N.H DINI, Mencipta Karya dari Pengalaman dan Kepekaan

Jono Swara
Aug 26, 2017 · 4 min read

Industri penerbangan telah mempertemukan Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau N.H Dini dengan jalan hidup dan jodohnya.

Ketika bekerja di Garuda Indonesia pada 1956 atau umurnya yang ke-20, dia rajin menulis cerita pendek (Cerpen) yang akhirnya diterbitkan dalam sebuah buku kumpulan Cerpen berjudul Dua Dunia.

N.H Dini dalam sebuah acara apresasi Seni pada 28 Februari 2014. (Sumber : Pos Sore)

Selain itu, N.H Dini muda yang berprofesi sebagai pramugari di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang penerbangan itu bertemu dengan jodohnya yakni, Yves Coffin, seorang diplomat asal Prancis.

Mereka pun menikah pada 1960, pasangan itu pun memiliki dua anak yang bernama Marie-Claire Lintang Coffin dan Pierre-Louis Padang Coffin.

Pernikahannya dengan seorang diplomat pun memaksa N.H Dini untuk bersedia menemani suaminya kemana pun dia ditugaskan.

Sastrawan perempuan Indonesia ini pernah diboyong suaminya ke Jepang. Petualangannya ke negara lain pun tidak membuat hobi menulisnya hilang, malah sumber ide tulisannya semakin banyak seperti pengalaman hidup di berbagai negara lain.

Seperti ketika di Negeri Samurai itu, N.H Dini pun membuat kisah tentang kehidupan perempuan dengan setting negara bekas penjajah Indonesia tersebut. Tulisannya itu pun diberi judul Namaku Hiroko yang terbit pada 1977.

Setelah tiga tahun di Jepang, N.H Dini pun mengikuti suaminya berpetualangan ke Pnom Penh, ibukota Kamboja. Setelah dari salah satu negara Asia Tenggara itu, dia bersama suaminya pulang ke Prancis pada 1966, di negara Napoleon Bonaparte itu, dia melahirkan kedua anakya tersebut.

Selain itu, selama di Prancis, N.H Dini juga aktif dalam kegiatan lingkungan hidup, dia menjadi anggota pada lembaga swadaya masyarakat (LSM) Les Amis dela Natura atau Green Peace.

Dalam aktivitasnya di sana, dia pernah ikut menyelematkan burung belibis yang terkena polusi akibat tenggelamnya kapal tanker di pantai utara Prancis.

Setelah cukup lama singgah di Prancis, N.H Dini bersama keluarganya pun pindah ke Manila, Filipina. Dari negara kepulauan itu, dia bersama suaminya kembali hijrah ke Detroit, Amerika Serikat (AS) pada 1976 karena suaminya menjabat konsul jenderal Prancis di sana.

Berjuang Sendiri

Sayangnya, kisah cinta pertemuan N.H Dini si pramugari dengan Yves si diplomat tidak berakhir hingga akhir hayat mereka. Pada 1984, pasangan itu resmi bercerai dan N.H Dini mengajukan kembali kewarganegaraan Indonesia.

Baru pada 1985, penulis Indonesia itu berhasil mendapatkan kembali kewarganegaraan Indonesianya lewat pengadilan negeri Jakarta.

Dengan kepulangannya ke Indonesia, N.H Dini berkukuh untuk menjadi penulis dan hidup dari setiap karyanya. Bahkan, kala itu dia masih tidak melihat ladang pekerjaan lain walaupun sang penulis ini bekas pramugari Garuda Indonesia, penyiar radio, dan penari.

Di tengah kesendiriannya, dia sangat produktif menulis cerpen dan kerap dimuat pada berbagai penerbitan. Selain itu menulis, aktivitas N.H Dini lainnya adalah memelihara tanaman dan mengurus pondok bacanya di Sekayu.

Kala itu, N.H Dini juga membuat tulisan bersambung pada surat kabar Sinar Harapan tentang tema transmigrasi.

Sebenarnya, dia pun sempat ditawari bekerja pada sebuah majalah dengan gaji bulanan, tetapi N.H Dini menolaknnya dan memilih menjadi pengarang yang tidak terikat pada satu pihak.

Alasannya, kalau dia terikat pada pihak tertentu malah membuat kreativitasnya berkurang. Akhirnya, dengan itu dia memilih berjuang sendiri dengan terus mengasah kemampuan kreatifnya.

Namun, kehidupannya pun menjadi penuh dengan perjuangan. Pada periode 1996 sampai 2000 yang berarti termasuk masa krisis moneter 1998–1999, dia pun menjual barang-barang yang dimilikinya, terutama upah dari menjaga barang dan hewan piaraan ketika masih di Prancis.

Penjualan barang-barang itu dijadikan sebagai strategi untuk bisa bertahan hidup sampai 2000.

Pada awal 2000-an, N.H Dini sempat mengalami sakit, dalam perawatannya itu dia mendapatkan bantuan dari Gubernur Jawa Tengah kala itu, Mardyanto.

Dewan Kesenian Jawa Tengah pun mengumpulkan sumbangan dalam tema dompet kesehatan N.H Dini. Dalam pengumpulan dana yang dilakukan Dewan Kesenian Jawa Tengah itu, guru-guru dari Sekolah Dasar (SD) ikut menyumbang.

Setelah sembuh, mengetahui banyak yang peduli dan membantunya, N.H Dini mengirimi para donatur itu satu per satu.

Pierre-Louis Padang Coffin animator Minnions yang juga anak laki-laki dari N.H Dini (Sumber : Popular World)

Dilansir CNN Indonesia, N.H Dini selama kembali di Indonesia juga memiliki pendapatan Rp3 juta hasil dari royalti karya-karyanya. Porsi paling besar datang dari karyanya yang berjudul Pada Sebuah Kapal.

Bahkan, setelah masuk era reformasi, dia sempat mendapatkan royalti sekitar Rp9 juta sampai Rp12 juta yang cukup untuk membiayai hidupnya. Namun, itu tak terus berlanjut seiring dengan pamor buku yang turun seiring perkembangan teknologi.

Selain itu, sejak 15 tahun terakhir, N.H Dini juga kerap mendapatkan uang dari anak laki-lakinya Padang dengan nilai US$500 sampai US$1.000. Bahkan, ketika film anaknya rilis yakni mminions pada 2015 silam, tiap dua bulan dia dikirimi US$2.000 oleh anaknya tersebut.

Sepanjang karirnya sebagai penulis, N.H Dini pun sempat menyabet penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari pemerintah Thailand. Diia mengaku karya-karyanya selama ini hanyalah hasil dari realita kehidupan, pengalaman pribadi, dan kepekaan terhadap lingkungan dalam setiap tulisannya.

Selain Dua Dunia, Pada Sebuah Kapal dan Namaku Hiroko, karya lainnya N.H Dini yakni Orang-orang Tran, Pertemuan Dua Hati, Hati yang Damai, sampai Dari Pangakik Ke Kamboja.

Itu semua pun belum termasuk karyanya dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan.

)

Jono Swara

Written by

Penulis amatir Wattpad https://www.wattpad.com/user/Jonoswara. Twitter : @Jono_Swara | Facebook : https://www.facebook.com/Jonoswara

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade