Buruh adalah Kita

Buruh melakukan aksi di hari buruh itu biasa tapi oknumnya membakar papan bunga, lalu hujan turun, dan papannya dipakai beramai-ramai jadi payung oleh oknum yang sama jelas menggelikan. Setidaknya membuat saya terhibur. Hal itu terjadi hari ini di hari buruh internasional. Yang kasihan tentu saja buruh yang benar-benar berjuang melalui aksi itu, karena konon aksi tersebut ditunggangi oknum yang ingin melampiaskan kebencian atau kekesalannya karena gubernur DKI yang kalah itu dapat papan bunga hingga ribuan jumlahnya, minggu lalu.

Apapun motifnya tentu itu menyedihkan.

Bapa saya adalah lulusan sekolah menengah yang dibujuk datang ke kota untuk disekolahkan. Tapi sampai di kota ternyata hal itu tidak terwujud. Si pembujuk juga terlalu pas-pasan hidupnya. Akhirnya bapa menjadi pekerja serabutan hingga akhirnya bekerja sebagai buruh di pabrik garment. Sependek ingatan saya, bapa sering sekali membawa pekerjaannya ke rumah. Pekerjaannya, sepertinya, di bagian gudang yang mencatat keluar masuk barang. Kondisi rumah kami seperti keluarga kebanyakan pada saat itu: nggak susah-susah amat tapi jelas tidak berkecukupan. Suka tamasya dalam kota, kadang luar kota. Kami cukup menikmati hidup walau pernah di titik nadir pada tahun ‘98 mamah harus ikut antri sembako murah. Kondisi kami mulai membaik setelah membuka toko kecil di dekat rumah (itupun karena kepepet, bukan inisiatif dari mula).

Saya tidak ingat apakah bapa pernah ikut demo/aksi atau tidak, atau mungkin karena sebagian besar masa buruhnya dihabiskan pada masa Orde Baru sehingga saya tidak sempat tahu bapa terlibat dalam aksi. Tentu berbeda dengan masa setelah reformasi, aksi bisa dilakukan secara terbuka, mengusung banyak massa, tergantung kepentingannya. Andai bapa saya masih jadi buruh di jaman ini, mungkin ia terlibat, atau mungkin juga tidak.

Saya pernah bekerja di pabrik, sebetulnya di laboratorium, tapi pekerjaan saya mengharuskan keluar masuk pabrik, banyak berinteraksi dengan buruh. Dan seingat saya, sangat mudah sekali obrolan kami jatuh pada ketidakpuasan, mengasihani diri, dan pada akhirnya pasrah. Saya tahu berada pada kondisi itu tidak mudah, saya pernah ada di dalam keluarga buruh. Tapi begitu gampangnya jatuh dalam keluh kesah jelas bukan sifat yang seharusnya terus dimanjakan. Berkeluh kesah bukan hanya milik buruh, teman saya yang bekerja di sebuah BUMN, dan kombinasi pendapatan dengan istrinya bisa lebih dari hitungan M dalam setahunpun masih saja mengeluh. Kayaknya mengeluh milik semua orang.

Seorang teman pernah bilang, mengeluh itu hanya menoleransi kelemahan diri. Makin sering dilakukan makin besar tingkat toleransi terhadap kelemahan diri dan pada akhirnya tersadar ketika sudah lemah selemah-lemahnya. Ekstrim? Iya, mungkin.

Ini hanya opini saya, jangan dimarahi, ya?

Menurut saya, sudah bukan waktunya buruh menuntut kesejahteraan karena ukuran kepuasan tidak pernah sama, di kalangan manapun. Satu keluhan akan cukup memantik ketidakpuasan. Peningkatan skill yang harus menjadi prioritas. Soal duit, selalu saja akan terasa kurang.

Saya tahu ini nggak gampang.

Di Islandia, sebuah pembangkit listrik mungkin hanya dikelola oleh segelintir orang. Waktu pertama kali mendengarnya saya nggak percaya. Mana mungkin? Tapi melihat populasi mereka yang sedikit, memang wajar pada akhirnya mereka mengandalkan teknologi untuk membantu pekerjaan mereka. Di negara yang populasinya besar kayak kita, saya pikir akan sulit menerapkan hal seperti ini. Dosen saya pernah bilang, kalau perlu tukang bikin kopi dikasih ke satu orang padahal bikin kopi bisa pakai mesin, tukang sapu ke satu orang yang lain, dan lain-lain.

Jenis pekerjaan mekanik (yang berulang dan begitu-begitu saja) bisa dengan mudah digantikan mesin. Itu kenyataaan pahit bukan hanya bagi segelintir orang. Bukan hanya buruh pabrik, tapi juga kekhawatiran itu melanda pekerjaan yang tadinya dipikir bukan pekerjaan mekanik. Sekarang ini bahkan ada sebuah software yang bisa menulis esai sekelas anak SMA (di negara maju). Menggelikan sekaligus mengkhawatirkan bahwa menulis, sebuah pekerjaan yang katanya intelek, pada akhirnya digantikan oleh mesin. Tinggal menunggu waktu saja. Di tahun-tahun mendatang akan banyak pekerjaan yang hilang karena sudah dilakukan oleh mesin secara efisien.

Di negara berpopulasi banyak ini memang menjadi dilemma. Sebuah pabrik/industri yang tidak menyerap banyak tenaga kerja di tempat di mana ia beroperasi akan banyak mengalami kendala sosial. Sementara orang bikin usaha pasti ingin untung. Di lain pihak manusia juga berkompetisi dengan mesin. Jika pemodal memilih mesin untuk bekerja untuk mereka, kita bisa apa? Jadi, ya, yang jelas skill kita yang harus dinaikkan di atas kemampuan mesin.

Oh, dan tadi saya sempat bingung karena banyak yang mengklaim diri sebagai buruh. Saya buka kamus, ternyata pengertiannya adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Dengan definisi begitu, ya, saya juga termasuk buruh, hehe …

Kecuali mereka yang bekerja untuk Tuhan dan mengharap ridho-Nya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Jodhi P. Giriarso’s story.