Indonesia siap dengan pemimpin ESDM yang baru

Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan Universitas Islam Riau

Divisi Kajian Strategi Energi (#Edisi 18)

Setelah dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 14 Oktober 2016 kemarin, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar memiliki sejumlah pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Luasnya wewenang yang dinaungi oleh Kementerian ESDM membuat keduanya harus benar-benar bekerja ekstra.

Presiden Jokowi melantik Ignasius Jonan sebagai Menteri ESDM dan juga melantik Arcandra Tahar sebagai Wakil Menteri ESDM di saat yang sama. Keduanya dilantik di Istana Negara, dan disaksikan menteri Kabinet Kerja dan pejabat tinggi negara lainnya.

Anggota Komisi VII DPR-RI Dito Ganinduto mengatakan, Undang-Undang (UU) Minyak dan Gas (Migas) merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh keduanya. Saat ini pembahasan UU harus segera disetujui pemerintah.

Penunjukan Ignasius Jonan sebagai Menteri ESDM terbilang mengejutkan. Bahkan hingga detik-detik menjelang pelantikan, nama Jonan sama sekali tidak muncul sebagai kandidat kuat pengganti Arcandra Tahar.

Namun menurut Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi, nama Jonan sebenarnya tidaklah muncul tiba-tiba. “Ketika Presiden memutuskan mengangkat Jonan untuk menjadi menteri ESDM, tentu sudah melalui pertimbangan yang cukup teliti, cukup dengan mendengar pendapat, kemudian juga yang menjadi garis bawah Presiden beberapa waktu lalu, Kementerian ESDM harus profesional. Kedua, punya keberanian, integritas yang disampaikan tadi itu," jelas Johan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (14/10/2016).

Begitu juga Arcandra. Penunjukkannya sebagai wakil menteri mendampingi Jonan, bukan tanpa pertimbangan.Arcandra juga memastikan mendukung penuh penunjukan Jonan sebagai Menteri ESDM yang baru. Ia berjanji untuk bekerja sama dalam upaya merevitalisasi sektor energi nasional.

Presiden sangat menaruh harapan pada keduanya dan berharap Jonan dan Arcandra dapat membenahi ESDM di Indonesia. Dengan kemampuan keduanya untuk turun langsung ke lapangan, Presiden Joko Widodo yakin keduanya dapat mengemban tugas berat untuk mereformasi Kementerian ESDM dan juga merevitalisasi sektor energi nasional. Presiden juga percaya bahwa keduanya akan menjadi tim kerja yang sangat baik.

Kita sudah mengetahui bahwa kewenangan yang dimiliki oleh Kementerian ESDM luas. Sektor minyak dan gas bumi (migas), mineral dan batu bara serta kelistrikan menjadi tanggung jawab dari kementerian ini. Apalagi Minyak dan Gas Bumi merupakan pendapatan utama negara kita. Dan kita sama-sama sepakat bahwa ini menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi negara kita.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dan wakilnya, Arcandra Tahar, segera menyusun program kerja setelah dilantik oleh Presiden Joko Widodo. Salah satunya adalah penyelesaian proyek pengembangan ladang gas Abadi, Blok Masela.

Arcandra Tahar mengatakan semua program yang saat ini berjalan akan tetap diteruskan termasuk Blok Masela di Laut Arafuru.

Proyek pengembangan Blok Masela memang menjadi perhatian dari pemerintah. Apalagi Presiden Joko Widodo telah memutuskan pengembangan blok tersebut menggunakan skema darat agar memunculkan efek berganda bagi perekonomian. Keputusan tersebut menganulir usulan pemegang kontrak Inpex Corporation-Shell yang mengusung pembangunan kilang di laut.

Saat ini proyek pengembangan Blok Masela masih dalam tahap penyusunan rencana pengembangan lapangan (PoD). Tapi Pelaksana Menteri Energi Luhut Binsar Pandjaitan berharap pada 2019 sudah memulai konstruksi.

Sementara itu, Menteri Energi Ignasius Jonan meminta waktu untuk menyusun program kerjanya. Sampai saat ini dia belum pernah membicarakan masalah energi secara detail dengan Presiden Joko Widodo. Jonan terakhir bertemu Presiden pada Agustus lalu dan hanya membahas masalah umum. “Kasih waktu kami duduk berdua dengan Arcandra buat berdiskusi,” ujar dia di tempat yang sama.

Jonan menyadari perhatian Presiden Joko Widodo sangat besar terhadap sektor energi. Selain itu juga banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Setidaknya hal itu terlihat dari penambahan posisi Wakil Menteri Energi yang dijabat Arcandra.

Ke depan, Jonan berharap bisa bekerja sama dengan Arcandra secara baik, sesuai arahan Presiden. “Bekerja secara konsep dwi tunggal saja. Ini kami kerja sama saling mengisi dan praktiknya menggantikan beliau,” ujar dia.

Selain itu Jonan juga akan segera bertemu dengan Luhut Binsar Pandjaitan, karena belum sempat berbicara langsung dengannya. Ia akan berbicara dengan Luhut sepulang dari acara Sail Selat Karimata dan serah terima jabatan, Senin pekan depan.

Di sisi lain, Jonan belum berpikir untuk merombak pejabat yang ada di Kementerian Energi. Ia juga menyoroti mengenai paket kebijakan mengenai pungutan liar yang sedang ramai dibicarakan publik. Ia sepakat agar praktik seperti itu harus dihilangkan, apalagi di sektor energi. “Soal pungli itu soal distorsi yang sangat serius untuk kemajuan bangsa. Itu memang harus dihapus,” kata dia.

Selain itu, Jonan juga dikenal sebagai seorang yang berintegritas. Kualifikasi Jonan dipercaya sangat sesuai dengan kondisi sektor migas saat ini, yang butuh seseorang yang keras dengan tindakan serta kebijakan konkret. Di sisi lain, sosok Archandra sebagai Wamen ESDM juga saling melengkapi dengan Jonan. Sebab Archandra dikenal sebagai jagoan dalam aplikasi ilmu di sektor migas. Banyak yang mengatakan bahwa kalau Archandra, jangan ditanya kemampuan dia soal ilmu migas. Jadi duet antara keduanya sangat cocok sesuai dengan yang diinginkan Indonesia, menteri ESDM yang berintegritas, yang berani memotong mafia migas, yang berani turun ke lapangan.

#SalamHMTP #KabinetHMTPBersatu #MariBersinergi #KSE

Show your support

Clapping shows how much you appreciated StrategiEnergi.HMTPUIR’s story.