One Fine Morning

Nadine sudah lupa kapan terakhir kalinya bangun pagi dengan perasaan yang berbunga-bunga. Di ranjang dan kamar yang dulu pernah beberapa tahun ia tempati. Bersama pria yang sempat ia nikahi. Hasrat untuk kembali pada James belum sedikitpun musnah dari hatinya. Kini, setelah apa yang terjadi semalam, Nadine merasa peluangnya terbentang lebih lebar.

Yang pertama, terjadi hampir sekitar sebulan lalu. Dan mungkin, tidak akan pernah terjadi seandainya Nadine tidak mengambil langkah nekat malam itu. Yang berikutnya, terjadi belum lama ini. Itu pun juga masih karena inisiatifnya sendiri. Menggoda seorang pria tidak pernah menjadi tugas yang sulit untuk Nadine Rawles. Lagipula, mana ada Kucing Anggora yang mampu menolak Ikan Salmon.

Namun yang semalam, jelas sedikit berbeda. James menelponnya untuk pertama kalinya setelah pertengkaran besar mereka di mobil waktu itu. Awalnya hanya pertanyaan tidak penting mengenai kabar dirinya dan Naomi. Saat Nadine bertanya mengapa James menghubunginya, mantan suaminya bilang bahwa Jerez yang menyuruhnya. Di detik itu juga, ia sepenuhnya yakin jika yang dikatakan James merupakan sebuah dusta.

Mendeteksi kebohongan dari seorang James itu mudah. Jika dia memberi jeda lama sebelum menjawab berarti dia sedang memikirkan alasan yang masuk akal. Tapi James lupa jika Nadine terlalu mengenalnya luar dan dalam. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang diinginkan James darinya namun terlalu malu untuk mengutarakan. Harga diri yang tinggi memang merupakan masalah utama pria itu.

Merasa tidak bisa kehilangan kesempatan langka begitu saja, pada penghujung pembicaraan akhirnya ia menawarkan diri untuk datang. James menyambut dengan positif lebih daripada yang sebelum-sebelumnya. Sisanya bisa direka sendiri bagaimana dan mengarah ke mana pertemuan mereka semalam.

Para pria selalu punya satu kebutuhan yang tidak bisa ditahan. James boleh saja menganggapnya sebagai sarana pemuas atau pelarian patah hatinya saat ini. Nadine sudah bertekad akan memenuhi itu. Lalu ketika James mulai lengah dan terbiasa akan simbiosis mutualisme mereka… ia akan menjebaknya. Nadine percaya bahwa hanya padanyalah posisi nyonya rumah ini akan kembali. Bukan pada Emma Si Guru TK. Bukan juga wanita lain.

Rencana demi rencana mulai terbentuk dan tersusun di kepalanya selagi ia mengamati bulu-bulu yang melebati rahang kotak James. Ketebalan yang terkadang mengganggu saat mereka tengah bercumbu. Nadine melarikan dua jarinya ke sana. Menemukan satu bulu hitam yang hampir memutih. Seketika itu juga ia teringat Adrian Rawles. Kalau memang dibutuhkan nantinya, ia tidak akan ragu apalagi malu meminta bantuan dari ayahnya.

Bahkan memanfaatkan bocah yang kini sedang menggerutu di depan pintu kamar itu sepertinya sah-sah saja. “Why am I slept alone in my room?” Sekali dicobanya membuka pintu. Begitu hanya geming yang diperolehnya — ia mengeluarkan komplain lain yang membuat Nadine nyaris terkikik. “The door is locked. Daddy is mean.

Jerez sudah terlelap jauh sebelum Nadine tiba di rumah. Memindahkannya dari kamar utama ke kamarnya sendiri mungkin menjadi gagasan dan ulah James. Tapi mengunci pintu kamar tidak termasuk perbuatannya.

Stop him before he makes another scene, will you?” James bergumam samar sesaat kemudian. Dengan jarak mereka yang setipis selimut, permintaan itu mencapai telinganya sejelas suara Jerez di luar.

Tangan kiri Nadine bergerak pelan menjauhi rahang James. Merambat pelan di dadanya yang ditumbuhi bulu-bulu yang lebih tipis. “Only if you allow me to stay one more night in here.” Suara-suara ketukan pada pintu mulai bermunculan sejak lima detik sebelum ia mengatakan itu.

Pemilik mata biru itu sempat menatapnya sejenak. “Do as you like. But, first — let me get more sleep.

Sebelum berguling ke samping, Nadine meninggalkan jejak basah di dada dan bibir James. Dikenakannya kaus oblong dan celana pendek mantan suaminya dengan cepat. Menghampiri pintu dan memutar kunci sesegera yang ia bisa.

Hal pertama yang disadari oleh Nadine ketika bersehadapan dengan Jerez yaitu ada bekas liur yang mengering di pipi kanannya. Celana bersih tanpa bekas ompolan. Rambut yang kelihatan makin panjang dan perlu dipotong. Serta ikal-ikal yang mencuat di bagian sana dan sini. “Morning, Mommy’s Prince.” Sapanya hangat setelah kedua lututnya mencium lantai parket.

Mommy’s here! Mommy’s here!” Jerez melonjak dan membuat teriakan yang bisa terdengar hingga keluar rumah. Suasana mendadak begitu rusuh. Nadine memekik pelan saat putranya menyergapnya dengan sebuah pelukan. Bocah itu terlalu girang sampai sulit mengendalikan diri. Pipinya yang tembem dan selalu berwarna merah jambu — seketika bertambah merah sewaktu mendapat ciuman.

“Shhh.. shhhh.. Daddy sedang tidur. Jerez jangan berisik.”

Namun Jerez seolah tidak mendengar peringatan itu. “Mami menginap semalam? Seharusnya kita tidur bersama!”

Dan melewatkan seks panas dengan ayahmu? Kurasa tidak, Sayang. “Aku akan menginap semalam lagi kalau kau menemani Mami membuat sarapan pagi ini. Jerez mau?”

Jerez mengangguk kencang-kencang. Saking kencangnya Nadine sampai cemas kalau leher anaknya sewaktu-waktu bisa lepas. “Tapi Daddy harus bangun dan ikut membantu. Lalu kita akan sarapan bertiga.”

Selanjutnya, tahu-tahu saja Jerez sudah menghambur masuk, merayap ke atas ranjang dan berloncatan. Paham jika itu adalah cara terampuh untuk membangunkan James.

Like what you read? Give Adhinda a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.