Tentang Rindu : III

via weheartit.com

I.

Telah lama aku tidak menyentuh kopi yang betul-betul hitam warnanya. Tiap kali aku pergi ke kedai kopi, aku selalu memesan vanilla late. Atau cappucino. Atau macchiato. Cafe creme. Flat white. Tapi tak pernah espresso, doppio, ristretto, atau bahkan Americano. Bahkan, sang barista telah hapal apa saja jenis kopi yang hendak ia minum.

II.

Dia selalu berkomentar setiap kali aku datang dengan rambut basah yang telah disisir rapi. Komentarnya selalu sama dan tidak pernah berubah : “Rambutmu harum sekali.” Aku selalu tersenyum tipis dan rona merah muda selalu hadir di pipiku. Aku hapal sekali : ia akan nyengir, lalu menawarkan kopi apa yang hendak aku minum hari ini. Aku selalu minta kopi hitam. Apapun itu. Kopi yang tajam, pekat, dan pahit. Ia akan membuatkannya untukku. Kadang-kadang ia campur dengan sedikit vodka. Kadang-kadang ia membuat cappucino dengan hiasan hati di atasnya. “Masih belum jago,” ujarnya sore itu. Aku selalu mengamati dan menatapnya dengan kagum. Terkadang aku mengikutinya membuat kopi, betul-betul melihat tangannya dengan terampil menuangkan susu busa ke atas kopi. Tiap detil. Tiap gerakan. Cekatan. Penuh sayang.

III.

Tangan yang sama menyodorkan gelas putih dengan asap kopi yang mengepul di atasnya kepadaku. Ia kembali nyengir sambil berujar, “I hope you like it, though.”

IV.

Tangan yang sama memegang marker untuk mengajariku Sosiologi. Tangan yang sama memegang pensil dan penggaris untuk mengajariku (yang tak bisa-bisa) pelajaran Matematika. Tangan yang sama yang menyampul buku-buku novelnya dengan cermat, juga membalikkan halaman buku dengan hati-hati.

V.

Tangan yang sama, kedua tangannya itu yang memeluk, merangkul, dan menopang hari-hariku ketika hendak rubuh. Kokoh. Apa adanya. Sederhana dan ada. Utuh. Tangan yang sama pula yang mengetik pesan-pesan singkat untuk menyemangatiku. Yang mengacak rambutku dengan playful ketika ia mengisengiku.

VI.

Namun, itu telah lama berlalu. Sekarang, aku tepat di depan barista, tanpa sadar memesan segelas black coffee. Aku menyesal, tapi, toh, aku bayar juga. Aku membawa gelas kecil itu berisi kopi pahit yang kental ke mejaku, duduk, termenung. Aku belum menatap gelas kecil itu sama sekali.

VII.

Aku memegang gelas itu dengan kedua tanganku. Jemari-jemariku memeluk erat tubuh gelas berisi kopi hitam itu. Hangat.

Ketika aku menatap gelapnya kopi itu, yang warnanya sama persis dengan warna mataku, seluruh memori senang maupun sedih, tawa, canda, senyumanmu, kernyitanmu, langsung berkelebat secara beruntut di otakku. Setelah itu imaji yang tersisa hanyalah

matamu.

matamu.

kamu.

Like what you read? Give Jessica Penny a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.