KOMUNITAS PENCANDU BUKU, Dari Virtual Ke Dunia Nyata

Membaca buku, mungkin adalah kegiatan individual yang bisa dilakukan sendirian di rumah, di taman, atau di mana pun. Seperti mimpi saya ingin membaca buku di bawah pepohonan yang rindang sambil tiduran di hammock yang sampai sekarang belum kesampaian. (cek posting sebelumnya)

Namun, tidak ada salahnya juga membaca buku bersama komunitas, atau berkumpul bersama para pecinta buku. Salah satu komunitas yanng menarik perhatian saya adalah Komunitas Pecandu Buku di Bandung.

Berbekal dari penjelajahan saya mencari komunitas buku yang menarik, ternyata ketemu salah satunya adalah Komunitas Pecandu Buku tersebut.

Komunitas Pecandu Buku meresmikan keberadaannya pada 1 Januari 2016. Komunitas yang berdiri di Bandung itu mengajak siapapun yang ingin menjadi anggotanya dengan syarat mengulas buku atau menghibahkan buku ke perpustakaan komunitas tersebut (sumber : pecandubuku)

Mengintip dari situs Komunitas Pecandu Buku, di sana terdapat satu postingan yang mengarahkan untuk masuk ke halaman ‘tentang kami’ untuk bisa tahu bagaimana cara bergabung.

Dalam situs itu tertulis, komunitas pecandu buku adalah kumpulan para penggiat, penggila, dan pecinta buku yang bukan hanya senang membaca, tetapi juga ingin membudayakan anak muda Indonesia untuk gemar membaca.

Dari situs itu juga dituliskan awalnya komunitas itu terbentuk dari sekedar grup pesan instan virtual hingga muncul keputusan untuk merombak garasi rumah menjadi perpustakaan komunitas pencandu buku, di sana menjadi tempat para pecinta, penggila, dan penggiat buku bisa membaca sepuasnya tanpa membayar sepeser pun.

Untuk bergabung menjadi komunitas pecandu buku pun sangat mudah, ada dua cara agar kalian bisa masuk ke dalam komunitas tersebut.

Pertama, kalian ajukan judul ulasan buku ke Line dengan ID @awangesti atau lewat mengirimkan surat elektronik ke emailpencandubuku@gmail.com. Pengajuan judul ulasan dilakukan demi mencegah ulasan ganda, ketika ajuan judul ulasan kalian aman, baru mulai berlanjut ke step selanjutnya.

Setelah judul ulasan dirasa belum pernah ditulis, kalian pun bisa menuliskan ulasan dengan syarat tidak boleh menyalin karya orang lain atau harus pemikiran sendiri, tidak mengandung SARA, dan khusus untuk buku fiksi tidak boleh mencantumkan endingnya.

Ulasan yang sudah disetujui pun akan diposting pada halaman instagram @pecandubuku . Dalam pencantuman itu, nama kalian yang sebagai penulis pun akan dicantumkan sebagai pengulas.

Saya pun langsung melirik ke akun instagram komunitas pecandu buku tersebut, ulasan teranyar itu ditulis oleh @fasfashan yang mengulas buku berjudul Tuhan Maha Asyik karya Sudjiwo Tedjo dan Dr. M.N Kamba yang diterbitkan oleh Imania.

Lalu cara Kedua, untuk bisa bergabung dengan komunitas buku adalah dengan melakukan hibah buku. Buku yang kalian hibahkan disebut akan menjadi aset perpustakaan Pecandu Buku yang bisa dibaca oleh anggota komunitas lainnya.

Namun, buku yang dihibahkan ada beberapa syarat, antara lain, bukan buku pelajaran, bukan buku tulis, harus memiliki ISBN, bukan buku bajakan, dan layak baca [maksudnya, tidak dicoret-coret dan halaman harus lengkap].

Anggota komunitas Pecandu Buku sedang melakukan kumpul anggota. (Sumber : pecandu buku)

Penggagas

Lalu, siapa penggagas komunitas pecandu buku tersebut, saya pun langsung menjelajah lebih dalam lagi mencari sang foundernya.

Dari Brilio.net disebutkan penggagas dari komunitas pecandu buku itu ada dua orang yakni, Fiersta Besari dan Aulia Angesti. Awalnya, Aulia membuat postingan soal buku di akun LINE, lalu iersta mengajaknya untuk membentuk komunitas pecandu buku tersebut.

Sejak pembicaraan pada aplikasi pesan instan itu, mereka berdua pun memutuskan untuk membuka komunitas itu yang resmi diluncurkan pada Juli 2015.

Dari sumber lain disebutnya, Fiersta sebenarnya sudah memulai kegiatan komunitas buku lewat keisengannya dengan membuat akun instagram yang berisi buku apa saja yang dibacanya.

Tujuannya, agar orang yang melihat akun instagramnya itu tahu apa saja buku yang sudah dibacanya. Setelahnya, dia pun mengajak kerabat lainnya untuk mengulas buku yang sudah dibaca sehingga lama-kelamaan pun semakin banyak orang yang mengulas buku yang dibaca.

Dari situ, dia disebut mulai ingin membuat status keanggotaan komunitas pecandu buku.

Seiring perkembangannya, komunitas Pecandu Buku ini ternyata tidak haya untuk anak muda Bandung saja, tetapi dari Grup LINE tampak anggotanya berasal dari seluruh Indonesia.

Sampai sekarang [terbitnya artikel di Brilio.net pada Januari 2016], sudah terdapat 135 anggota di badung dan jumlah followers mencapai 11.000. Pencandu buku juga telah memiliki perpustakaan sejak 1 Januari 2016 di Buah Batu, Bandung yang dikelola oleh para anggotanya sendiri.