Catatan Seorang Pencari

Tjoa
Tjoa
Jul 27, 2017 · 5 min read

Sebelum manusia pra-modern mengenal istilah agama, para pendahulu mereka telah mengamalkan kekhidmatan dalam menginterpretasikan Ketuhanan. Animisme dan dinamisme merupakan dua buah konsepsi Ketuhanan purba yang mendasari terciptanya paham monoisme dan poloisme yang belakangan ini dianut oleh kebanyakan agama di dunia. Pada hakikinya agama merupakan buah pemikiran manusia akan segala penafsiran fenomena transendental dalam relevansinya terhadap hubungan manusia secara uniter dengan entitas yang dipercayai menghendaki kehidupan manusia. Selain agama menganut nilai-nilai kebenaran yang bersifat dogmatis yang merupakan hasil konsensus sekelompok manusia, agama pun juga dijadikan acuan kebenaran baik dalam berperilaku, bertutur kata dan berpikir bagi para penganutnya. Dengan menjalankan ritual-ritual dan tata cara peribadahan para umat beragama percaya bahwa mereka mampu mendekatkan diri dengan apa yang mereka nyatakan sebagai Tuhan di dalam agamanya, yang selalu digambarkan sebagai sesosok ataupun figur yang menjadi sumber akan segala kebaikan. Namun realita dunia hari ini tidak menggambarkan sama sekali faedah akan keintiman ilahi tersebut. Peperangan beratasnamakan Tuhan dan agama serta rasisme atau kebencian yang didasari oleh pertetangan kultur agama merupakan dua hal yang kerap kali kini kita jumpai di tanah air. Didasari oleh perenungan terhadap hal-hal ini acap kali beberapa pertanyaan tersebut timbul di benak kita:

Apakah iman menjatuhkan manusia dari moralitas? Apakah keintiman dengan Sang Ilahi hanya membangkitkan kemunafikan seseorang? Apakah agama merupakan sebuat alat diferensiasi manusia?

Tuhan tidak pernah menyatakan secara eksplisit bahwa dirinya ingin dipuja dan disembah; Tuhan juga tidak pernah melarang manusia untuk tidak mempercayainya; Tuhan juga tidak pernah memberikan petunjuk kepada manusia untuk menginterpretasikan dirinya.

Dengan begini penulis masih saleh.

Agama yang dogmatis seharusnya mampu memberikan efek jera terhadap penyimpangan terhadap nilai kemanusiaan dan moralitas. Sehingga manusia memiliki sebuah rasa takut untuk tidak melakukan kejahatan dan takut akan akibat dari kejahatan terebut.

Sudah kewajiban tiap agama untuk menderivasikan dan menggenealogikan moralitas terhadap para pemeluknya, dengan hal ini sebuah integrasi interkultural dan interagama mampu diwujudkan.

Kerinduan terhadap sebuah negara berdaulat yang didasari oleh Ketuhanan ( Sifat-sifat Tuhan ) yang diresapi setiap rakyatnya dan kemanusiaan yang berdiri teguh seperti sebuah batu karang ditengah samudera telah mendorong penulis untuk merangkai kata-kata ini ke dalam sebuah tulisan,

Namun penulis khawatir jikalau pemikiran dan gagasan ini belum mampu diterima oleh khalayak luas. Seperti seorang anak kecil yang membawa lentera di siang hari sembari menangis berteriak mencari Tuhan ditengah kerumunan orang yang menyatakan dirinya mempercayai Tuhan. (kutip GS 125, Nietzsche).

Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi Tuhan-Tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu.


Menurut kodrat pelemparannya manusia terlahir di dunia tanpa sebuah tujuan yang jelas, seperti sebuah jiwa yang bergentayangan menyusuri lika-liku dunia fana mencoba mencari seonggok raga. Begitu juga manusia berusaha mencoba mencari tujuan hidupnya. Secara garis besar untuk mampu memahami tujuan tersebut manusia melakukan pengembaraan dengan berpegang pada sebuah nilai ilahi tertentu. Apakah itu diskurs atau kebenaran? Rasionalitas dan logika selalu menjadi nomor dua dalam keilahian. Pegangan-pegangan itu tadi biasanya diidentikan dengan sebuah ajaran transendental. Jika kemudian hari ada wacana bahwa Tuhan sebagai acuan ajaran itu telah mati, maka secara tidak langsung manusia akan tetap melakukan pencarian akan pegangan itu. Sebagaimana ide mampu menginduksi sebuah materi begitu juga bibit-bibit nihilisme terlahir.

Elegi-elegi atas kemanusiaan yang terus berkumandang tiada henti seiring dengan kejatuhan moralitas telah menghantarkan kita kepada suatu penghunjung zaman, dimana perikemanusiaan dan naluri kebinatangan tak lagi mampu dipisahkan. Moral yang semakin bobrok dan tindakan yang semakin jalang telah menjauhkan manusia secara utuh dari apa yang disebut sebagai kesempurnaan penciptaan Tuhan. Namun apakah dengan mengutuk kegelapan tersebut kita mampu mengubah tatanan diskurs yang sudah terbentuk? Apakah dengan hanya meratapi akhir zaman kita mampu tercerahkan untuk mengatasi chaos ini?

Tidak, jawabannya adalah tidak.

Mengutuk sistem yang sudah tertempa secara diskursif dan genealogis tidak akan menuntun manusia keluar dari lingkaran setan yang terus berputar, melainkan hanya akan membuat manusia semakin tersesat kedalam persimpangan-persimpangan labirin ideologi tak berujung.

Dan sudah sebaiknya kita menyalakan lentera, menuntun satu sama lain.

Homo homini lupus’ merupakan sebuah paham yang dicetuskan oleh Adam Smith, dimana Smith memposisikan manusia sebagai makhluk uniter mendasar yang membutuhkan keberadaan entitas lainnya. Seperti sebuah bunga membutuhkan penyinaran matahari, air dan mineral, begitu juga seorang anak manusia membutuhkan induknya. Seiring dengan proses penuaan kodrat tersebut diadopsi oleh umat manusia menjadi sebuah diskurs. Hal ini terus berulang secara genealogis dan menjadi sebuah rahasia umum pada manusia dan dijadikan satu acuan bagi manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan jasmaniah dan rohaniahnya dengan eksistensi entitas lainnya.

Status quo manusia sebagai seososok makhluk kecil tiada kuasa telah menstimulus terlahirnya sebuah kebutuhan manusia akan sesosok figur besar yang menaungi setiap aspek kehidupan manusia ( patronasi ).

Sejak garis lintasan waktu pertama kali membentuk cekungan-cekungan ruang, di saat yang sama itu pula nilai-nilai terlahir. Kebaikan dan kejahatan merupakan dua buah substansi yang semenjak waktu penjadiannya terus bertikai untuk menentukan mana yang paling berpengaruh bagi manusia. Kebaikan selalu dianggap sebagai sebuah subtansi yang memanifestasikan kebenaran. Namun timbul lagi sebuah pertanyaan apakah sesuatu yang baik itu selalu benar ? Ataukah yang benar harus selalu baik ? Atau ia justru harus baik dan benar?
Pertanyaan-pertanyaan retoris ini seakan selalu bermunculan seperti hantu yang tiba-tiba muncul dan terus bergentayangan menanti untuk muncul lagi.


Sejak zaman dulu pertikaian atau konfrontasi antara 2 pihak selalu dikaitkan dengan sosok protagonist dan antagonis merupakan bentuk kolosal klasik yang mewakili kehadiran kebaikan dan kejahatan itu sendiri. Layaknya Lob dan Geist atau Herz dan Seele kehadiran kebaikan harus selalu didahului oleh kejahatan atau menjadi pendahulu untuk terlahirnya kejahatan yang baru.

Para cendekiawan, pemuka agama, politisi dan bangsawan selalu dianggap sebagai sebuah sumber representatif perwakilan kekuasan ilahi di dunia yang fana ini. Setiap tingkah laku, pemikiran dan ucapan mereka selakunya menjadi sebuah acuan untuk menentukan apa yang definitif baik bagi umat manusia secara totaliter. Dan bilamana suatu harus terjadi disorientasi dari rumusan tersebut maka bukanlah sistem rumusan tersebut dan oknum perumusnya melainkan juga para pelakunya!!!

Banyak orang menjadi baik karena berbagai latar belakang dan alasan. Sama seperti juga para pencari kerja yang bekerja dengan berbagai motif ekonomi dan sosial yang selalu disempitkan menjadi sebuah tuntutan untuk bertahan hidup. Mereka yang baik sesungguhnya merupakan kaum loyalis yang tidak punya pilihan dan hanya mengikuti sistem global yang sesungguhnya merupakan bentuk perumusan diskursif yang unsur historisnya perlu dikaji ulang kembali. Mereka yang tidak kritis untuk mengkritisi apa yang sepatutnya dikritisi, yang tidak punya kuasa maupun kemauan untuk menerima penderitaan dari apa yang seharusnya mereka perjuangkan sejak kelahirannya, dan yang tidak berani melepas kenikmatan dalam sistem yang tentatif karena sudah sekian lama terbiasa akan tentakel koruptif yang melekat di pemikiran dan tindakannya. Pada akhirnya para orang baik tersebut kembali menjadi korban akan kebaikannya sendiri.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade