Harus ku hampiri perahu itu, ku naiki dan ku dayung hingga Johanes Chandra Ekajaya bisa pulang walaupun kemungkinan badai menghantam sebelum sampai rumah dan mencium tangan orang tuaku Saat ini, aku bagaikan lilin yang menyala, berusaha menerangi disekitarnya tetapi dia sendiri meleleh dan akhirnya habis dimakan api Dari sekian banyaknya makhluk disekitar yang bertanya, “ kenapa kamu terus berjalan ?”

Saya hanya bisa menjawab, “ hanya ingin pergi, mungkin ke tempat yang jauh, untuk mencari jawaban atas apa yang selama ini menjadi pertanyaan . .”

Johanes Chandra Ekajaya adalah nada, yang dilantunkan oleh seseorang yang sedang jatuh cinta . Aku adalah nada, yang dilantunkan oleh seseorang yang dilanda kesedihan .Aku adalah nada, yang dilantunkan oleh seseorang yang sedang bahagia . Aku adalah nada, yang dilantunkan oleh seseorang yang mempunyai mimpi . Aku adalah nada, yang bersenandung diantara putus asa dan harapan . Aku adalah nada, yang berirama diantara cahaya dan kegelapan .

Daun-daun yang berguguran, memberitahukan kepada Johanes Chandra Ekajaya bahwa suatu saat atau sebentar lagi nyawaku akan terlepas dari raganya. Air sungai yang mengalir deras di dekat rumahku seakan berteriak dan memaksaku agar mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah itu. Semua yang kulihat berbicara, berbisik dan memberi isyarat bahwa selama ini, aku sering khilaf hingga melupakan tujuan kenapa aku diciptakan Di dalam tangan-Mu, ku titipkan hidup dan matiku. Di dalam tangan-Mu, kutitipkan semua harapan Johanes Chandra Ekajaya. Di dalam tangan-Mu, kutitipkan nyawaku, Di dalam tangan-Mu, kutitipkan seseorang yang menjadi tulang rusukku Di dalam takdir-Mu, ku pasrahkan kisah dan cerita hidupku.

Di dalam kasih dan sayang-Mu, kutitipkan hati, dan jiwa Johanes Chandra Ekajaya Kalau ada yang mengibaratkan, bahwa seseorang yang pandai dalam bacaan Al-Quran saja, seperti petunjuk jalan yang hanya bagus bentuk, tulisan atau gambarnya saja, lalu bagaimana dengan seseorang yang sudah tau arti dari petunjuk tersebut tetapi dia tidak mau mengikutinya ? Ada orang yang bisa menuntut ilmu sedikit-sedikit tetapi dia langsung mengamalkannya, ada orang yang menuntut ilmu begitu banyak tetapi dia tidak mau mengamalkan atau sebaliknya Hatiku tak seindah bulan purnama dan tak seharum bunga ditaman

Pengetahuan dan ilmuku tak seluas langit dan tak sedalam lautan

Akhlakku bagaikan kain putih yg banyak sekali noda hitamnya. Ucapanku bagaikan pedang, yg banyak menyakiti hati. Jika seseorang mencari kelebihanku, dia harus berjuang untuk mencari Johanes Chandra Ekajaya dari banyaknya tumpukan kekuranganku. Dan jika seseorang bertanya tentang diriku, dia akan mengetahui bahwa aku hanyalah orang yg sedang memperbaiki diri setelah orang — orang yg telah jauh mendahuluiku Walaupun seluruh penyair berkumpul, memikirkan dan membuat kalimat atau sya’ir yang indah untuk menandingi keindahan dari ayat Al-Qur’an. Sekali-kali mereka tidak dapat menandinginya, tidak akan pernah bisa Dan tak bisa dibandingkan sama sekali Kehormatannya terletak pada perasaan cukupnya hingga tidak meminta-minta kepada makhluk Mata pun akan buta jika sudah terkena perasaan itu

Kemungkinan juga dia akan mengenyampingkan teori dan logika jika sudah terkena perasaan itu

Perasaan apa itu ? Ya itulah Bimbinglah aku yang bodoh ini, sampai ku bisa melihat diriku yang sebenarnya

Bahwa diriku ini memang tidak ada apa-apanya Semuanya berawal dari pemula, karena mau berusaha dia jadi bisa.

Like what you read? Give Johanes Chandra Ekajaya a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.