Wahai Sobat Kafirku

Kalian tahu apa yang terjadi sekarang merupakan manifestasi sikap yang kalian budayakan sekian lama? Kalian tahu bangkitnya benih-benih fasisme di negeri ini tak lepas dari sikap yang kalian pertahankan? Kalian tahu meningkatnya sentimen antar agama dan ras belakangan terpicu oleh ketidakpedulian kalian?

Kalian nyaman menjadi minoritas yang terinjak, enggan bersuara apa lagi melawan, kalian terlalu bangga menjadi si bungkam yang menerima ketakutan layaknya jalan hidup. Mengisolasi diri dari wawasan sosial dan politik, membatasi gerak dengan terpaku pada sejarah kelam masa lalu tanpa berusaha mengubah apapun.

Saya sangat terbiasa berhadapan dengan kalian, dari bangku TK hingga lulus SMA. Keapatisan yang kalian pertahankan turun menurun, sikap apolitis yang kental, wawasan sospol yang kalian anggap tabu. Kalian berdalih tidak akan diberi ruang untuk berekspresi, tidak, kalian hanya malas dan bangga ditindas.

Bulan ini, 19 tahun lalu, kalian diperlakukan tidak manusiawi di tanah air kalian sendiri. Kalian dianggap musuh bagi negara kalian sendiri, kalian dicaci, diancam, dihina dan dilecehkan. Luka itu masih terlihat sampai hari ini dan saya paham itu tak akan hilang berapapun banyaknya waktu berlalu.

Namun, sampai kapan? Menghindar tidak akan membuat lukamu sembuh barang sedikitpun, yang ada hanya menunda hadirnya luka yang baru. Bangkitlah. Rebut hakmu, ambil bagianmu dalam kehidupan berenegara ini, kalian bagian dari NKRI tak peduli apapun etnis atau agamamu.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk berkontribusi, bukan hanya dengan manjadi pejabat publik. Sesederhana menyuarakan opinimu lewat tulisan di media sosial, menulis blog, atau sekedar terus menerus memperbaruhi informasi di kepalamu. Menunjukan posisimu di tengah masyarakat dengan ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial. Sudah bukan saatnya kalian (kita) untuk diam dan masa bodo dengan negara ini, jangan biarkan perongrong kebhinekaan kembali berkuasa.

Kita semua tahu suasana seperti apa yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Hukum yang bisa dijadikan alat kekuasaan, hukum yang tunduk pada tekanan massa, hukum yang memihak pada yang kuat, hukum yang tidak dapat dipercaya. Di tengah riuh gerakan intoleransi dan anti-kebhinekaan, kita harus berani berdiri tegak dan melawan.

Kalian yang sering disebut kafir. Kalian yang paling banyak dinistakan tanpa menuntut balik. Kalian yang dihina dan dianggap penumpang di negara sendiri, bersuaralah. Bangkitlah. Jangan takut, kalian tidak sendiri. Jangan biarkan kejadian 19 tahun lalu terulang lagi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.