B E B A S

Sebuah negeri heboh seketika. Bukan karena bom melanda. Ada yang mati, seorang pembesar. Mantan menteri. Sebuah tangkapan yang gampang segampang meraup ikan di kolam bibit. Seorang pria tua, mantan narapidana, duduk di samping mayat sang pembesar. Dengan pistol tergeletak, sidik jari semua tepat, bukti peluru cocok, saksi juga memastikannya. Tersangka tersenyum, seperti hendak pulang.

Ziko, kepala polisi muda, menangani kasus ini dengan cepat. Pengadilan hanya sesaat. Vonispun mendarat. Hanya, dia tak bisa melupakan seringai aneh pria tua yang disebut Bas itu. Dia mengunjunginya di penjara. Duduk di depannya seperti customer service yang setia tersenyum pada pelanggan.

Selama pemeriksaan dan pengadilan, motifnya tak terungkap. Dia hanya mengaku bersalah. Tanpa motif. Pernah dites kejiwaannya, hasilnya Bas sehat, sesehat dirinya.

“Kenapa?” tanya Ziko, “Harus ada alasan dibalik setiap pembunuhan, kecuali pelakunya gila.”

Bas tersenyum. Kerutan di keningnya terlihat berkurang semenjak pengadilan dulu. Ziko menatap jemari Bas yang kurus, seraya mengetuk punggung meja.

Bukannya aku yang sedang menunggu? Ucap Ziko dalam hati.

“Karena dia yang meminta.” Ucapnya ringan.

Ziko mendecak, nyaris kagum karena Bas berhasil meyakinkannya seolah alasannya benar.

“Yang kutahu kalian berteman sampai akhirnya pada umurmu yang ke-30, dia 34, kalian berpisah. Satu ke penjara, satu lagi menuju kursi eselon satu di kementerian.”

“Orang yang berada di sisi sebaliknya, seperti kalian polisi ini, tidak akan mengerti.” Ucap Bas tak tentu arah.

Ziko bingung.

“Bila kau pikir kejahatan muncul karena ada niat dan kesempatan, coba pikir ulang. Seharusnya orang-orang seperti kalian merasakan menjadi seorang pembunuh, pemerkosa, pencuri, koruptor. Cobalah sesekali. Kuyakin kalian ketagihan. Kejahatan itu opium. Risikonya adalah dosis tambahan. Makin kau mencoba dosis tinggi, kau akan menginginkan lagi yang lebih tinggi. Sakau.”

Sunggingan sudut bibir Bas setelah mengucapkannya membuat Ziko berpikir mungkin ada yang salah dengan tes kejiwaannya. Harusnya orang ini tidak lolos tes kejiwaan. Tapi sekali lagi dia mengingatkan dirinya, Bas sesehat dirinya.

“Satu ke penjara, satu lagi ke kursi pejabat. Itu bukan gambaran teman ideal. Apa yang terjadi malam itu?”

Bas menjorokkan badannya hingga dadanya mentok ke bibir meja.

“Bukan pertemuan biasa. Bila kau tahu 30 tahun, hampir 40 malah kami tidak bertemu. Saat itu dia menyambutku dengan riang. ‘Hai, sobat lama! Apa kabar?’ kujawab, ‘aku baik, sebetulnya nyaris bangkrut.’”

Ziko paham sampai di situ.

“Pada waktu itu dia terlihat lelah. Setelah selesai jadi menteri, dia mejadi dewan komisaris di BUMN. Ada yang salah menurutnya. Tapi dia tidak mau membahas apa yang salah. Aku sendiri sudah 30 tahun lebih tidak melihat dunia. Aku berada di dunia lain walaupun masih berpijak di bumi. Sebuah dunia terasing di sebuah dunia yang besar ini. Jadi aku tidak tahu apa yang salah di pekerjaannya. ‘Tapi apa yang tak bisa salah di negeri ini?’ Ucapnya padaku,

Kami duduk di kursi di taman belakang. Rupanya dia tinggal sendiri. Kesetiaan memang meracuni. Setelah istrinya meninggal, anak-anaknya sekolah dan bekerja di Singapura, dia sendiri. Mengutuki nasib. Begitupula aku. Teman lama, terpisah dua dunia. Dia melanglang buana, aku terhinadina.

