EKONOMI PEDESAAN:PENGELUARAN KONSUMSI KEBUTUHAN DASAR SUATU DAERAH YANG DIPENGARUHI OLEH FAKTOR-FAKTOR KETAHANAN PANGAN.
Oleh : Yoga Pramudhiya
Suatu daerah terutama wilayah pedesaan yang notebene memiliki sumber daya alam melimpah dan menjadi penyortir kebutuhan dasar untuk wilayah kota, tetapi harus melakukan pengeluaran terhadap kebutuhan konsumsi untuk bahan pokok atau disebut juga sebagai pemenuhan bahan kebutuhan dasar.
Tentunya suatu bahan dasar memiliki usia ketahan pangan yang menjadi masalah utama diseluruh dunia. Dalam hal ketahanan pangan akan berkaitan dengan pengeluaran konsumsi yang tentunya menjadi hal mendasar bagi seluruh manusia untuk dapat bertahan hidup dan untuk kelangsungan hidup.
Maka dalam hal ini pengeluaran tidak hanya menjadi hal yang independen yang berarti tidak dipengaruhi dengan faktor-faktor lain dalam kehidupan. Disini pengeluaran bersifat dependen yang mana dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti halnya pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga desa, kondisi ketahanan pangan rumah tangga desa maupun faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan rumah tangga desa.
Berdasarkan studi menunjukan bahawa total rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk mengkonsumsi makanan sebagai pemenhan kebutuhan dasar manusia yaitu pada kisaran angka 56,4%, sedangkan untuk wilayah pedesaan total konsumsi lebih tinggi dengan kisaran angka rata-rata 113,42% dengan proporsi untuk pengeluaran makanan dengan nilai 73,15%. Dapat kita ambil kesimpulan bahwa ketahanan pangan suatu daerah dipengaruhi oleh banyaknya daerah tersebut dalam hal konsumsi energy dan konsumsi protein.
Dalam hal kemampuan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga pedesaan dapat dilihat dari karakteristik rumah tangga desa tersebut seperti usia kepala rumah tangga tersebut yang mana tergolong usia yang produktif atau tergolong usia yang non-produktif, kemudian tingkat pendidikan yang ditempuh oleh suatu kepala keluarga tersebut, dan yang terakhir yaitu ukuran kepala rumah tangga yang mana menyangkut hal bagaimana kondisi kepala keluarga tersebut, tergolong keluarga menengah atas atau menengah bawah.

gambar 1 | karakteristik kepala keluarga
Dalam kegiatan rumah tangga tentunya ada kegiatan produtif dengan berbagai macam profesi yang sesuai dengan wilayah geografis pedesaan yang mana menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah tangga pedesaan.
Maka pendapatan disini berfungsi untuk melakukan pengeluaran konsumsi terhadap makanan yang relatif lebih tinggi daripada pengeluaran konsumsi pada bukan makanan. Setelah itu terdapat juga bagaimana konsumsi total konsumsi bulanan yang dilakukan rumah tangga pedesaan.

gambar 2 | pengeluaran konsumsi makanan dan bukan makanan
secara spesifik grafik diatas menunjukan pengeluaran konsumsi yang dilakukan oleh rumah tangga desa terdiri atas dua klasifikasi yaitu terdiri atas pengeluaran makanan dan non makanan. Maka jika dijumlah rata-rata dalam tiap bulan antara pengeluaran makanan dan non makanan rumah tangga desa menunjukan hasil angka Rp.1.251027.891,00. Sedangkan jika dilihat dari pengeluaran makanan menunjukan angka Rp.706.507.058,00 yang jika dibulatkan pada persen maka menunjukan angka 56,4% dari total keseluruhan pengeluaran tiap tahun. Untuk pengeluaran non makanan berkisar pada nilai Rp.544.520.833,00 atau setara dengan 43,6%. Dapat diambil kesimpulan bahwa proporsi rumah tangga desa tersebut dalam pegeluaran konsumsi lebih besar pemenuhan makanan daripada pemenuhan non makanan.
Jika pengeluaran konsumsi makanan lebih tinggi maka semakin rendah tingkat kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan untuk makanan.
Dalam hal ini kecukupan energy dapat diraih pada taraf nilai 107,94% dengan proporsi pengeluaran konsumsi makanan 47,88%, sedangkan realitanya energi dicapai pada tingkat 69,43% pada proporsi pengeluaran makanan 46,51% sedangkan hal tersebut jauh daripada ekpetasi yang diharapkan untuk mencapai kecukupan energi rumah tangga desa. Hal mendasar tersebut dipengaruhi oleh pendapatan perbulan rumah tangga desa, terutama dalam pekerjaan kepala rumah tangga untuk menghidupi masing-masing keluarga.
Maka untuk konsumsi protein negative di usia kepala keluarga dan tidak signifikan terhadap konsumsi energy. Hal tersebut karena usia memiliki pengaruh negative terhadap produktivitsd kerja, yang berarti semakin tinggi usia seorang semakin rendah produktivitas kerjanya. Sedangkan dalam hal jenis kelamin rumah tangga desa memiliki ketahanan pangan yang cukup dikarenakan 24% wanita dan sisanya 74% laki-laki sebagai kepala keluarga. Selain itu, terdapat anggota keluarga yang memilih untuk memiliki profesi diluar daerah yang mana menambah pendapatan rumah tangga desa, sedangkan untuk rumah tangga yang tidak memiliki anggota keluarga yang berprofesi diluar daerah memiliki ketahanan relatif lebih rendah.
Sedangkan untuk keluarga yang memiliki pendapatan tinggi menurunkan konsumsi beras untuk memenuhi permintaan kualitas, dan lebih cenderung melakukan pengeluaran konsumsi terhadap makanan cepat saji.
Referensi: http://jurnal.unmuhjember.ac.id/index.php/AGRIBEST/article/view/1629/1359