Thank you for beautiful illustrator from dribbble.com/tubik

The Neverending Story of UX

Jj Ramadhan
Nov 3 · 5 min read

Knowing how people will use something is essential. — Don Norman

Apa yang dikatakan oleh Donald Norman, an author of The Design of Everyday Things membuat ku berpikir bahwa banyak hal disekeliling ku yang membutuhkan jawaban atas beberapa pertanyaan: bagaimana itu digunakan? bagaimana itu dibentuk? akankah itu berguna bagi orang lain?

Saat pertama kali datang ke Jakarta 2009, pandangan ku tak pernah lepas dari gedung — gedung tinggi yang menjulang ke angkasa selama aku melewati tol dalam kota. Pertanyaan ku saat itu “Siapa yang membuat gedung — gedung setinggi itu?” teman SMP ku dari kampung menjawab itu dibuat oleh robot. Saat beranjak masuk jenjang SMA, aku tahu bahwa gedung — gedung itu dirancang oleh arsitek dengan bantuan alat berat seperti tower crane (a.k.a Robot versi teman ku).

Bayangkan sebelum gedung itu terbentuk, ada cerita panjang dan peran para arsitek yang mendesain gedung itu. Sebelum pada tahap desain, Arsitek tentu akan menggali banyak hal yang menjadi tujuan dan harapan si empunya proyek atau client mereka tentang bangunan yang ingin mereka wujudkan, sehingga desain yang dibuat akan lebih sesuai. Sebenarnya “Bertanya sebelum berbuat” adalah hal yang lumrah dan secara sadar manusia sering lakukan, tidak hanya arsitek, dokter atau customer service bahkan anak SD sekalipun, begitu juga dengan designer.


The Term in User Experience Design

Analogi gedung dengan arsitek seperti halnya aplikasi atau web (computer based-product) dengan UX designer. Keduanya sama sama membutuhkan proses sebelum, sedang dan sesudah untuk menciptakan pengalaman yang baik dan menyenangkan bagi pengguna.

User experience (UX) secara sederhana adalah perasaan orang saat menggunakan produk atau layanan. Sementara itu, User experience design (UXD)adalah tentang bagaimana mendesain atau menciptakan pengalaman yang ideal dalam produk atau layanan.

User experience dalam konteks desain tentunya melibatkan para desainer yang secara umum disebut sebagai User Experience atau UX Designer untuk merancang sebuah produk atau layanan dalam hal ini adalah mobile application. User experience designer adalah seseorang yang melakukan investigasi dan analisis tentang bagaimana pengalaman yang akan dialami, sedang dialami dan telah dialami oleh pengguna dari aplikasi yang ditawarkan.

Membuat sebuah aplikasi membutuhkan proses yang tidak mudah, perlu ketilitian, konsistensi dan kreativitas sehingga dengan harapan proses desain tidak akan mendapatkan banyak kendala. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kesalahan dalam proses desain hingga pada tahap prototyping design thinking memiliki keterkaitan erat dengan proses mendesain sebuah produk.

Design Thinking

The Stages of Design Thinking by Nielsen Norman

Design thinking memiliki alur yang terdiri atas 6 tahapan yaitu dimulai dari empathize hingga test.

Empathize

Langkah pertama dalam design thinking yaitu designer berkenalan atau pendekatan dan harus penasaran dengan siapa user yang menjadi partner nya. Sarah Gibbons dalam sebuah artikel berjudul Emphaty Mapping: The first step in design thinking yang intinya membahas 4 quadrants untuk mengembangkan pengetahuan tentang apa yang user Says, Thinks, Does, Feels. Peta empati tersebut digunakan dalam rangkaian design thinking dan dilakukan untuk mengetahui serta menentukan prioritas yang dibutuhkan pengguna. Secara sederhana pada tahap ini kita akan menemukan apa yang dibutuhkan user? apa yang menjadi motivasi? apa yang diinginkan user? apa yang tidak disukai atau kendala apa yang dialami user?Jawaban dari pertanyaan — pertanyaan tersebut didapatkan dari riset dengan metode yang sesuai. Empathize = Research what User Needs.

