KERJA PEREMPUAN DAN PEMBANGUNAN EKONOMI
Di Negara maju, peneliti berusaha untuk mengukur kesejahteraan perempuan dengan memeriksa faktor-faktor partisipasi angkatan kerja perempuan, pertanda ini status angkatan kerja relatif dengan laki-laki adalah penting dengan mengukur dan memahami kesenjangan gender dalam upah, untuk menentukan mengapa upah perempuan kurang daripada rata-rata laki-laki, bahkan setelah mengendalikan pendidikan dan pengalaman pasar tenaga kerja. Permasalahan kesenjangan gender merupakan sesuatu yang penting dan perlu diperhatikan khususnya di Negara sedang berkembang. Kesenjangan gender terjadi dibanyak aspek yang berhubungan dengan kesejahteraan seperti pendidikan, kesehatan, pekerja atau upah. Untuk mengurangi kesenjangan gender, terutama dibidang ekonomi, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah mengembangkan kebijakan Industri Rumahan (IR) yang dilakukan oleh kelompok perempuan informal, dan memiliki modal kecil.
Tingkat pendidikan perempuan di Indonesia sudah meningkat dari waktu ke waktu tergantung pada penghasilannya, terutama bagi negara-negara yang penghasilannya rendah dan menengah. Apabila tingkat pendidikan perempuan lebih rendah dibandingkan dengan tingkat pendidikan pria maka hal ini menunjukkan bahwa marginal return pendidikan perempuan lebih tinggi, dan ketika terjadi penurunan marginal return pendidikan maka hal tersebut akan berdampak pada peningkatan kinerja perekonomian secara keseluruhan. Pendidikan wanita itu dapat memperkecil tingkat kesuburan, memperkecil tingkat kematian anak, dan meningkatkan pendidikan untuk generasi berikutnya. Setiap faktor yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan wanita pada gilirannya akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Tingkat pendidikan perempuan, dan tingkat pendidikan pasangan mereka, tampak penentu paling penting dari kegiatan pasar tenaga kerja perempuan. Karena, status pekerjaan perempuan di negara-negara berkembang sangat berbeda dari perempuan di negara-negara kaya. Ada bukti kuat bahwa perempuan ongkos buruk dibandingkan dengan laki-laki di banyak negara berkembang: perempuan menerima pendidikan kurang, kematian perempuan lebih tinggi dari angka kematian laki-laki di banyak negara, dan perempuan sering hanya memiliki kontrol yang lemah atas tanah dan aset produktif lainnya.
Terkait pengangguran tingkat kesuburan, seiring berjalannya waktu sekitar dua puluh tahun setelahnya akan mendorong pada kondisi demografis yang menguntungkan, yaitu adanya bonus demografis. Kondisi ini menggambarkan dalam jangka waktu tertentu populasi penduduk usia kerja akan tumbuh lebih banyak dibandingkan populasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, mungkin tidak mengherankan bahwa indikator kesejahteraan yang luas, seperti tingkat kematian dan tingkat pendidikan menunjukkan bahwa kesejahteraan perempuan meningkatkan rata-rata dengan pembangunan, baik secara absolut dan relative terhadap laki-laki.
Referensi dari :
