Memilah informasi sampah

Teror bom yang pernah terjadi di Sarinah, ternyata berbekas cukup dalam buat saya. Bukan tentang serangan bomnya, tapi serangan informasi sampah. Pada saat kejadian itu, saya dan banyak orang terjebak di gedung parkir. Suara ledakan dan tembakan terjadi di depan kami tanpa kami bisa melihatnya, pun membuat kami nyaris tak bisa mengantisipasi apa yang mungkin terjadi berikutnya. Tapi dengan teknologi jaman sekarang seluruh informasi masuk ke kami melalui pesan singkat. WhatsApp, BBM, Line, dan lainnya. Tidak hanya informasi berupa teks tapi juga video yang memvisualisasikan baku tembak yang terjadi.

Sayangnya tidak semua informasi yang masuk itu benar. Sebagian besar justru sampah. Dan sayangnya lagi, saya menduga, inilah yang kini membentuk masyarakat kita. Sebuah jaman yang dibentuk oleh informasi, sayangnya sebagian besar informasi yang kita miliki adalah sampah.

Situasi mencekam ditambah informasi yang tidak akurat, percayalah, memberikan efek yang sangat buruk. Ketidakpastian beredar saat kami berbisik-bisik di bawah todongan senjata polisi. Polisi berusaha menenangkan dengan wajah galaknya. Saya paham todongan senjata mereka untuk mengantisipasi kemungkinan adanya penyusup di antara kami. Dan justru itu membuat situasi kami lebih mencekam lagi.

Lepas dari kejadian itu, masih banyak orang ternyata tetap melakukan pola tersebut. Informasi disebar secara serampangan. Baik informasi penting soal Menteri negara ataupun remeh tentang transfer Pogba, misalnya. Sama saja, remeh atau penting suatu informasi, jika disebar secara serampangan dan diyakini secara massal akan menghasilkan ketidakpastian yang sama. Mungkin cuma magnitude efeknya saja yang beda.

Saya mematikan auto-download di WhatsApp, dan rasanya itu berguna, terlebih saat ini banyak informasi disebar bukan hanya melalui teks tapi gambar juga. Penyebaran melalui screen capture atau meme yang berkata-kata sepertinya diyakini akan menambah validasi sebuah informasi. Padahal, menaikkan nada saat berargumen tidak menambah validasi informasi kita. Posisinya setara. Bukan media penyampaiannya, tetap saja yang dihitung sebagai kebenaran (atau ketidakbenaran) adalah informasinya. Jika sampah, seluruh bangunan argumen kita tentang kebenaran akan runtuh. Entah penting atau remeh yang kita bicarakan.

Saya khawatir pola penyebaran informasi seperti ini masih akan terjadi. Apalagi di jaman sekarang saat informasi sangat mudah dibagikan. Dan sialnya informasi itu seringkali ditelan mentah-mentah, kadang diamplifikasi oleh media yang punya pengaruh besar di masyarakat. Makin tolollah masyarakat kita.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya lebih pintar, tapi bahwa kita harus lebih berhati-hati memperlakukan informasi adalah sebuah keniscayaan agar menjaga akal kita tetap sehat. Setidaknya, kita bisa tetap terima informasinya (yeah, kalau sudah dibaca atau dilihat informasi itu tak begitu saja bisa dihapus dari memori kita, bukan?) tapi penggunaan informasi itu untuk melakukan penilaian bisa diperkaya oleh informasi lain sebagai verifikasi.

Jatuhnya, saya selalu memperlakukan informasi sebagai sampah hingga terbukti sebaliknya. Itu tak terhindarkan. Persilakan semua informasi masuk, jika tak memungkinkan untuk menolaknya, pilah dan bandingkan seluruh informasi yang kita punya, pilih yang kita percaya.

Setiap orang bisa mendapatkan jumah informasi yang sama, tapi mengenai yang dipercaya bisa membentuk opini kita. Dalah hal ini pengujian sudut pandang menjadi kunci. Jika hanya satu sudut pandang kita gunakan, kita tak ubahnya kuda yang diberi kacamata.

Ribet banget, memang, jadinya. Tapi rasanya itulah tantangan di jaman sekarang. Memilah berlian di antara sampah agar kita tidak ikut-ikutan menjadi sampah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.