Jam Dua

Alarm listrik negara berbunyi sekira denyut yang paling terasa. Kilatan mobil dan motor menderu di dini hari jam dua. Seorang kawan baru ikut menunggu ia tiba. Menunggu ia yang bisa mengatur tempat dalam sebuah kendara. Dinginnya malam menghangat karena kau berjalan di kepalaku, menyalakan impuls yang pernah meredup. Aku duduk di sisi trotoar yang sedang lowong karena PKL sedang terlelap. Sebuah gerobak berhenti. Sampah Indomaret dikoyak demi rupiah yang terserak. Kurapalkan namamu. Nama yang berbeda dari setiap masa. Kau sebentuk coklat panas yang menggebu untuk kunikmati. Di dinginnya malam yang menghangat.

Like what you read? Give Jodhi Giriarso a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.