Saya mematikan fitur auto-download. Itu menarik untuk dilakukan . Cobalah!
Di Medium, banyak judul postingan begitu, saya cuma pengin coba.
Saya melewatkan euforia BBM karena memang tak pernah memiliki BB. Sekarang BBM sudah ada di Android, saya buat akunnya, tapi uninstall lagi aplikasinya. Saya pikir WhatsApp saja sudah cukup untuk komunikasi teks.
Tapi apa yang terjadi?
Banyak orang ingin melucu atau menjadi penghibur sehingga banyak sekali meme yang lucu hingga menyebalkan. Kemudian yang lucu saja menjadi membosankan karena terkadang bukan sekali dua kali muncul, seolah meme itu bersirkulasi di saluran media sosial. Terjadi looping, dan itu bodoh sekali.
Saya tergabung dalam sedikit grup ngobrol. Paling cuma beberapa saja, tapi ‘setoran’ meme datang hampir setiap hari. Beberapanya memang lucu, tapi seperti saya tulis sebelumnya, setelah berulang kali, meme itu jadi membosankan. Ada pula yang sangat informatif, tak jarang yang sampah. Dan yang paling menyebalkan adalah meme bokep atau setidaknya menjurus bokep baik secara visual ataupun tekstual. Saya masih horni lihat perempuan telanjang jadi sebetulnya postingan begitu juga nggak bermasalah buat saya. Istri saya juga langsung mengerti pas saya bilang, “Biasa dari grup bapak-bapak.” Haha … iya, begitulah adanya bapak-bapak dalam obrolan grup, banyak saling bertukar gambar tak senonoh. Entahlah apakah ibu-ibu juga melakukan hal yang sama di grupnya masing-masing?
Yang menjadi masalah adalah jika anak saya sampai melihatnya. Saat main atau jalan-jalan saya sering mengambil foto anak saya. Nah, tak jarang ia ingin melihat hasil fotonya. Jika ia menelusuri melalui Gallery, bisa saja ia menemukan meme-meme itu. Belum sampai kejadian, sih, tapi saya khawatir suatu saat itu terjadi lalu ia bertanya hal yang sulit saya jawab. Saya nggak mungkin meresponnya seperti saya merespon pertanyaan istri.
Makanya, sebelum itu terjadi, saya mematikan fitur auto-download untuk video dan gambar. Untuk audio, sih, nggak karena menurut pengalaman nggak ada suara tak senonoh yang dibagi oleh kawan-kawan saya. Kalau ada videonya, ngapain cuma berbagi suaranya saja?
Setelah mencobanya beberapa minggu, ternyata itu sangat berguna. Saya bisa memutuskan gambar mana yang mau saya lihat. Kalau foto kerjaan, jelas saya unduh karena itu penting. Sebagian besar yang ada dalam hidup kita adalah pengalih perhatian. Dan saya rasa kita memang perlu memilah mana hal yang perlu kita perhatikan dan mana yang perlu diabaikan. Mematikan fitur auto-download menjadi salah satu pilihan untuk menentukan hal tersebut. Dengan itu saya tidak tergoda untuk mengomentari meme. Waktu yang digunakan untuk membaca WhatsApp jadi lebih efisien. Saya memang masih mencari cara untuk tidak terlalu tergantung pada gadget, cara ini mungkin bisa jadi salah satu jawabannya. Akui saja, banyak sekali pengalih perhatian di gadget pintar kita.
Jadi sepertinya walaupun teknologi membuat segalanya serba cepat, tapi tetap saja kita (baca: saya) tidak mampu melakukan lebih banyak hal yang berguna/produktif. Memang jadi banyak yang bisa dilakukan, tapi apakah itu berguna atau menjadi hal yang esensial dalam hidup kita? Kita bisa berdebat panjang soal itu tapi satu hal yang mungkin kita sepakati bersama bahwa beberapa hal dalam hidup kita memang perlu diabaikan karena tidak berkaitan langsung dengan kualitas hidup kita. Mengenai hal yang perlu diabaikan, jelas itu tergantung pribadi, profesi, atau kepedulian masing-masing.
Jika ada yang punya saran lain agar saya tidak terlalu tergantung pada gadget, saya akan sangat senang membacanya di bagian komentar ☺