Padahal.

Kenapa aku merasa kehilangan mu?

Padahal aku dan kamu sedang berada di tempat yang sama, duduk di meja dekat jendela. Aku dan kamu berhadapan. Sesekali aku dan kamu saling bertatap untuk beberapa detik, sesekali aku mencuri pandang kearah mu, dan sesekali kamu memperhatikan ku yang sedang bercerita sambil menompang dagu.

Padahal aku dan kamu sedang berjalan beriringan dengan tangan saling bertautan dan langkah yang seirama. Sesekali kamu meminta ku untuk lebih dekat, membuat bahu ku dan bahu mu bertabrakan. Sesekali kamu menarik tangan ku pelan, meminta ku untuk tak lengah.

Padahal aku dan kamu duduk bersebelahan, menatap langit dari sebingkai jendela yang sama. Aku rebahkan kepala ku pada bahu mu, kamu bawa tangan ku dalam genggaman mu.

Padahal aku dan kamu dalam keadaan tak berjarak. Pada sofa dan dalam selimut, kamu memeluk ku dari belakang. Sesekali aku dengar kamu membisikan sesuatu, sesekali aku rasakan detak jantung mu, tak jarang deru nafas mu menggelitik di telinga ku.

Padahal kamu tidak pernah meninggalkan ku. Kamu selalu berdiri tepat di samping ku, menunggu ku sampai hilang di balik pintu kereta.

Padahal kamu selalu ada. Kapan pun ketika aku membutuhkan mu, kamu ada.


Kenapa aku merasa kehilangan mu?

Karena kamu tidak benar-benar untuk ku. Karena hati mu tidak pernah untuk ku.

Kamu ada di dekat ku, selalu ada, tapi diri mu yang sesungguhnya melayang jauh. Sulit untuk ku gapai, sulit untuk ku genggam, dan sulit untuk ke dapatkan.


Kenapa aku merasa kehilangan mu?

Padahal aku dan kamu tidak pernah ada kita.