RINDUKU
_____
Dalam diam hatiku tidak bungkam. Ada tanya besar menganga di setiap rongganya. Tanya yang begitu nafsu untuk sebuah waktu, hingga menjadikan cemas dalam rindu di ujung jalan-jalan buntu.
Bersamaan dengan beberapa aktor yang meracun fikiran, rindu kian melucuti setiap inci hati. Membuka dengan lebar kenyataan jika segala hal tak dapat kembali beriringan meski rindu terus ingin di tuntaskan.
Rindu ini mengkhawatirkanmu sebagai pusat, yang terus menjadi tokoh utama pada drama percintaan, meski rindu tak kunjung mendapat jawab sepadan.
Di sini, di pinggir kota yang sedang basah oleh hujan, tampat pertama kita memulai pertemuan, dengan sajiian es krim yang kamu tipu aku untuk sebuah candaan dan senyuman.
kutuliskan drama yang belum usai kita perankan. Kisah purba yang tak tertuliskan sejarah, sebab pergimu meninggal rindu di wajah waktu. Hujan dan tulisan, katamu akulah yang paling bisa meredakan kerinduanmu. Lalu, sudah sampaikah rinduku pada semesta ingatanmu?
Rindu sempat menjadi bahasa paling manis ketika pagi merampas heningnya gulita dan senja menjemput kesepian malam. Terhitung sejak hari dimana rinduku dan rindumu menyatu, sejak saat itu juga aku ingin segera mati dan menuntaskan rindu di pelukmu, menjadikanmu pemilik utuh rindu yang tak pernah memiliki ujung. Rindu yang menyatukan dua jiwa pada keterasingan, kembali menjadi budak kebodohan.
Bersama rintik-rintik kecil yang juga berjatuhan di tubuh yang semakin ngilu aku memanggilmu, meneriakkan namamu keras-keras, berusaha memelukmu lewat sedikit kata ini. Mengulang kembali lagi sapa-sapa rindu yang entah nantinya akan kau tangkap atau kau biarkan menguap.
Mungkin aku berdosa merindukanmu, menjadikanmu semesta rindu yang tak berujung. Namun sekali lagi, rindu itu satu dan suci, dia terlahir dari cinta hingga perpisahan yang menjadikannya sempurna tanpa cacat tanpa cela. Jangan salahkan rinduku yang keterlaluan, karena segala tentangmu masih menetap pada catatan fikiran dan hati paling dalam.
-Rindu Sal