Suatu Malam di Pub

Tanganmu refleks menggenggam jemari-jemariku.

Aku yang tertawa langsung terdiam.

Ruangan yang penuh lampu warna-warni dan tawa dan canda terasa senyap, hilang, terhisap dalam satu lubang hitam dan mataku hanya dapat menatap tanganmu yang menggenggam tanganku.

Hangat, kuat, seperti pelukan seorang ayah.

Sederhana. Sederhana sekali.

Ting!

Mereka masih minum-minum. Mereka masih sibuk menyalakan lagu karaoke.

Aku tak peduli.

Dalam gelap, aku tahu mata cokelatmu bercahaya.

Aku tahu, aku tahu — entah mengapa.

Kamu tersenyum.

Aku tahu.

Minuman di tangan kananmu masih penuh.

Minuman di tangan kiriku masih setengah.

Waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam.

Masih lama. Masih banyak waktu.

Kamu berbisik — kamu cantik sekali hari ini. Berdetak. Napasmu hangat.

Momen itulah aku tahu, aku akan jatuh.

Aku tahu.

Entah mengapa.

Antara mencinta dan kehilangan terkadang saru.

Lagi. Lagi. Lagi.

[Dec 6, 2015]

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.