gambar hasil nyomot dari www.popular-world.com

Tentang Perempuan di depan Kamar

Perempuan itu pernah tinggal di sebuah kamar yang terletak persis di depan kamarku. Ia tinggal dengan seorang laki-laki yang kemungkinan besar adalah suaminya. Aku katakan “kemungkinan besar” sebab bisa saja laki-laki itu bukan suaminya. Bisa saja laki-laki itu adalah pacarnya atau kakaknya atau jika kau pernah melihat laki-laki itu secara langsung kau akan menduga kalau laki-laki itu adalah ayahnya. Masalahnya, aku tidak tahu dan tidak mau tahu hubungan mereka yang sebenarnya. Jadi untuk lebih gampangnya aku tetap menganggap mereka adalah pasangan suami istri.

Sebelum perempuan dan laki-laki yang kemungkinan besar adalah suaminya tinggal di sana, kamar itu sempat ditinggali oleh pasangan suami istri lain. Si suami, seorang laki-laki jangkung berkulit gelap dan berjanggut lebat dan bekerja di Kedubes Amerika Serikat. Aku memanggilnya Mas Agus. Istrinya, berkulit lebih cerah dan bekerja sebagai guru honorer di sebuah SMP dan aku tidak tahu namanya. Aku kadang memanggilnya Mbak Agus. Mereka adalah pasangan suami istri yang baik. Mereka sering mengirimiku makanan dan kue-kue kering apalagi kalau mereka baru datang dari kampung halamannya.

Aku sering mengobrol dengan Mas Agus. Ia hanya lebih tua dua tahun dariku dan karena di pondok indekos itu tidak ada orang lain yang sebaya dengan Mas Agus maka aku jadi lebih dekat dengannya. Aku rasa Mas Agus juga merasakan hal yang sama denganku.

Mas Agus sering mengajakku minum kopi di warung depan sebuah SD yang tidak jauh dari tempat kami indekos. Di sana juga terdapat tukang nasi goreng yang rasanya nikmat dan cara masaknya luar biasa cepat. Setelah menghabiskan kopi dan obrolan, kami biasanya akan memesan nasi goreng lalu membawanya pulang.

Dari obrolan di warung kopi itu aku jadi tahu beberapa hal tentang Mas Agus. Ia sebelumnya pernah bekerja di sebuah perusahaan tambang di pedalaman hutan Kalimantan. Ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan pindah ke Jakarta ketika akan menikah. Sebelum menikah dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya, Mas Agus hampir saja menikah dengan perempuan lain. Mereka sudah bertunangan tapi entah karena alasan apa pihak perempuan kemudian memutuskan hubungan pertunangan itu secara sepihak. Bahkan jauh sebelum Mas Agus menikah, ia pernah jatuh cinta setengah mampus kepada salah seorang teman kuliahnya. Perempuan itu, Mas Agus memanggilnya L.J, adalah teman sekelasnya ketika mereka kuliah. Mereka saling mencintai tapi tak pernah bisa bersama. Begini, saat Mas Agus sendiri L.J sudah punya pacar, begitu juga sebaliknya, saat L.J putus dari pacarnya Mas Agus baru saja jadian. Sampai bertahun-tahun setelah Mas Agus lulus kuliah dan menikah, ia tetap tidak bisa memiliki L.J. Mungkin bukan jodoh, begitu yang Mas Agus yakini.

“Rasanya seperti lagu Tulus”

“Maksudnya apa, Mas?”

Mas Agus kemudian menyanyikan sebaris lirik dari lagu yang ia maksud,

Kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu.

Suaranya sumbang. Aku tertawa terbahak-bahak sedangkan Mas Agus hanya tersenyum kecut. Mungkin kenangan itu rasanya pahit.

“Jadi menurut Mas Agus, jodoh itu orang yang kita cintai sampai mati atau orang yang kita nikahi?” tanyaku.

Mas Agus tidak langsung menjawab. Aku lihat ia malah memperhatikan kopi di gelasnya yang tinggal setengah.

“Jodoh itu adalah orang yang kita nikahi.” jawabnya kemudian. Matanya masih memperhatikan sisa kopi di gelas.

“Tapi begini, kata guru ngajiku di kampung, orang yang kita cintai di dunia tapi tak bisa kita miliki akan menjadi jodoh kita di akhirat.” pungkasnya. Kali ini ia menatapku dengan senyum lebar di bibirnya. Ia tampak tersenyum puas tidak sekecut senyumnya tadi.

Aku rasa Mas Agus hanya sedang menghibur dirinya sendiri.

Mas Agus tidak tinggal lama di tempat itu. Enam bulan kemudian setelah istrinya hamil ia memutuskan untuk pindah. Ia bilang mau mencari tempat kontrakan yang lebih luas. Sebelum pergi ia sempat menyalamiku dan berdoa untuk kesuksesanku. Aku menyalaminya balik dan berterima kasih atas kebaikannya selama ini. Mas Agus memang orang yang baik.

Kamar itu sempat kosong untuk beberapa minggu sebelum seorang perempuan dan laki-laki yang kemungkinan besar suaminya datang dan menempatinya.

Aku tidak ingat persis kapan pasangan itu datang ke sana. Suatu pagi saat aku membuka pintu aku sudah melihat sebuah rak sepatu berisi bermacam-macam sepatu wanita dan beberapa kardus teronggok di depan kamar itu. Seorang perempuan baru saja menempati kamar itu, pikirku saat itu. Dugaanku meleset sedikit, seorang perempuan dan laki-laki baru saja menempati kamar itu. Aku melihatnya saat hendak pergi ke warung kopi dan berpapasan dengan pasangan itu di lorong antar kamar.

Perempuan itu cantik. Aku bisa meyakinkanmu soal kecantikannya. Lima dari lima orang kawanku yang pernah main ke tempatku dan kebetulan sempat melihatnya bilang kalau perempuan itu cantik. Dan laki-laki itu, yang kemungkinan besar adalah suaminya, aku pikir ia terlalu tua dan lebih cocok menjadi ayahnya ketimbang suaminya. Aku juga bisa meyakinkanmu tentang hal ini. Lima dari lima kawanku yang pernah melihatnya juga sepakat kalau laki-laki itu terlalu tua untuk perempuan secantik itu. Aku tidak tahu pasti apakah mereka berbicara jujur atau hanya sebatas iri karena laki-laki tua itu bisa mendapatkan perempuan yang begitu cantik.

Pasangan itu selalu mengurung diri di dalam kamar. Tidak seperti Mas Agus, aku bahkan tidak pernah berbicara sama sekali dengan laki-laki yang terlihat terlalu tua itu. Aku hanya melihat pasangan itu keluar ketika mereka hendak berangkat kerja. Sekitar pukul 6 lewat 30 menit. Biasanya si laki-laki yang kemungkinan besar adalah suaminya yang akan keluar terlebih dahulu dan memanaskan mesin motornya. Perempuan itu menyusul kemudian dengan sedikit tergesa. Kami biasanya hanya saling bertukar senyum tanpa bicara sama sekali. Kurang atau lebih dari jam itu kamar mereka akan selalu tertutup.

Di hari libur sekali pun kamar itu selalu tertutup. Aku bingung bagaimana mereka bisa begitu betah mendekam seharian di dalam kamar. Aku pikir mereka mungkin sedang tidur. Di dalam kitab suci ada dongeng tentang tujuh orang pemuda yang tidur selama 300 tahun di dalam gua. Mungkin pasangan itu mendapatkan inspirasi dari dongeng di kitab suci tersebut dan memutuskan untuk tidur selama seharian. Lagipula tidur seharian belum ada apa-apanya dibandingkan dengan tidur selama 300 tahun. Seharusnya aku tidak perlu merasa bingung.

Kadang aku sengaja membuka pintu kamarku dan melihat apakah mereka akan keluar dari dalam kamarnya atau tidak, tapi kamar itu tetap saja tertutup. Aku tidak pernah melihat mereka keluar dari dalam kamar kecuali ketika mereka hendak berangkat kerja. Terkadang aku. berpapasan dengan mereka di jalan. Atau melihat mereka lewat dari warung tempatku minum kopi. Tapi sekali pun aku tidak pernah melihat mereka keluar kamar selain di pagi ketika mereka akan berangkat kerja.

Mereka juga tidak pernah menerima tamu. Tidak seperti bapak-bapak penghuni kamar pojok atau tante-tante di kamar pojok lainnya yang senang bernyanyi lagu-lagu Mariah Carey yang sering sekali kedatangan tamu. Kamar di depanku selalu sepi dari kunjungan. Saat Mas Agus masih tinggal di kamar itu ia juga beberapa kali kedatangan kunjungan dari teman-temannya. Tapi perempuan cantik dan laki-laki yang kemungkinan besar adalah suaminya tidak pernah kedatangan tamu sama sekali.

