A Picture is Worth A Thousand Witness

Tidak terhitung berapa penghargaan yang sudah diraih oleh The Uppermost, salah-satu brand international wedding photography yang berada di Jakarta. Sebut saja Top 10 Photographers (2014) versi WPPAsia (Wedding & Portrait Photography on Asia), ISPWP (International Society of Profesional Wedding Photographers) Awarding Spring 2014, dan Junebug Weddings World’s Best Honorable Mention 2014, merupakan sebagian kecil dari deretan penghargaan bergengsi yang mereka terima.

Tito Rikardo

The Uppermost didirikan oleh dua orang sahabat, yaitu Sigit Prasetio dan Tito Rikardo, dan berikut adalah interview dengan salah-satu foundernya, Tito Rikardo.

Apa yang membuat Anda memutuskan untuk berprofesi sebagai fotografer?
Setelah gue lulus, gue ngelamar di berbagai tempat. Hampir dua tahun gue nganggur gak dapat kerja. Sempat bikin usaha game center sama temen-teman tapi kandas. Perusahaan pertama yang terima gue berkat refrensi dari om gue, dan kerja di perusahaan tersebut selama 3 taun. Dalam perjalanannya gue memang gak cocok kerja kantoran, cuma mau usaha juga bingung, karena modal gak punya.

Terus one day gue ketemu temen-temen sewaktu SMA, salah satu dari mereka motret. Gue tertarik dan beli kamera saku buat belajar. Tiga bulan berjalan gue rasanya tiba-tiba mau jadi fotografer. Waktu itu gue hitung-hitung pesangon gue kalau berhenti kantor, ternyata cukup buat beli kamera, lensa standar, dan tripod.

Diantara temen-teman, gue yang paling telat belajar foto. Gue belajar secara otodidak dari buku-buku di Gramedia. Trus gue berpikir, foto bukan tentang teknik, tapi soal cara melihat sesuatu. Nah jadinya gue belajar secukupnya aja tuh tentang teknis. Sementara temen-temen gue doyan hunting, gue research ala-kadarnya buat style dan branding. Sampai sekarang juga gue gak tahu banyak teknis. Secukupnya aja.

Tapi kenapa foto?
Cita-cita gue kepengen jadi arsitek, tapi gagal karena waktu SMA gak bisa masuk IPA. Jadi sewaktu liat foto gue seperti menyusun gambar — Visual arrangement. Dan foto itu buat gue filosifis. Dulu gue gak mikir sih foto bisa jadi mata pencaharian yang ngidupin keluarga, karena jaman dulu kan studio-studio besar dengan perlengkapan mahal yang berjaya. Sedangkan gue cuma modal “dengkul”, karena kalo motret sampai jongkok-jongkok pakai dengkul hahahaha…. Perlu 2 tahun sampai pada posisi bisa dibilang ternyata gue gak salah pilih profesi.

Siapa orang yang paling berpengaruh dalam profesi Anda?
Sebelumnya gue motret apa saja, sampai pada tahun 2009 memutuskan motret wedding saja karena di tahun itu gue dikasi tahu temen ada wedding photografer orang Indonesia yg tinggal di LA dan dia masuk dalam Top 10 American Photo. Namanya Erwin Darmali dan Ray Soemarsono, founder dari Apertura. Mereka 2 orang Indonesia di LA yang partneran persis kayak gue dan Sigit.

Saat itu gue kayak punya tujuan baru. Yang sebelumnya motret cuma mikir dapat duit, switch jadi motret itu karir. Bisa naek level, bisa juara dunia juga. Kami harus bisa kayak mereka.

Kami yakin kalo tiap orang hebat itu punya influence, jadi kami cari tau lah dua orang tersebut kapan balik ke Indonesia. Kami mau kenal in person seperti apa sih karakter juara. Akhirnya setahun kemudian ketemu lah kita. Makin semangat setelah ketemu idola.
Setelah itu gue dan Sigit menempuh jalur kompetisi untuk menaikan level. Sayangnya yang d luar sana udah biasa, tapi di Indonesia d cemooh, “Ngapain juara-juara tapi order seret?”. Cuma kita pikirnya ini investasi, jadi efeknya longterm.

