya itu untuk membunuh waktu. Tiba-tiba, dhuar! Dhuar! Matanya terbelalak dan ia menyuguhkan sebuah senyum yang paling lebar. Ia segera berdiri dan mengajak temannya itu keluar. Suara ledakan-ledakan itu masih terus-terusan berbunyi, berganti-gantian. Langit yang kelabu itu tidak begitu kelabu lagi. Asap membubung tinggi, dan sedetik kemudian, dhuar! Sebuah petasan dengan megahnya meledak di langit yang sekarang telah berasap itu. Warna — warna ungu, emas, dan merah menghiasi langit kelabu itu untuk dua detik. Lalu ada lagi. Ada lagi. Mereka berdua tertawa kegirangan. Ibu temannya itu juga ikut keluar, nonton petasan dengan riang. Begitu cerah warnanya, begitu indah bunga yang diciptakan petasan itu dengan ledakan yang memekakkan telinga. Warna-warna itu terpantul di mata cokelat anak itu yang penuh kagum.

Dhuar! Dhuar!

Setelah ledakan yang entah keberapa, petasan itu berhenti. Dengan kecewa, anak lelaki itu harus pulang, takut dicari oleh ayahnya. Sesampainya di rumah, ia melihat ayahnya yang tertidur di sofa lusuh berwarna hijau tua. Sofa itu sudah lapuk dan bau. Ayahnya terlihat letih, beban seperti menimpa kedua bahunya yang sudah kuyu dan kulitnya yang sudah mengerut dimakan waktu. Anak itu mengambil selimut miliknya — selimut satu-satunya di rumah yang sangat kecil itu — dan menaruhnya di atas tubuh ayahnya. Ia tahu ayahnya sehabis bekerja. Ayahnya seorang buruh pabrik jauh dari rumah yang terletak di gang kecil ini. Dan ia tahu, pasti besok siang akan ada beberapa orang dengan wajah sangar dan mata nyalang membentak ayahnya untuk membayar hutang. Ia hafal betul setiap hari, tiap siang pukul 12.30, akan ada orang-orang yang menagih hutang kepada ayahnya, kadang-kadang menendang dan menonjok ayahnya supaya cepat membayar uang. Namun, ayahnya selalu tersenyum kepadanya dan berkata bahwa hidup memang sulit, tetapi bila kita tersenyum, semua akan menjadi lebih baik. Ia akan berkata begitu dengan mata yang lebam atau sambil memegangi perutnya. Ia tinggal sendiri dengan ayahnya di rumah reyot itu. Ibunya telah meninggal. Adik perempuannya pun meninggal, bahkan sebelum hadir di dunia ini. Anak laki-laki delapan tahun itu sering bermimpi bagaimana wajah cantik adiknya itu.

Dhuar!

Cepat-cepat ia berlari keluar dari gang itu dan menatap petasan yang berganti-gantian saling bertubrukan dan meledak di angkasa. Ungu, hijau, emas, merah. Ia kembali menunjukkan gigi-giginya. Senyumnya yang inosen.

Sekali lagi. Sekali lagi.

Setelah pertunjukan warna-warni itu selesai, ia kembali ke rumah, berdoa, dan tidur. Berharap esok hari akan terbit matahari yang hangat dan menawarkan cerita yang baru, dan lebih baik lagi.

****

Tawa dan canda menghiasi taman besar di rumah itu. Daging asap, kentang goreng, jagung bakar, dan makanan lainnya serta minuman-minuman tampak menghiasi piring-piring plastik yang disediakan. Satu keluarga besar saling bersilahturami dan merumpi dengan asyiknya. Anak-anak mereka yang remaja sibuk bermain smartphone mereka, mengucapkan Selamat Tahun Baru 2016 kepada teman-temannya, bermain snapchat, Path, atau menelepon pacar. Anak-anak yang lebih kecil bermain kembang api, kejar-kejaran, dan pada akhirnya mereka semua meluncurkan petasan ke udara. Mereka tertawa dan menikmati ledakan-ledakan indah itu di atas kepala mereka.

Dhuar! Dhuar! Dhuar!

****

Si anak kecil berambut keriting tersenyum di dalam tidurnya. Ia bermimpi tentang seorang perempuan cantik yang memeluknya erat dengan tangan yang lembut. Ia bermimpi ia sedang menaruh kepalanya yang mungil itu di atas dada hangat ibunya. Di sebelah ibunya terdapat seorang anak perempuan berambut ikal panjang sebahu, mata cokelat yang besar dan polos, dan senyum yang begitu tulus. Adik perempuannya yang tidak pernah ada di dunia ini.

Lalu, ia bermimpi sedang menatap petasan yang tidak hentinya meledak di udara membentuk bunga-bunga emas bersama ayahnya yang tegap, tampan, memakai baju yang layak, tersenyum, dan tidak ada kerutan-kerutan di dahinya. Dan tidak ada hutang yang menjerat ayahnya.

Dhuar! Dhuar!

“Petasannya indah, ya, Yah.”

31 Desember 2015


Pk. 11.29 WIB

Menjelang tahun baru yang dihiasi terlalu banyak polutan udara.

(picture credits go to @livs, http://www.weheartit.com)