Di Rumah Bernama Turun Tangan Jakarta

Ini salah satu raker Kelas Negarawan Muda.

Januari akhir 2016, seorang teman baik bercerita tentang bagaimana ia bisa masuk Turun Tangan Jakarta. Saat itu saya masih relawan Kelas Negarawan Muda (KNM), sama sekali belum terpapar Turun Tangan Jakarta. Cerita teman saya itu sejatinya berakhir dengan sebuah ajakan agar saya masuk Turun Tangan Jakarta. Sudah saya duga sebelumnya. Tapi saya yakin, ceritanya soal bagaimana Turun Tangan Jakarta mengubah hidupnya adalah cerita yang sedemikian adanya. Lama saya berpikir hingga akhirnya saya putuskan masuk Turun Tangan Jakarta (TT Jakarta). Sebagian kecil karena pengaruh teman itu, sebagian besarnya karena kemauan saya.

Saya masih ingat, keadaan TT Jakarta saat saya pertama masuk seperti rumah yang kesepian. Penghuni — orang-orang yang pertama membangun rumah ini saya lihat satu per satu mulai meninggalkannya. Beberapa masih melihat rumah ini dari jauh, hanya segelintir yang bertahan. Beberapa nama saya kenali sebagai salah satu relawan KNM, lebihnya adalah wajah asing. Hal yang menyenangkan dari bagian ini; beberapa relawannya masih menghendaki TT Jakarta ini ada. Beberapa, meski tak banyak adalah masih bisa disebut harapan. Karenanya saya masih tetap melanjutkan.

Menuliskan ini lagi, adalah perjuangan mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan yang sudah berantakan. Saya tidak ingat percis apa yang terjadi pada 2016. Keadaannya saat itu, saya seperti tamu yang (masih) asing. Kendati pun harusnya saya mulai menyadari bahwa saya adalah bagian dari rumah ini. Proses menjadi bagian dari kelompok tertentu, bagi saya adalah proses panjang. Jarak tak pelak menjadi alasan. Tunggu ya, nanti saya akan cerita lebih banyak soal jarak.

Juli 2016 saya mengikuti Raker KNM lagi. Ini kali kedua saya mengikuti Raker KNM. Saat itu memilih Dinda sebagai project leader (PL), sebelumnya adalah Herry. Sebuah proses transisi yang tidak mudah. Dengan formasi ini, saat itu Fauzan sepakat menjadi koordinator TT Jakarta. Tentu ada lobi-lobi politik di belakang formasi ini, tapi itulah proses yang saya sukai di rumah ini.

Tak lama setelah itu, Dinda tiba-tiba mengundurkan diri sebagai PL KNM. Bagi sebagian orang, hal ini adalah hantaman. Semangat beberapa relawan menurun drastis. Beberapa aktivitas terhenti. Lagi-lagi TT Jakarta diuji. Titik balik TT Jakarta ada hingga hari ini, ya ini. Momen-momen yang menguji kita, yang secara implisit meninggalkan pertanyaan; TT Jakarta mau dipertahankan atau diamkan mati perlahan? Dan lagi, harapan dari segelintir orang yang menghendaki TT Jakarta bertahan adalah mereka yang membuat saya bertahan. Saya masih ingat ada Andres, Fauzan, Anin, Ridho, Falin, Fenty, Ramdani dan Zelvi. Terima kasih karenanya.

Seperti semangat yang timbul-tenggelam, saya percaya sejatinya tidak ada semangat yang benar-benar hilang. Usai kejadian itu, terbitlah raker perdana TT Jakarta pada November 2016. Raker ini melahirkan sebuah formasi baru, orang-orang yang kemudian memastikan TT Jakarta terawat. Menyusun metode perekrutan relawan, membuat citra TT Jakarta agar dikenal massa serta memastikan setiap dokumentasi kegiatan di TT Jakarta ada ditempat yang rapi. Saya putuskan untuk menjadi salah satu dari mereka. Mengakhiri tahun 2016 dengan harapan baru buat 2017.

Sebagaimana sebuah dinamika organisasi, hal serupa pun kami hadapi. Mengurus rumah yang besar ini rupanya tidak mudah. Atap rumah bocor sana-sini, rumput liar banyak tumbuh, banyak yang mau masuk tapi kami masih kelabakan menyambut mereka. Ah, banyak. Berganti dari sistem rekrutmen satu ke rekrutmen yang lain, cara penyambutan satu ke yang lain, hingga banyak hal baru yang kami ciptakan untuk menyiasati dinamika yang terjadi. Percayalah, setiap apa yang kalian saksikan di rumah ini, ada orang-orang di belakangnya yang mendiskusikan perubahan itu dengan baik, terlampau baik. Sampai dipikirkan dampaknya buat tiap-tiap penghuninya, memastikan tidak ada yang kecewa atau sedih atau apalah. Meski seringkali berakhir pada kesadaran bahwa kami tidak bisa senangkan hati semua orang.