Define

Langkah kedua adalah menggabungkan dan menjabarkan informasi yang didapat dari hasil riset, kemudian menentukan masalah inti yang ditemukan dan mengidentifikasi masalah tersebut. Ada cara yang bisa membantu design team dalam menentukan core problems dengan membuat priority board dengan scoring hingga menggunakan teknik two lists. Define = State and prioritize what user problem is

Ideate

Setelah kita selesai melakukan riset dan semua pertanyaan terjawab, maka langkah selanjutnya adalah ideating in ideation session yaitu dengan mengumpulkan anggota tim untuk menyampaikan ide apa saja yang dapat berpotensi menyelesaikan permasalahan yang ada. Kebebasan mutlak diberikan kepada siapapun dalam tim untuk mengeksplorasi ide-ide, bahkan ide gila sekalipun.

A clear explaination about “Ideas” by justinmind.com

Tiga pertanyaan di atas dapat menjadi pertanyaan kritis untuk menentukan ide yang memiliki feasibility nantinya. Pada ideation session, tim bisa membuat conceptual model atau flow chart untuk mempermudah ide itu terpetakan dengan lebih mudah dipahami dan mempermudah pada saat prototyping. Contoh dan penjelasan nya bisa dilihat disini. Ideate = gather the ideas for finding the solutions.

Prototype

Langkah keempat adalah prototyping yaitu dengan membuat solusi berdasarkan ide-ide yang telah dipilih dan disepakati ke dalam bentuk yang jauh lebih visible dan taktis. Conceptual model atau flow chart akan mempermudah pada proses ini dimana designers dan engineers akan lebih memahami bagaimana komponen dan fitur tersebut bekerja. Hal yang crucial pada tahap ini adalah membuat wireframe dan mendapatkan feedback dari internal tim. Prototyping memberikan keuntungan tersendiri yakni membatasi biaya pengembangan, menguji konsep desain dan menguji kegunaan suatu produk, penjelasan menarik ini dapat dilihat lebih lengkap dalam Basic of Prototyping. Berikut adalah contoh dalam prototyping:

Login page in low fidelity design (wireframe) by me

Test

Langkah kelima ini adalah menguji desain prototype yang telah dibuat sebelumnya kepada real user. Test biasanya dilakukan guna mengetahui apa yang salah atau yang sudah sesuai dari perspektif user. Testing dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti Usability testing atau guerilla testing. Menggunakan metode test akan membantu designer untuk mem-validasi temuan nya untuk melakukan improvement selanjutnya. Sarah Gibbsons di nngroup.com menjelaskan tentang bagaimana cara melaukan pengujian prototype:

“Put your prototype in front of real customers and verify that it achieves your goals. Has the users’ perspective during onboarding improved? Does the new landing page increase time or money spent on your site? As you are executing your vision, continue to test along the way.”

Seperti yang dikatakan sarah, bahwa testing dilakukan secara berkelanjutan, hal ini dijelaskan dalam ilustrasi yang ada dalam tulisan Rebeca Costa di justinmid.com

Continuing test illustration by justinmind.com

Implement

Langkah implementasi adalah bentuk keberanian kepada pengguna secara luas (publik) melihat, merasakan dan berpendapat tentang produk kita. Memastikan apakah produk yang telah dibuat dapat memberikan experience yang diharapkan?

User Experience Design is a neverending story, there will always improvement to make people happier and easier in their lifetime.

The design thinking process — We can repeat phases by Nielsen Norman

Bagaimana menurut kalian? Jika tulisan ini membantu give some clap dan jika ada ide, saran, pertanyaan atau kritik yang ingin disampaikan please put your comments below. Thank you.

Jj Ramadhan

Written by

“Exploring my ability to manifest infinite ideas and helping people to create bloomy smiles” UX Geek @ Gibby.id | a Full-time Unicorn

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade