Anak Kecil Bernama PERTAMINA

Oleh : Didit Wahyu Pradipta / 12212075

Welcome to the biggest industry in the world!” satu kalimat yang saya ingat ketika mengikuti program matrikulasi mahasiswa baru Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB kurang lebih dua tahun silam. Kalimat di atas tertera di slide awal presentasi salah satu dosen Teknik Perminyakan ITB yang menjadi pemateri. Awalnya kalimat tersebut hanya terdengar sebagai klise, terutama bagi orang awam termasuk mahasiswa baru yang mengikuti program tersebut. Benarkah?

Sampai akhirnya saya memasuki jurusan Teknik Perminyakan, berada di lingkungan yang dekat dengan industri migas yang pada akhirnya membawa saya pada suatu kesimpulan bahwa kalimat yang bak klise di atas memang relevan adanya. Bagaimana tidak? Industri migas “masih” merupakan pemasok 70% kebutuhan energi dunia, memiliki peranan strategis terhadap ketahanan energi suatu negara, berdampak pada sektor ekonomi, geopolitik, dan sosial. Seolah industri ini memiliki peranan yang sangat besar bahkan tidak berlebihan jika dikatakan dapat mempengaruhi kestabilan suatu negeri. Lihat saja negara Timur tengah yang banyak dilanda konflik akibat daya tarik “emas hitam” ini. Tidak berlebihan bukan?

Lalu, apa yang membuat industri ini katakanlah sedikit “eksklusif” dibandingkan dengan industri-industri pada umumnya? Setidaknya ada empat faktor yang dapat membedakannya dari industri lain, pertama, high capital (padat modal), modal merupakan hal yang sangat fundamental dalam industri karena dengan modal, industri dapat dijalankan sebelum mendapatkan profit dari hasil industri tersebut, lalu pertanyaannya sebesar apakah modal yang harus dikeluarkan untuk “bermain” di dalam industri migas? Sebut saja biaya untuk mengembangkan satu sumur dari eksplorasi hingga tahap produksi bisa mencapai 5–10 juta USD, mungkin gambaran di atas akan membuat para investor bisnis akan sangat berpikir dan menimbang dengan sangat hati-hati sebelum “bermain” di industri ini.

Faktor kedua, high risk (risiko tinggi), mungkin sebagian orang akan berpikir bahwa risiko hanya menyangkut HSE operasi yang memang sangat tinggi di dalam industri migas, namun bukan hanya itu. Sebagai contoh rule of thumb untuk menemukan sumur minyak yang berproduksi adalah 5:1 yang artinya dari 5 sumur yang dibor, hanya 1 sumur yang berproduksi atau terbukti ada Hidrokarbon di dalamnya. Bayangkan empat sumur kering (tidak ditemukan hidrokarbon) yang harus ditutup dengan sia-sia dan akibatnya kita harus siap kehilangan jutaan dolar yang telah dikeluarkan untuk mengebor sumur tersebut. Cukup jelas, high risk.

Faktor ketiga, high technology (padat teknologi), industri migas membutuhkan jasa keteknikan yang sangat baik dan tentu saja dengan teknologi yang sangat maju. Efisiensi, safety, optimasi, merupakan hal yang wajib hukumnya bagi industri migas, dan teknologi dapat menyediakan hal-hal tersebut. Bayangkan mulai dari eksplorasi, eksploitasi, hingga abandonment sumur migas membutuhkan peralatan-peralatan dengan teknologi yang sangat maju. Terlebih akan tantangan di masa depan yang beralih pada Unconventional Hydrocarbon yang tentu lebih sulit untuk dieksplotasi sehingga membutuhkan teknologi yang lebih berkembang dari sekarang.

Faktor keempat, high experience (padat pengalaman), apakah bila ketiga hal di atas sudah cukup untuk “terjun” ke dalam industri migas? Jawabannya mungkin tidak, karena industri ini sangat membutuhkan pengalaman, seperti yang kita ketahui bahwa industri ini sangat terkait dengan keteknikan, science, technology, dan sense of engineering untuk menjalankan operasi dalam melakukan eksplorasi maupun eksploitasi hidrokarbon yang ada di bawah permukaan. Jam terbang dari suatu company sangat berpengaruh di dalam kesuksesan pencarian dan penemuan minyak dan gas bumi.

Oke, cukup untuk gambaran apa itu industri migas, atau seperti apa industri migas tersbut. Mari kita mundur sedikit dan melihat keadaan industri migas kita. Seperti yang kita ketahui bahwa yang bertanggung jawab mengelola sektor hulu migas di negara ini adalah PERTAMINA yang juga merupakan BUMN. Apakah PERTAMINA telah memiliki keempat hal di atas? Mungkin jawaban yang agak pragmatis adalah PERTAMINA belum sepenuhnya memiliki keempat faktor di atas. Layaknya seorang anak kecil, PERTAMINA masih harus banyak belajar dari perusahaan-perusahaan yang memang sudah menjadi “pemain besar” di dalam industri ini.

Dari segi modal, tentu PERTAMINA sebagai BUMN juga masih kalah dengan multinational oil company lain, ditambah PERTAMINA sebagai BUMN yang juga memiliki tanggung jawab terhadap “kesehatan” APBN negara kita, tentu PERTAMINA memiliki stakeholder stakeholder yang lebih banyak seperti DPR, Kementerian ESDM, LSM, dll. sehingga sadar atau tidak, hal ini dapat menghambat perkembangan PERTAMINA untuk membangun bisnisnya. Untuk itu kita tentu akan berpikir ulang apabila ingin membandingkan dengan perusahaan-perusahaan asing yang lain bahwa sesungguhnya kita tidak sepenuhnya compare apple to apple.

Dari segi teknologi, risiko, dan pengalaman, sudah tentu PERTAMINA harus banyak belajar dari peruahaan-perusahaan lain dan meningkatkan kualitasnya agar dapat menjadi “pemain besar” dalam industri ini. Salah satu tujuan Bung Karno sang Proklamator dan orator ulung itu menggagas sistem Production Sharing Contract di dalam sistem tata kelola migas kita adalah agar secara tidak langsung dengan sistem PSC tersebut Indonesia akan cepat belajar dalam hal ini PERTAMINA untuk transfer ilmu, transfer teknologi, dan transfer pengalaman agar pada akhirnya kita dapat “berdikari”, berdiri pada kaki sendiri dalam mengelola minyak dan gas bumi kita agar sesuai dengan amanat konstitusi, digunakan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat. Namun kenyataannya, hal ini belum dapat terwujud, mimpi dari sang proklamator mungkin memang belum menjadi kenyataan, ada ahli yang mengatakan akibat salah pengelolaan, salah regulasi, dan lain-lain, dan saya juga belum dapat menemukan jawabannya.

Dengan tuntutan yang sangat besar akan industri migas di dalam negeri, ditambah tuntutan kebutuhan konsumsi BBM di dalam negeri, tentu kita masih membutuhkan jasa “asing” untuk memproduksi minyak dan gas bumi, mungkin memang agak dilema ketika banyak masyarakat luas, LSM, dll yang mengatakan pemerintah pro asing dan sebagainya karena masih membiarkan lapangan-lapangan migas strategis untuk dikelola oleh perusahaan asing, namun inilah kenyataannya, kita masih membutuhkan jasa perusahaan asing untuk memenuhi kebutuhan BBM kita.

Akan tetapi jangan pesimis terlebih dahulu, tujuan dari tulisan ini sebenarnya adalah mengubah pola pikir bahwa permasalahan yang akan dihadapi PERTAMINA dengan segala keterbatasannya adalah di tangan kita sebagai penerus, saatnya kita memberikan dukungan kepada PERTAMINA sebagai ujung tombak demi kemandirian energi bangsa. Sebagai contoh, lapangan PERTAMINA ONWJ (Offshore Northwest Java) yang diakuisisi oleh pertamina dari BP bahkan memiliki produksi minyak yang lebih besar dari operator sebelumnya yang notabenenya merupakan “pemain besar” dari industri ini. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya PERTAMINA mampu untuk terjun ke dalam industri ini dan sudah saatnya kita memberikan kepercayaan yang lebih kepada PERTAMINA untuk mengelola lapangan-lapangan strategis yang akan habis masa kontraknya seperti blok Mahakam, Attaka, Lematang, dll. demi kemandirian energi yang diwujudkan dalam bentuk nasionalisasi migas dapat tercapai.

“Ketika anak kecil itu akan bermain keluar, ia akan mencoba berlari, mungkin dia akan terjatuh oleh kerikil, atau terperosok jatuh akibat lubang. Ia akan pulang ke rumah dengan luka dan mungkin tangis tapi biarkan, jangan dilarang ia bermain esoknya, karena sesungguhnya ia juga pulang dengan pelajaran. Mungkin esoknya ia akan melangkah dengan lebih lambat ketika berjalan di atas kerikil, atau menghindari lubang yang membuatnya jatuh kemarin. Lambat laun anak itu akan beranjak dewasa dan seperti layaknya seorang anak, ia akan terus belajar dan pada akhirnya akan mencoba untuk meraih apa yang diharapkan orang lain kepadanya, anak itu akan menjadi mandiri, membanggakan keluarganya, dan bahkan akan bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Sebut saja anak itu PERTAMINA”

*Penulis adalah mahasiswa Teknik Perminyakan ITB yang akan terus belajar dan mengaktualisasi diri sesuai dengan bidang keprofesiannya. Semoga tulisan di atas bermanfaat bagi pembaca, dan mohon maaf apabila tulisan di atas memiliki banyak kekurangan. Penulis mengharapkan kritik dan saran agar dapat membuat tulisan yang lebih baik kedepannya.