Teman-teman, saya sengaja bercerita se-naratif itu. Mencoba mengingat-ingat urutan waktu yang benar. Tentu saya yakin tidak semuanya akurat. Saat saya menulis ini, itu semua sudah menjadi kenangan. Hal-hal yang kemudian saya ingat sebagai proses belajar, proses dewasa. Sebagaimana Paman Bre Redana bilang, yang agak memperpanjang jejak manusia hanya kenangan. Untuk kemudian dapat menjadi bagian dari rumah ini, saya memang berusaha mendengar sejarah rumah ini ada. Semoga kita belajar juga.

Soal Jarak

Awalnya, saya pikir Jatinangor — Jakarta tidaklah hambatan besar. Memang bukan hambatan besar, tapi cukup menjadi andil absennya saya pada kegiatan-kegiatan TT Jakarta. Saya jarang ikut kumpul-kumpul haha-hihi dengan relawan lain. Saya yakin betul, kumpul-kumpul haha-hihi itulah yang sejatinya membangun ikatan satu sama lain. Dan, sering diam-diam saya iri jika kalian melakukan kegiatan bersama dan saya hanya bisa menyaksikan dari jauh. Walau jadi ada hal lain yang saya syukuri, setiap kali bisa berkumpul dengan kalian, adalah waktu saya harus memanfaatkan dengan baik.

Saya sadar, ada jarak yang lebih panjang dari sekedar Jatinangor — Jakarta; jarak antara diri kita dengan TT Jakarta. Setiap kali saya dapati diri saya ingin berhenti atau berpaling sejenak pada hal lain, saya selalu terbayang-bayang wajah mereka yang masih berjuang buat TT Jakarta. Seketika itu saya berpikir dan putar balik. Saya tau rasanya berjuang sendiri itu tidak menyenangkan. Karenanya, pastikan hati kalian ada di sini, di TT Jakarta.

Saya juga masih percaya, hal yang membuat berkesan ada di rumah ini adalah orang-orangnya. Orang-orangnya juga yang buat bertahan. Tempat saling menyemangati satu sama lain, saling mengapresiasi satu sama lain, dan tempat bersenang-senang bareng. Karena apa lagi cuy yang bisa buat kalian bertahan di tempat ini? Dibayar pun nggak. Carilah hal-hal yang membuat kita senang ada di rumah ini. Jika sudah kita dapat, apapun dinamika yang terjadi, rumah ini akan jadi tempat kembali.

Hal ini sudah dibuktikan. Keajaiban-keajaiban pun saya dapatkan dari para penghuni rumah ini. Beberapa bulan lalu seorang relawan bernama Bhe saya hubungi, niatnya saya ajak untuk jadi relawan di Humas. Awalnya saya ragu. Tapi di luar itu, ia mengatakan; kalau buat TT Jakarta, kapanpun kalau ada yang minta bantuan dan selagi gue masih bisa, gue akan bantu. Rupanya tidak hanya Bhe, Frits — relawan lain, juga berujar sama; Tapi gua kayaknya gak bakal bisa ninggalin TT ini, karena proses di TT ini yang membuat gua seperti ini, it’s such a second home apapun yang diminta untuk berkontribusi gua akan tetap bantu dan bergerak sebisa gua. Astaga, see?

Saya ingin meminjam istilah teman saya, bahwa TT Jakarta telah memberi saya masa remaja yang indah. Saat masuk, saya pikir saya masih kanak-kanak sekali. Lalu TT Jakarta memberi saya fase hidup yang lain. Karena TT Jakarta juga saya selalu punya alasan datang ke Jakarta. Jadi selingan dari hidup saya di Jatinangor. Bertemu orang-orang yang memberi saya virus positif. Orang-orang yang lebih dewasa yang membuat saya turut serta dalam fase pertumbuhan menjadi dewasa. Dua tahun menyaksikan dinamika di rumah ini adalah hal berkesan yang akan terus saya ingat.

Di akhir tahun ini saya juga senang menyaksikan bahwa TT Jakarta telah memiliki pemimpin baru, Tiara. Tiara dengan formasi barunya. Semangat baru dan semoga inovasi-inovasi baru. Kalian yang mau manjaga rumah ini saja saya sudah senang. Bisa mempercantiknya dengan inovasi adalah bonus buat saya. Saya percaya, ini adalah soal kalian yang melanjutkan perjuangan dan kami yang berjuang di tempat lain. Tapi rumah akan selamanya tempat kembali. Duh, kan, terdengar seperti perpisahan. Saya masih akan di TT Jakarta, kok!

Terakhir, saya ingin mengulang kalimat saya di atas; carilah hal-hal yang membuat kita senang ada di rumah ini. Jika sudah kita dapat, apapun dinamika yang terjadi, rumah ini akan jadi tempat kembali, tanpa harus diminta kembali. Selamat tahun baru.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.