Mengayomi bukan memerintahkan

Bagaimana seharusnya ketua bidang, ketua departemen, ketua divisi, manajer, bahkan ketua umum memperlakukan bawahannya?

Dalam teorinya, seorang manajer membutuhkan kemampuan (skill) yang berbeda dengan stafnya. Tidak hanya manajer dengan staf, namun juga manager atasan dan manajer bawahan. Manajer baik posisi atas maupun posisi bawah perlu memiliki interpersonal skill atau human skill yang besarnya sama, tidak ada pembeda antara dua posisi ini. Akan tetapi, manajer tingkat lebih tinggi harus memiliki conceptual skill lebih besar dibandingkan tingkat di bawahnya.

Diambil dari slideshare.net

Kesalahan yang cukup fatal terjadi adalah kepada bagaimana manajer tingkat lebih tinggi menginterpretasikan kemampuannya. Gambar di atas menunjukkan kemampuan yang dibutuhkan pada setiap tingkatan manajerial. Akan tetapi, banyak pihak yang menyalahartikan bagan di atas bahwa kemampuan itu adalah kemampuan yang dibutuhkan saja bukan kemampuan yang harus dimiliki juga.

Bingung? Baik, sekarang kita lihat begini. Sebagaimana seorang manajer tingkat lebih tinggi memang kemampuan mengonsep lebih diperlukan dibandingkan kemampuan teknis. Kemampuan itu diperlukan bukan berarti mengikis kemampuan yang ada sebelumnya. Dalam dunia karir, seseorang akan naik jabatan pasti perlu ada di tingkat manajerial di tingkat bawah, kan? Ketika sudah naik jabatan, alangkah lebih baiknya kemampuan teknisnya tidak berhenti diasah sambil meningkatkan kemampuan konseptualnya.

Beda halnya dengan organisasi, ada beberapa orang yang ditunjuk langsung sebagai manajer tingkat atas tanpa mengalami rasa dan tanggung jawab dari manajer tingkat bawah. Nah, manajer tingkat atas memang butuh belajar kemampuan konseptual. Akan tetapi, bagaimana seseorang dipercaya sebagai manajer tingkat atas tanpa merambat dari tingkat bawah terlebih dahulu? Tentu saja salah satunya adalah faktor pengalaman dan referensi eksternal terhadap dirinya, misalnya dari bos atau dari teman sepenanggungannya.

Inti dari tulisan ini adalah bagaimana seharusnya seorang manajer tingkat atas memperlakukan bawahannya. Menurut saya, ada 4 fungsi sebagai seorang manajer tingkat atas, yaitu mengawasi, mengoordinasi, membimbing, dan mem-backup. Mari telaah satu persatu.

Sebagai seorang manajer tingkat atas — selanjutnya disebut atasan, mengawasi bawahannya dapat dikatakan penting dan krusial. Tanpa ada pengawasan dari atasan, siapa yang menjalankan fungsi kontrol? Atasan dari atasannya lagi? Atau sesama bawahannya? Pengawasan yang dimaksud bukan seperti pemantauan kerja secara langsung hingga memaksa bawahan bekerja lembur seperti yang umumnya dilakukan di Jepang tetapi pengawasan kinerja dan perkembangan dari pekerjaan yang ditanggung oleh bawahan serta perkembangan diri bawahan tersebut.

Kedua ialah mengoordinasi. Menjadi penting juga fungsi yang satu ini karena tanpa ada koordinasi, pekerjaan akan menjadi serabutan, boros, terhambat dari segi waktu, dan tidak efektif. Atasan seharusnya bisa mengalokasikan sumber daya yang ada sesuai dengan kemampuan dan ranahnya dan mengoordinasikan dengan baik, bukan justru memerintah tanpa ada alasan yang jelas.

Berikutnya ialah membimbing. Inilah yang biasanya sirna dari atasan. Hanya memberikan tanggung jawab tanpa membimbing. Ketika bawahan sudah selesai bekerja sesuai dengan tanggung jawab disertai asumsi-asumsinya, ada saja bagi atasan untuk menyalahkan si bawahan karena pekerjaannya tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan bukan apa yang seharusnya terselesaikan. Salah siapa? Bawahan atau atasannya? Tergantung perspektif mana kita melihatnya. Bisa sama-sama salah, bisa salah satu salah, bisa keduanya tidak salah. Hal ini bisa mengurangi kepercayaan diri si bawahan dan rasa hormat bawahan kepada atasan.

Terakhir yang tidak kalah penting ialah mem-backup. Ya, kasus terburuknya adalah bagaimana ketika bawahan ‘menghilang’ karena sakit parah, musibah, atau hal lainnya? Siapa yang harus menangani ini semua? Apakah akan diberikan kepada bawahan yang lain saja? Seharusnya tidak. Atasan seyogyanya dengan kemampuan teknis yang ia miliki juga harus bisa mem-backup pekerjaan dari bawahannya terutama pekerjaan yang memiliki batas waktu yang cukup dekat.

Sebagaimana atasan juga merupakan pemimpin, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa membantu pengikutnya (dalam hal ini, bawahan) berkembang bersama. Tidak ada kata ‘saya’ dalam memimpin — ‘kita’ yang seharusnya dikatakan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.