Perempuan itu cantik dan aku senang sekali melihatnya. Mungkin aku menyukainya. Tapi ini bukan jatuh cinta, kau harus bisa membedakannya. Ini seperti saat kau melihat pemandangan indah yang membuat matamu betah berlama-lama memandangnya. Ya, semacam itu lah.

Aku sendiri tidak pernah berbicara dengan perempuan itu. Kami hanya saling bertukar senyum jika kebetulan berpapasan dan perempuan itu sedang sendirian. Jika aku kebetulan berpapasan dengan perempuan itu ketika ia sedang bersama laki-laki yang kemungkinan besar adalah suaminya maka aku akan tersenyum kepada laki-laki itu. Rasanya bukan pilihan bijak jika aku tetap melempar senyum ke arah perempuan itu meskipun laki-laki yang terlihat lebih tua itu bukan benar-benar suaminya.

Pasangan itu juga tidak terlalu lama tinggal di tempat itu. Aku tidak tahu apakah karena perempuan itu juga hamil kemudian mereka memutuskan untuk pindah atau karena ada alasan lain. Yang jelas, seperti saat mereka datang, mereka juga pergi begitu saja. Ketika suatu pagi aku bangun dan membuka pintu kamar, rak sepatu dan kardus-kardus yang ada di depan kamar itu sudah lenyap. Dan besoknya juga besoknya lagi aku tidak pernah melihat perempuan itu lagi. Sampai hari ini.

Aku bahkan tidak pernah tahu siapa namanya. Ingatanku tentang perempuan itu hanya berkisar sebatas pada rak sepatu dan pada pukul 6 lewat 30 pagi saat perempuan itu terburu-buru memakai sepatunya. Dan pada suatu malam saat aku tak sengaja berpapasan dengannya di jalan.

Malam itu aku baru saja pulang kerja. Hujan yang mengguyur dari tadi sore baru saja berhenti. Udara menjadi lebih dingin. Air menggenang di beberapa bagian jalan dan memantulkan cahaya dari lampu merkuri yang berwarna kuning. Aku berjalan agak cepat karena khawatir hujan akan kembali turun. Aku melihat perempuan itu berjalan ke arahku. Ia hanya mengenakan hotpants berwarna hitam dan jersey Arsenal dan sebuah sandal jepit berwarna merah muda. Rambutnya diikat ke belakang dan aku baru sadar kalau aku tidak pernah melihatnya menggerai rambut. Dan ia sendirian.

Tidak ada orang lain di jalanan itu selain kami berdua. Tidak ada kendaraan lewat. Tukang nasi goreng yang rasanya nikmat dan cara memasaknya cepat juga belum terlihat mangkal. Hujan sudah berhenti tapi udara menjadi lebih dingin. Kami berpapasan di depan sebuah gereja. Aku sendirian. Ia juga sendirian. Aku melihat wajahnya. Dan ia juga milhat wajahku. Aku memandang ke dalam bola matanya dan tenggelam di sana. Rasanya begitu lama seolah-olah waktu berhenti berputar. Mungkin waktu memang berhenti berputar saat itu.

Kami saling melemparkan senyum. Aku tidak tahu bagaimana mulanya, mungkin aku tersenyum lebih dulu kepadanya dan ia membalasnya atau ia yang tersenyum kepadaku lebih dulu dan aku membalas senyumnya. Atau kami tersenyum di saat yang bersamaan. Aku tidak ingat. Waktu seolah berhenti berputar dan ada sesuatu yang membakar jantungku. Seharusnya ada lagu yang berputar di dalam kepalaku saat itu.

Seharusnya ada lagu yang berputar di dalam kepalaku saat itu.

Saat waktu kembali berputar ia sudah berjalan melewatiku dan aku sudah berjalan melewatinya. Aku ingin sekali berhenti dan menoleh balik ke arahnya. Tapi tidak aku lakukan. Aku terus berjalan dan berjalan. Dan ada sesuatu yang membakar jantungku. Dan seharusnya ada lagu yang berputar di dalam kepalaku saat itu.

Seharusnya ada lagu yang berputar di dalam kepalaku saat itu.

Tambun Selatan, 30 Desember 2015

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.