Surat untuk anakku di masa depan, Inggit

Arsyad A Iriansyah
Jul 24, 2017 · 4 min read

Tulisan ini adalah tulisan untuk mengikuti lomba menulis surat yang diadakan oleh Rappler. Menulis tulisan ini, saya hanyut dalam kesedihan atas bayi yang dibuang, ketertimpangan di daerah, kesehatan yang masih menjadi barang mahal, dan perasaan pasangan yang menanti kehadiran seorang anak.


Kepada Anakku, Inggit
Di Penghujung Senja

Assalamualaikum

Bagaimana kabarnya? Jangan lupa makan ya.

Bapak menuliskan surat ini di waktu sore, dengan menikmati temaramnya senja, menyeruput teh panas dan mengunyah pisang goreng dengan dicocol ke gula buatan ibumu.

Inggit, saat ini bapak dan ibu sedang menikmati hari libur di tepian pantai Kuta sedangkan ibumu mengajak kamu berkelilingi menikmati suasana pantai. Oh ya, tadi pagi, saat kali pertama bapak mengenalkan Inggit dengan air laut. Kamu begitu ketakutan. Bapak juga panik saat air laut masuk ke matamu.

Bapak baru saja pulang dari Pegunungan Bintang. Loh, bapak ngapain di sana?
Entahlah Inggit, tiba-tiba saja bapak memutuskan untuk cuti dari rumah sakit dan meminta izin pada ibumu untuk pergi sebulan ke Pegunungan Bintang. Ibumu, seperti telah membaca pikiran bapak, hanya melepas dengan doa saat kepergian bapak di pintu keberangkatan bandara. Ibu tahu bahwa apa yang bapak kerjakan adalah untuk kemanusiaan.

Inggit, peduli dengan sesama adalah modal mendasar. Jika rasa kemanusiaan telah hilang, maka apakah itu disebut manusia?

Meninggalkan ibumu sendirian di rumah adalah hal terberat bagi bapak. Apalagi sulitnya sinyal. Kalo pun bisa, hanya sms dan telepon tapi itu pun di spot tertentu. Jangan tanya harga bensin, mahal sekali. Harga beras bisa 3 sampai 5 kali lipat harga di Jawa. Inikah Indonesia itu, pikir bapak waktu itu.

Ibumu menatap lekat saat bapak bercerita pengalaman membantu persalinan seorang ibu yang mengalami pendarahan hebat. Ketubannya pecah, sedangkan puskesmas jauh, butuh 8 jam untuk sampai kesana. Maka, dukunlah yang akan membantu, pun menggunakan alat sederhana. Entah kebetulan apa, bapak sedang berkunjung ke Desa Pepera, setelah berjalan kaki menerjang hutan 8 jam dari Oksibil.

Badannya sangat lemas, matanya sesekali memejam dan nafasnya tersengal-sengal. Bapak meminta para mama untuk menyiapkan air hangat, jika sewaktu-waktu bayinya lahir. Setelah 3 jam menanti, bayinya pun keluar dengan sehat sedangkan ibunya kelelahan.

Inggit, setelah proses melahirkan tersebut. Para bapak dan mama yang menunggu di luar Sukam, sebuah tempat melahirkan buat para mama di Pegunungan Bintang. Mengucap syukur dengan berdoa. Saat bapak keluar dari Sukam.

Semua masyarakat menjabat tangan erat lalu mengucapkan terima kasih.

Bapak dokter ini sambil menyodorkan boneng (umbi-umbian) yang merupakan hasil panen mereka. Baik sekali bukan?

Tak terasa sudah sebulan kamu hadir di tengah keluarga kami. Sebagai orang tua, kami tak pernah absen mengikuti kelas parenting. Semua buku tentang anak, lahap kami baca. Berat ya jadi orang tua? Tidak kok, Inggit. Ini kami lakukan, karena semata-mata kami ingin tumbuh kembangmu baik dan memastikan asupan gizimu cukup.

Inggit, mungkin isi surat ini akan membuatmu sedih tapi percayalah bahwa kesedihan itu adalah cara Tuhan untuk membuat hambanya menjadi kuat.
Inggit, kami bukan orang tua kandungmu.
Hari itu, bapak mendapat kabar dari rekan sejawat bahwa ada bayi perempuan ditemukan di tempat sampah. Mendengar kabar tersebut, bapak dan ibumu yang bekerja di satu rumah sakit bergegas mengunjungimu.

Waktu itu. Badanmu mungil sekali, wajahmu teduh, sesekali membuka mata seolah memberi kabar bahwa kamu siap merasakan keramahan dunia ini. Kulitmu memerah, karena digigit semut bahkan saat ditemukan oleh orang, ari-arimu masih menempel di tali pusar.

Bapak dan ibu memutuskan membawamu ke rumah, untuk mengangkatmu menjadi anak kami. Kami tak tega, saat mendengar jawaban dari suster bahwa kamu akan dibawa ke panti asuhan. Setelah berdiskusi, kami sepakat merawatmu. Mungkin ini adalah jawaban dari Tuhan atas 7 tahun pernikahan kami. Toh, kami berdua juga sudah lelah dengan segala pertanyaan orang soal momongan, meminum aneka obat dan pengobatan alternatif. Sekarang, ikhtiar kami adalah merawatmu, Inggit.

Hari pertama di rumah, kami begadang seharian menenangkan dirimu yang sedari tadi menangis. Sempat kami berpikir untuk mengantarkanmu ke panti asuhan, karena tidak yakin bisa merawatmu tapi saat melihat lesung pipitmu. Bapak mengurungkan niatan tersebut.
Inggit, ibumu membuat keputusan terberat yaitu mundur dari pekerjaan sebagai dokter bedah. Bapak kembali meyakinkan apakah ibu sudah siap untuk menjadi ibu rumah tangga? Ibu bilang sudah siap.

“Apa sudah siap meninggalkan karir sebagai dokter bedah? tanya bapak.

“Sayang, kita sudah menanti 7 tahun untuk bisa mendapatkan anak. Semua ikhtiar itu pupus, saat akhirnya dokter memvonis bahwa aku tak bisa hamil. Biarkan karirku hanya menjadi ibu rumah tangga. Inggit adalah harapan yang kita sudah nantikan. Dia adalah penerus kita sayang. Dialah yang akan mendoakan kita, saat kita meninggalkan dunia ini”.

Inggit, bapak langsung memeluk ibumu. Kami menangis sejadinya. Pengorbanannya tak bisa dinilai dengan uang, bahkan karir mentereng pun tak dapat digantikan jika kamu malah terjurumus dengan hal negatif.
Lambat laun, kamu pasti akan mendengar omongan orang bahwa kamu hanya anak angkat. Biarkan omongan itu berlalu. Kamu tetap anak kesayangan kami.

Inggit, nama yang diambil dari Inggit Garnasih, istri dari Soekarno. Sosoknya sederhana dan mau hidup susah. Kami tak bisa memberikan warisan yang banyak, karena semua itu hanya fana. Ke depan, hidup akan lebih susah. Maka, kesederhanaan dan jujur harus dipegang teguh.

Inggit, terima kasih telah memanggil kami dengan sebutan bapak dan ibu.

Dari kami yang tak pernah lelah memberikan pelukan dan menghujanimu kecupan.

Arsyad A Iriansyah

Written by

Menulis agar kembali mengingat akan hal yang patut disyukuri. Dapat dihubungi melalui email arsyadiriansyah@gmail.com

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade