Pidi Baiq: Eksistensi Tuhan via Orang Buta

“Kalau Tuhan menampakkan diri-Nya, maka Dia tidak adil, karena orang buta tidak bisa melihat-Nya”
[Pidi Baiq]

Sepintas kalimat di atas biasa saja, karena keluar dari mulut manusia yang memang biasa saja. Ya, Pidi Baiq memang manusia biasa saja, tapi celakanya dia itu sang pentolan grup band The Panasdalam yang merangkap sekaligus menjadi Imam Besar Front Pembela Islam Kristen Hindu Budha. Tapi di balik itu sesungguhnya ada makna besar dari sang Imam Besar ini yang konon dia bilang sendiri kalau dia sudah pernah naik haji, sehingga kadang dipanggil orang dengan sebutan Pak Haji.

Lantas mari bergeser sejenak untuk merenungi lebih dalam apa maksud kalimat tersebut. Berbicara mengenai eksistensi Tuhan tidak lepas dari koridor agama. Saya tidak membicarakan agama anu sebagai contoh. Namun saya mengambil sampel agama yang secara historis telah ada sejak jaman nabi Adam, yakni agama monotheisme. Agama yang mengakui keesaan sifat Tuhan yang merupakan Dzat yang Maha atas segalanya. Tuhan itu Maha Esa dengan segala sifat dan perbuatan-Nya. Seluruh nabi dari jaman Adam hingga Muhammad membawa misi yang sama: meng-Esa-kan nama-Nya. Mengapa demikian? Jawabannya, manusia dengan fitrah yang dibawanya pastilah selalu mengakui eksistensi Tuhan, iya atau tidak, pasti iya. Sejarah mencatat, manusia dengan derajat sombong bin angkuh macam Firaun pun nyaris di ujung takdir ajalnya menyebut fitrahnya kembali, bahwa ia beriman kepada Tuhan-nya Musa. Tetapi pena telah diangkat, tintanya telah kering. Firaun ditakdirkan tidak mengucap keesaan Tuhan lewat lisannya.

Mencermati kisah Firaun yang hidup sejaman dengan Musa, seorang nabi yang gagah perkasa dijuluki Kalam Allah. Betapa tidak, untuk pertama kalinya seorang manusia dengan fisik kasarnya berupa jasad diajak bicara oleh Tuhan di lembah Thuwa, gunung Sinai. Ada hal menarik yang ingin saya garis bawahi di paragraf ini, bahwa Musa berbicara dengan Tuhan yang tidak menampakkan diri-Nya, akan tetapi Dia menutup wujud-Nya dengan tabir api sebagaimana dikisahkan Al Quran [20:9–24]. Sangat mustahil bagi Tuhan untuk menghinakan diri-Nya bagi seorang hamba yang sejatinya adalah makhluk ciptaan-Nya yang hina dina, yang justru pantas menghinakan diri yaitu hamba kepada Sang Penciptanya, Tuhan Maha Esa, karena yang demikian merupakan hakikat dari ibadah: penghinaan diri dan perendahan. Oleh karena itu bagaimananya Musa berbicara dengan Tuhan, hanya Tuhan dan Musa yang tahu. Allah Maha Tahu.

Kemudian lebih jauh saya ingin menekankan pada eksistensi Tuhan dari segi wujud, seperti apa yang dicetuskan oleh Pidi Baiq di awal. Benar adanya, seandainya Tuhan menampakkan diri-Nya; dalam kaidah bahasa Arab ini disebut dengan syarat; maka Dia (Tuhan) tidak adil; ini disebut dengan jawab. Mafhumnya, Tuhan disebut adil bahkan Maha Adil dengan segala kemulian-Nya, apabila Dia tidak menampakkan wujud-Nya di dunia. Hal yang demikian disebut dengan pemahaman sebaiknya atau lazim disebut mafhum mukhalafah. Lantas bagaimana kemudian eksistensi wujud Tuhan seandainya Dia menampakkan diri-Nya? Jawabnya Tuhan telah menyalahi sifatnya yang Maha Adil karena Dia diskriminatif terhadap makhluknya yaitu manusia buta yang tidak mampu melihat dengan kasat mata. Dengan kata lain Tuhan telah tidak layak disebut Tuhan karena telah cacat oleh salah satu syarat mutlak yang wajib dimiliki oleh Tuhan. Jika digambarkan dengan skema sederhana seperti di bawah ini:

Tuhan — menampakkan diri = tidak adil = orang buta — tidak melihat — Tuhan

Konsep kegaiban Tuhan dimiliki oleh agama monotheisme. Tuhan disifati dengan Maha Gaib dengan segala kemuliaan yang Dia miliki. Logikanya, jika Tuhan tidak gaib dan ada dimana-mana, pastilah menafikan sifatnya sebagai Dzat Maha Tinggi. Ini sekaligus menjadi jawaban bagi paham materialisme atau positivisme yang selalu mengukur sesuatu dari segi materi fisik dan konkret yang kasat inderawi saja. Atau juga menjawab logika bahwa Tuhan ada dimana-mana ala Mu’tazilah dan Jahmiyah. Adapun jika Tuhan ada dimana-mana lantas menafikan sifat Tuhan sebagai Dzat Maha Suci dari segala bentuk kotoran, kerendahan, ataupun kehinaan.

Dalam canda guraunya, Pidi Baiq secara tak sadar mengajarkan prinsip ketuhanan dengan serius dan tidak main-main. Kelakarnya mampu membuat si pembaca tulisan-tulisannya jadi paling tidak berpikir lebih lanjut apa yang sudah barusan dibaca. Saya termasuk salah satu korban dari kecerdasan berpikir Pidi Baiq soal teologi. Meminjam istilah Taufik Ismail, seorang Pidi Baiq telah melindas ujub saya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Jun Khaer’s story.