Kerjasama Buruh Indonesia-Cina

Oleh :Fadhilah Metra (NIM 12213094)

Migran, menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah orang (hewan) yang melakukan migrasi. Migrasi pun bisa dibagi menjadi musiman dan seumur hidup. Tentu saja hal yang kita sering dengar di berita-berita adalah kata turunannya yaitu imigran. Imigran berarti orang yang datang dari negara lain dan tinggal menetap di suatu negara. Konsep imigrasi modern, khususnya pada abad ke 19, terkait dengan perkembangan negara-negara dengan kriteria kewarganegaraan yang jelas, paspor, pengawasan perbatasan permanen, serta hukum kewarganegaraan.

Permintaan jokowi melewati pidatonya di KTT APEC di Beijing, 8 November 2014, agar negara-negara Asia Pasifik datang dan menanamkan modalnya di Indonesia ditanggapi dengan antusias oleh Cina. Cina kemudian membuat rencana investasi besar-besaran di Indonesia. Penjajakan investasi dikonkritkan oleh presiden Jokowi lewat kunjungannya ke Beijing pada tanggal 25–27 Maret 2015 lalu. Dalam kunjungan itu, Presiden Jokowi berhasil menyepakati delapan nota kesepahaman Indonesia-China. Sebagai tindak lanjut dari penandatangan nota kesepahaman tersebut, Wakil Perdana Menteri Cina Liu Yandong datang ke Indonesia demi mencapai kerjasama yang ideal antara Indonesia dan Cina dalam berbagai bidang. Dalam sambutannya di Audiotarium FISIP UI, Yandong mengatakan bahwa akan mengirimkan banyak warga negaranya untuk datang ke Indonesia demi mencapai kerjasama yang ideal antara Indonesia dan Cina dalam berbaai Bidang.

Walaupun bentuk kerjasama dengan Cina dalam berbagai bidang ini menguntungkan kedua negara, ada masalah-masalah yang terjadi akibat pengiriman warga Cina ke Indonesia. Masalah yang muncul seperti berkurangnya lapangan kerja untuk warga negara Indonesia serta munculnya kompetisi bagi buruh/perusahaan Indonesia.

Salah satu berita yang menarik dari kerjasama antara antara Indonesia dan China adalah pabrik yang dibuat di Indonesia dan hanya mau dioperasikan atau buruhnya harus dari China. Tentunya dari pernyataan tersebut saja maka tenaga kerja Indonesia, dengan penganggguran yang mencapai 7,240,000 orang (2014), tidak dapat menggunakan kesempatan tersebut. Jika kesepakatan dengan China memang menguntungkan dan harus dijalani dengan persyaratan tersebut, maka hal tersebut tidak apa-apa. Hanya saja menurut saya, hal tersebut merupakan potensial yang bisa digunakan untuk mengatasi salah satu masalah Indonesia.

Masalah berikutnya adalah kompetisi yang mungkin terjadi akibat kedatangan warga negara China ke Indonesia. Walaupun sekarang hanya bebrapa saja pabrik yang mempunyai 100% warga china sebagai pekerjanya, tenaga kerja Indonesia tidak bisa berdiam diri akan hal tersebut. Jika ternyata kegunaan tenaga warga negara China dinilai lebih menguntungkan (Seperti memiliki harga yang lebih murah dengan kualitas kerja yang sama), maka hal tersebut bisa memberi lebih sedikit lagi peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia. Mungkin saja perusahaan-perusahaan buatan warga China dibuka di Indonesia dan memberikan tantangan bagi perusahaan Indonesia daam bidang yang sama.

Kompetisi yang semakin kuat antara suatu pihak dengan pihak yang lain belum tentu juga hanya memberikan efek negatif. Dengan suasana lowongan pekerjaan atau pasar yang lebih kompetitif, maka orang-orang dituntut untuk meningkatkan kualitas produk/kualifikasi-nya. Hal-hal seperti Go-jek, walaupun mendapatkan masalah social politik seperti legalitas transportasi umum beroda dua dan ketidaksukaan dari ojek konvesnsional, merupakan contoh dari inovasi di bidang transportasi. Hal tersebut penting untuk ASEAN Economic Communities dimana produk/kualifikasi Indonesia akan bersaing dengan produk/kualifikasi negara ASEAN lainnya.

Sebagai penutup, kerjasama Indonesia dengan Cina dalam berbagai bidang akibat Jokowi mengajak investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia mempunyai banyak keuntungan bagi kedua negara terutama di bidang keamanan-politik, ekonomi, dan perdagangan. Pembuatan pabrik ang hanya mempunyai buruh yang berasal dari Cina merupakan kesepakatan yang sudah disetujui, tetapi menurut saya hal tersebut memiliki potensial yang sayangnya tidak terlaksanakan. Indonesia harus meningkatkan kualitas tenaga kerjanya serta perusahaan-perusahaan nasionalnya agar bisa menangani masalah yang bisa terjadi akibat warga Cina yang migrasi ke Indonesia sebagai buruh. Mengingat adanya ASEAN Economic Community, maka masalah ini bisa menjadi renungan apakah Indonesia sudah siap untuk AEC.

Like what you read? Give Kajian HMTM “PATRA” ITB a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.