Mungkin kau pikir aku cemburu melihat kesuksesannya. Tidak. Aku tidak cemburu. Di awali sejak muda berangkat jam 6 pagi, pulang jam 7 malam, seringnya jam 9. Rapat ini itu, berkunjung kesana kemari, di lift turun naik, kantor-rumah bolak balik. Atasan galak, ibu mertua sensitif, teman-teman oportunis. Dia berubah pragmatis.

Penjara tempat yang aneh, pak polisi. Penjara bisa muncul di mana saja, dalam bentuk apapun. Dalam bentuk rutinitas, selaput gaib sosialitas tentang ini yang boleh itu yang tidak, dalam bentuk kesusksesan, dalam bentuk kesepian. Seolah ada yang mengejar, dan jarak yang kaupunya semakin sempit.

Sedang di penjara ini aku bebas-sebebas-bebasnya. Mungkin aku kadang dipukuli, tapi aku tak perlu membayar cicilan. Mungkin aku disiram untuk bangun, tapi setidaknya setelah bangun aku tidak perlu bermacet ria dan tuntutan bekerja. Mungkin aku terbatasi terali besi, namun aku tak perlu berbasa-basi. Kakak tertuaku pernah menasehati; kita sering berjuang demi kebebasan, padahal itu ilusi.”

Ziko tertunduk mengingat cicilan rumah, mobil, bahkan jam tangan, mungkin handuknya juga. Tukang kredit sekarang sudah naik derajat. Tidak membawa panci kemana-kemari, pontang panting menagih. Nafsu cukup diikat oleh selembar kartu sakti. Benar menawari kebebasan, benarkah?

Menjadi polisi baik, setidaknya menurutnya, bukan hal yang menyenangkan. Bisnis keamanan itu mirip teknologi nuklir. Ketika semuanya baik-baik saja, tak ada yang membicarakannya. Ketika bocor, heboh satu negara, bahkan dunia. Lupa berapa banyak teknologi yang menyala dari listrik yang dihasilkannya. Polisi baik seperti akademisi berdedikasi, seperti juga tukang tambal ban jujur. Sebuah jalan sunyi.

Ziko menafaskan udara lalu tangannya menyergap pahanya. Ditemukan di saku kanan sekotak bungkus rokok. Dia menongolkan sebagian, maksudnya hanya satu tapi tiga yang nongol. Dia menatap tak percaya ketika Bas menolak.

“Jadi dia bilang, ‘kau bisa memberiku solusi?’ bayangkan, kau bayangkan mantan menteri menanyakan solusi padaku??? Entahlah, dia menteri yang baik atau yang buruk selama menjabat?”

“Menurutku cukup baik.” Ucap Ziko, yeah, sebuah jalan sunyi.

“Rupanya benar, dia terpenjara statusnya, sebagai menteri baik. Citra adalah penjara. Bersiaplah terkekang saat kau banyak bercitra.”

“Dia punya borok?”

“Setiap orang punya borok, pak polisi. Semua orang.”

Terdengar air menetes dari plafon, tanda talang air sudah tertembus. Gelegar petir bersahutan.

“Aku bilang punya solusi. Tinggal pilih saja. Syaratnya, aku juga ingin bebas kembali. Kami sepakat. Dia mati, aku kembali ke sini. Penjara. Tempatku bebas-sebebas-bebasnya.”

Ziko terdorong kursinya sendiri. Tangannya merayapi bagian dalam jaket hitamnya.

“Kau ingin bebas?” ujar Bas, nyaris seperti suara mistis.

Ziko meletakkan pistolnya di atas meja.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Jodhi P. Giriarso’s story.