Jadilah Solusi dan Tetaplah Relevan

Oleh Hasan Aspahani

Hasan Aspahani
Feb 1, 2017 · 3 min read

Lima tahun lagi (atau sudah?) mungkin tak banyak tahu apa itu Blackberry. Padahal lima tahun lalu siapa yang tak tahu apa itu Blackberry. Nyaris semua orang memakainya. Ia menjadi simbol status, bukan lagi produk yang dipakai karena manfaat praktisnya.

Inilah kisah sukses sebuah produk yang cemerlang, tetapi kemudian menjadi cerita tragis produk yang gagal bertahan. Blackberry adalah contoh yang baik dari satu “mantra” sukses bisnis: masuklah pasar dengan menjadi solusi dan bertahanlah dengan tetap relevan.

Kusuksesan Blackberry adalah tawaran fungsinya yang menjadi solusi dari orang banyak. Ketika masyarakat modern di kota-kota dipaksa untuk bergerak lebih banyak, dan pertukaran data menjadi semakin intens, maka diperlukan satu gawai yang memungkinan orang membuka email di mana saja.

Jadi tak ada lagi dialog begini: “Bos, saya sudah kirim email.” “Oke, nanti saya buka di kantor ya…”

Dialog itu menjadi tak relevan lagi ketika ada Blackberry. Apa yang disebut teknologi push-mail, nama yang hampir saja menjadi nama dari perangkat yang kemudian diberi nama Blackberry itu, memungkinkan orang membuka email di mana saja, kapan saja, asal terjangkau sinyal layanan telepon seluler.

Inilah yang membuat Blackberry sombong dan sangat percaya diri. Research in Motion (RIM) perusahaan yang memproduksi Blackberry, mempatenkan penemuan itu, bahkan bentuk kibor seperti biji-biji semangka (nama ini pun hampir menjadi dipakai sebelum nama Blackberry disarankan oleh sebuah konsultan jenama) itu pun dipatenkan.

Satu lagi yang membuat Blackberry sangat pede adalah Blackberry Mesenger. Ya, BBM.

Pengamat bisnis mana yang berani meramalkan kejatuhan RIM dengan tiga keunggulan itu? Pakailah Blackberry, Anda menjadi orang penting dan keren (eh, bagi PIN BB, dong?), Anda bisa membuka email di mana, Anda bisa mengetik dengan cepat pada kibor qwerty yang mudah dipakai, dan Anda bisa mengobrol di ruang berbasis teks dan bisa berkirim gambar dengan cepat juga lewat BBM. Sempurna! Blackberry menguasai pasar smartphone, bahkan ia identik dengan smartphone itu sendiri. 2010 Blackberry menguasai 41 persen pasar Amerika.

Tapi keunggulan itu menyendera Blackberry. Ada perusahaan lain yang dengan dana riset sangat besar memperkenalkan sistem operasi terbuka bernama Android. Sistem terbuka? Apa bagusnya? Bukankah Linux tak pernah bisa mengalahkan Windows? RIM tetap jumawa.

Lalu bermunculanlah aplikasi yang membuat keunggulan fitur-fitur pada Blackberry menjadi tak lagi unggul. Android memungkinkan orang-orang kreatif mengembangkan banyak pengembang menawarkan alternatif dari apa yang selama ini hanya bisa didapat dari Blackberry.

Saya ingat betapa kikuknya ketika akhirnya RIM mengumumkan bahwa BBM bisa diunduh di gawai berbasis Android, apa yang sebelumnya dengan gagah ditertawakan oleh mereka sendiri. Sebuah keputusan dramatis, bersejerah, strategis, penting, tapi seperti kibaran bendera putih dari Waterloo, Kanada, markas besar RIM.

Hantaman berikutnya datang dari tablet. Biang keroknya Apple. Mereka menawarkan — dengan presentasi Steve Jobs yang selalu memikat — apa yang mereka sebut iPad. Samsung — anak bawang dari Korea itu — hanya berselang beberapa bulan menyusul dengan Galaxy Tab. Lagi-lagi RIM mengantisipasi dengan lambat. Mereka menawarkan Playbook yang gagal total itu. Saya termasuk orang yang menunggu dan kecewa dan sejak itu pelan-pelan meninggalkan Blackberry.

Riset, kata yang menjadi bagian dari nama RIM, yang dibangun dari kultur sang pendiri Mike Lazaridis, tiba-tiba menjadi kaku dan seperti tak harus harus mencari dan menemukan apa. RIM melamban.

Bukan serangan keroyokan sistem Android yang merangkul banyak vendor atau iOS yang membuat Blackberry sekarat. Memang, sistem terbuka Android menciptakan satu lingkungan yang ternyata berkembang sedemikian besarnya, sehingga ekslusivitas Blackberry menjadi bumerang yang mengurungnya di ruang sempit.

Yang membuat Blackberry runtuh adalah kegalalannya untuk menjadi tetap relevan dan terus mampu menawarkan solusi dari konsumenlah yang membuat Blackberry ditinggalkan oleh konsumen setia bahkan pemujanya. Hingga kuartal akhit tahun lalu mereka hanya mencatat penjualan 0.8 persen dari nilai pasar telepon pintar di negeri itu. Tragis!

Dua hal itu berlaku untuk siapa saja yang ingin bertahan di bidang apa saja. Politisi akan bertahan jika ia bisa membuat ide-idenya menjadi solusi bagi rakyat pemilih dan sepanjang ia ada lembaga publik ia bisa menjaga dirinya relevan bagi rakyat. Seniman akan tetap dikenang sebagai seniman jika karya-karyanya tetap relevan dengan isu-isu penting publik penikmat karya-karyanya.

Memang, ada banyak faktor lain, tapi dua hal itu adalah faktor yang fardu.

Jakarta, 1 Februari 2017

    Hasan Aspahani

    Written by

    Jurnalis, Penyair, Penulis