Sekarang kami dan Apertura malah jadi teman, dan sempat beberapa kali foto bareng dengan mereka.

Jadi ini cocok dengan ungkapan, “work until your heroes become your rivals” ya.
Hahahaha gak rival juga sih.

Kalau dalam hidup, siapa orang yang paling berpengaruh dalam hidup?
My dad. Dia figur yg gue liat dari kecil menghadapi semua masalah dengan biasa aja. Punya banyak duit biasa aja, gak punya apa-apa biasa aja. Di jahatin orang gak bales, suka bantuin orang walaupun sering dibohongin karena terlalu baik.

Peristiwa apa yang paling berkesan dari bokap?
Bokap gue gagal bisnis di usia dia 50++ karena ditipu orang, dan itu menyeret kami sekeluarga sampai titik minus. Bokap gue gak nyerah untuk bangkit. Dia meeting-meeting naik bis, padahal ada jantung. Gak malu dia. walaupun usahanya gak kunjung berhasil, sampai meninggalnya bokap pas dia lagi meeting presentasi.

Nilai-nilai tersebut yang gue pegang dan bawa hingga sekarang. Bahwa hidup dijalani dengan sewajarnya saja. Jangan jadi orang yang bisa diukur, yang keadaan kita dipengaruhi oleh sekitar kita. Itu yang ingin gue saksikan ke anak gue.

Bicara mengenai kesaksian, apa arti Living Witness bagi Anda?
Wah berat ini hahaha… Bersaksi = menceritakan. Jadi cerita yang hidup, yang benar-benar kita alami. Seperti cerita bokap tadi, hidup yang menginspirasi karena nilai-nilai hidupnya. bagaimana kita menjalani hidup agar tindakan tersebut menjadi kesaksian, jadi bukan dari katanya. 
Saksi adalah orang yang benar-benar mengalami. Kita kadang sulit untuk bersaksi kalau kita dipikir gak pantas (karena tidak mengalaminya.red), atau gak ada wadah untuk bersaksi.

Bersaksi perlu wadah? Bagaimana maksudnya?
Iya. Karena kita hanya bisa bersaksi kepada orang yang percaya dengan kita, dan orang yang percaya dengan kita tentu adalah orang-orang yang dekat dengan kita. Makanya melalui pekerjaan gue sih coba bersaksi. Gue percaya kita smua pasti mampu untuk bersaksi melalui hidup yang bisa di lihat orang.

Punya pengalaman menarik mengenai living witness?
Ada. Hal simple sih. Beberapa bulan lalu gue dapat message dari istri salah satu fotografer yang belajar di workshop gue. Yang dia komen bukan foto wedding gue, tapi dia liat foto-foto di gereja. Ternyata foto-foto itu jadi pengaruh positif buah kehidupan dia dan suaminya.

A picture is worth a thousand words… Mungkin kalau jaman dulu sudah ada kamera, bible akan berisi foto-foto ya. 
Hahaha….

Kan banyak tuh orang Kristen kalau sudah ngomong soal bersaksi mendadak jadi alergi. Menurut Anda kenapa?
Menurut gue mungkin karena mereka berpikir bersaksi itu teriak-teriak Kristen atau ayat firman, itu yang bikin mereka alergi. Seharusnya bersaksi itu kita mengerjakan hidup kita dengan seksama sampai di satu titik orang wonder, kenapa yah dia gitu. Brarti kan (pada titik tersebut) sudah disaksikan dan dilihat orang, dan kita tinggal menceritakan semua bukan karena kita, tapi Tuhan. Yang dilihat orang kan yang bersinar banget. Makanya dalam doa gue selalu minta Tuhan biarkan lah aku bisa bersinar sehingga org bisa lihat kalo terangnya itu dariMu.

“…Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” — Yohanes 10:10.
Karena kalau tidak berkelimpahan, orang disekitar kita tidak dapat melihat hidup tersebut.

Nb. Tito Rikardo (@titorikardo) adalah Nikon Indonesia Official photographer partner, founder dari the Uppermost, dan saat ini melayani di iShooters Jakarta (IFGF Jakarta Photographers).