Your future “x”

Kontemplasi hidup antara: impian, cita-cita, dan rencana Tuhan


Ditulis pukul 22.30 WIB — 2 jam sebelum hari berganti. Diambil melalui Akun Instagram Pribadi: @jevvnats

PROLOG

Beberapa hari yang lalu, saya mengalami gundah gulana yang amat sangat mendalam. Saya pun bingung, mau cerita ke siapa. Karena, tidak semua teman saya mengerti dan memahami apa yang saya pikirkan, dan mereka seringkali hanya memandang hal itu sepele.

Tapi, saya sedikit beruntung. Beberapa bulan sebelumnya, saya memiliki teman dekat yang cukup memahami apa yang saya takutkan. Teman saya ini bernama B dan G. Kedua orang ini menyarankan saya untuk mempertimbangkan dulu — baik dari segi materi, bahan, maupun apa yang akan saya pilih nantinya. Pandangan mereka pun menurut saya sangat meyakinkan, untuk saya memilih hal itu saat ini.

Saya sangat bingung, takut salah memilih. Mengapa begitu? Karena saya, semester ini diharuskan memilih Studi Kawasan (atau Regional) di Jurusan saya). Bagi saya, hal ini sedikit krusial — karena cukup banyak berhubungan dengan Konsentrasi ataupun Kelompok Bidang Ilmu (KBI) yang akan diambil ke depannya.
Karena, adapun bahan untuk Seminar (pra-TA ataupun Skripsi) nantinya, beberapa mengacu ke kawasan yang diambil. Misalnya, kalau saya akan mengambil Politik & Keamanan, saya pasti memilih HI Timur Tengah. Karena, seperti yang kalian ketahui, sebagian besar negara Timur Tengah merupakan negara konflik. Jadi, saya akan jauh lebih mudah mencari isu/bahannya, karena saya sempat mempelajari hal itu.

Ya, saya maklum kalau orang awam kurang mengerti mengenai hal ini dan menganggap hal itu “sepele” atau “tidak begitu penting”. Tetapi, bagi sebagian besar, khususnya yang mengambil studi seperti saya (read: HI), hal ini sangatlah penting. Bagaimana pun, karakteristik satu regional ataupun kawasan itu berbeda satu dengan lainnya.

Tetapi, Puji Tuhan. Pada akhirnya, dengan memohon doa, lalu bertanya kepada teman dan orang tua, saya akhirnya memilih HI Asia Pasifik. Karena, selain saya ingin mengambil Ekonomi, kawasan ini pun sedang mengalami perkembangan yang cukup pesat di dunia. Saya melihat, 30 tahun lalu Korea Selatan “masih” berkembang, tetapi, dunia pasti tahu bagaimana Negeri Ginseng tersebut pada hari ini. Dan sejumlah hal lain yang menarik untuk dibahas.


Sebenarnya tulisan di atas tadi hanyalah Prolog semata — tetapi hal tersebut menunjukkan bagaimana saya “menyimpan” sesuatu harapan, lalu menuliskannya, dan pada akhirnya didoakan kepada Tuhan. Hal ini juga sebaiknya berlaku, jika kita ingin menyimpan keinginan, cita-cita, ataupun impian terpendam kita.

INTI

Ya, saya sudah cukup gatal untuk menuliskan hal ini, karena saya melihat, seringkali orang — orang menuliskan hal ini dengan berbagai cara: posting di semua media sosial, nulis di bio instagram nya, bahkan di display name instagram-nya dengan kata-kata: “your future x”, “your next y”, “a next z” atau something that related by it.

Saya pribadi menganggap hal itu biasa, dan bisa untuk menjadi doa bagi banyak orang ke depannya. Tetapi, terkadang menyombongkan hal yang belum terjadi adalah tidak baik, bukan?. Karena, seringkali (based on my own experience, too). An expectation sometimes totally different with the reality. It’s a real, guys. Saya pernah mengalaminya, dan untuk mengikhlaskan itu butuh 6 bulan teman — teman. Can you imagine? It’s a long time for some people who is easily to move on into a new life.

Saya mulai memikirkan hal ini, karena saya seperti “sedikit ketampar” dengan sindiran seseorang mengenai hal ini. Karena, mereka menganggap bahwa hal ini tidak pantas untuk dipamerkan di media sosial, yang akan dibaca oleh kebanyakan orang atau netizen. Selain itu juga, hal ini pun dapat membuat sebagian orang menyindir dengan cara halus (melalui teman biasanya), ataupun secara terang-terangan, lewat personal chat ataupun akun sosial media pribadi kita.

Selain itu, untuk saya pribadi. Saya juga merasa sedikit tersindir apabila ada orang yang mengatakan hal seperti itu kepada saya, meskipun itu secara tidak langsung. Biasanya, saya berusaha minta maaf, lalu saya introspeksi diri dan akhirnya saya memahami dan menerima hal tersebut.

Sebagai penutup, saya akan berikan sebuah perkataan favorit, yang berkaitan mengenai hal ini:

Kita tak tahu, Apakah kapal yang kita kemudikan berlabuh (selalu) sesuai dengan waktu dan tempat yang kita rencanakan? Tidak. Karena sebuah pelayaran itu bisa berubah, sesuai dengan keadaan yang dikondisikan oleh Tuhan, sang pencipta

“Karena sebuah impian, cita-cita, dan keinginan tidak selalu sama persis. Bisa begitu, ataupun berbeda 180 derajat. Terkadang, Tuhan punya rencana yang terbaik untuk kehidupan kita. Percayalah, sesungguhnya hal itu (sangat) indah, ketika hal itu kita sadari — meskipun lama dan kita menerima, apa yang direncanakan”

Sekian.

Bandung, 05/08/2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.