Sederhana

Kamu membelai dan mencium puncak kepalaku. Kamu masih bisa menyempatkan hal seperti itu ketika kamu sibuk, atau sedang menyeduh kopi, atau bahkan menyetir: bagaimanpun aku protes sambil nyengir.
Lalu kamu akan mengusap lenganku dengan suportif ketika mataku mulai tergenang air mata, kamu diam, tapi entah mengapa begitu nyaman. Sensasinya menyenangkan, hangat; seperti minum wedang jahe di pinggir jalan kala hujan.
Setelah itu, kamu tersenyum menatapku ketika mata kita bertemu. Selelah apapun di kantor, bibir itu akan mengembang menjadi seulas senyum ketika pulang bertemu aku.

Karena kamu begitu bersinar, bersahaja, dan cinta yang begitu sederhana. Seperti kata Sapardi, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.

Sesederhana malam minggu yang malas dan penuh canda dan popcorn dan film. Sesederhana kamu bangun tapi tidak beranjak karena kamu menatap wajahku yang katamu syahdu dan cantik. Sesederhana bangun dari mimpi buruk dan mendapati sepasang lengan kokoh yang menyatukan semua keping-keping jiwa yang ketakutan dan berantakan.
Sesederhana mengucapkan namamu.

Aku lalu pun terbangun, dan mendapati kamu sedang menatapku lurus dengan sepasang mata cokelat tua. Seperti espresso di pagi hari. Kemudian, kamu tersenyum dan bebisik dengan suara serak, “You’re so beautiful.

[Selasa, 2 Juni 2015]
Pukul 20.38 WIB