Aku Tidak Berani Kali Ini
Malam ini aku tidak berani, lagi. Ada sebuah hal yang dinamakan perasaan, tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran. Hangat, namun berakhir dengan meruntuhkan ketenanganku, mendebat akal sehat, memperkosa keyakinan yang kemarin sudah ku bulatkan, kian melahirkan pikiran-pikiran akan sebuah kesempatan yang hadirnya hanya akan ada di angan. Aku sekali lagi, sangat berlebihan, dalam perasaan; perasaan sayang, perasaan ingin memberi lebih tanpa harus menerima kembali, perasaan ingin menemani, walau sejatinya kamu tidak pernah sendiri.
Yang perlu kamu ketahui, dan mungkin memang sudah kamu sadari, setiap kata yang keluar dari mulutmu, yang pernah jadi temanku saat sendiri, adalah mantra-mantra yang menjaga dan setiap yang mendengarnya jatuh pada setiap kedamaian. Jika masa lalu membentuk jiwamu, maka yang perlu kamu ketahui lagi, jiwa itu adalah jiwa yang utuh. Dan aku menyayangimu, karena luasnya pikiran dan tenangnya hati, karena kebesaran untuk menerima segala, karena menjadi seperti yang sekarang ada.
Kalau manusia tugasnya berbuat kebaikan, milikmu selalu ku jadikan harapan. Semoga harimu sebaik biasanya, atau jika biasanya jadi tidak baik-baik saja, semoga diberi kekuatan sehebat-hebatnya. Karena aku tidak berani kali ini untuk menjanjikan dunia yang lebih baik lagi, tidak berani menjamin perasaan sayangku seberharga kasih dari sekitarmu. Bahkan tidak berani untuk melangkah lebih jauh lagi dalam memahami dunia yang kamu miliki.
Maka saat punggungmu terasa perlu direbahkan, bersandarlah di bahuku. Bagi beban itu, ceritakan semua yang sempat membelenggu, tertawakan harimu. Akan ku pandu kembali, menuju cahaya yang mungkin akan kamu tinggalkan saat lupa, akan aku ingatkan. Karena satu hal yang aku ketahui aku berani kali ini,
“I’ll gladly fall for you.”
