Paham Binatang

Animal Farm adalah sebuah karya yang berhasil menuangkan kritik tajam ke dalam cangkir fiksi. Di awal buku, kita disajikan dengan keadaan yang dialami para hewan ternak, keadaan tertindas. Di saat tertindas, tentunya, semua dari kita ingin penindasan itu berakhir. Dari sini lahir gerakan-gerakan perubahan yang mengusung keluhuran mimpi, bahkan terdengar utopis. Rencana yang tersusun saat tertindas akan menyentuh hati kelompok yang tertindas dan membuat mereka tergugah untuk mengubah sistem. Seandainya kita bisa sedikit menerawang dari sisi luar sebuah gerakan perubahan itu, kita mulai berpikir, bagaimana mungkin keadaan yang sangat sempurna itu bisa tercapai? Bahkan saat sang penindas telah disingkirkan. Saat sang penindas telah tersingkir, tentunya, akan muncul sosok yang akan menjalankan sistem yang dikehendaki dari kelompok tertindas. Seiring berjalannya waktu, sosok tersebut yang awalnya memiliki pemikiran yang jernih tentang pembebasan kaum tertindas akan cenderung terlena dengan kuasanya atas kelompok itu. Entah bagaimana cara mendefinisikan ini, mungkin bisa dainggap sebagai sebuah siklus kekuasaan. Kebetulan atau memang begitu hasrat manusia, kekuasaan cenderung disalahgunakan. Bisa dikatakan, bagian paling baik dari sebuah perubahan ada di bagian ‘perjuangan’. Di dalam buku Animal Farm, kita disuguhkan tentang betapa kompaknya para hewan ternak ketika bahu-membahu menyiapkan sebuah pemberontakan kepada si pemilik peternakan. Tapi, kondisi akan cenderung berubah perlahan ketika pemberontakan telah berhasil. Kecenderungan segolongan hewan ternak untuk menindas hewan ternak lain dapat kita interpretasikan sebagai kecenderungan manusia untuk menindas manusia lain. Di satu sisi kita tidak dapat memungkiri bahwa manusia memiliki sifat tidak pernah puas atas yang telah dicapainya.

Dalam karya ini juga mengingatkan kita tentang produk hukum yang, seakan-akan, menjadi sebuah permainan bagi mereka yang memiliki tingkat intelektual tinggi. Peraturan terus-menerus direvisi mengikuti kemauan pemegang kekuasaan. Saat ditanya, “Mengapa peraturannya berubah?” Ada saja cara berkilah untuk meyakinkan mereka yang buta hukum. Di sini kita dapat berkaca bahwa kebodohan dapat menjerumuskan kita menjadi bagian kaum tertindas. Hal ini memberi kita gambaran betapa mudahnya untuk menggerakan orang-orang yang tidak punya kemampuan berpikir yang memadai. Cukup diberi doktrin memukau, orang yang tidak mau berpikir akan menelannya bulat-bulat. Hal yang perlu diwaspadai dari kelompok ‘zombie’ ini adalah mereka yang tidak segan-segan merusak kemanusiaan, atau hal lain, hanya karena sebuah doktrin. Ini akan menjadi sebuah bahaya tersendiri dan dapat dengan mudah ‘didayagunakan’.

Karya ini juga memberikan sebuah analogi tentang negara yang memiliki kebijakan politik tertutup. Negara tersebut menutup diri dari berbagai hubungan dengan negara lain. Walaupun pada akhirnya, secara terpaksa, membuka diri terhadap negara lain. Dari sini kita dapat melihat bahwa kita tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga kita sendiri. Untuk itu diperlukan hubungan timbal balik dengan kelompok lain.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.