DENY CANDRA PUTRA ANSORI

PATRA14036

BLOK NATUNA : HARTA KARUN YANG TERANCAM

Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara yang memiliki 13.487 pulau besar dan kecil. Posisi Indonesia terletak pada koordinat 6°LU — 11°08'LS dan dari 95°’BT — 141°45'BT serta terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia/Oseania.

Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra

Pasifik. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Batas wilayah Indonesia diukur dari kepulauan dengan menggunakan territorial laut: 12 mil laut serta zona ekonomi eksklusif: 200 mil laut, searah penjuru mata angin, yaitu:

Utara : Negara Malaysia dengan perbatasan sepanjang 1.782 km, Singapura, Filipina, dan Laut Tiongkok Selatan

Selatan : Negara Australia, Timor Leste, dan Samudra Indonesia

Barat : Samudra Indonesia

Timur : Negara Papua Nugini dengan perbatasan sepanjang 820 km, Timor Leste, dan Samudra Pasifik

Salah satu batas utara negara ini yaitu laut Tiongkok Selatan yang berbatasan langsung dengan Indonesia di Laut Natuna. Di Laut Natuna ini , beberapa saat yang lalu, negara Indonesia memiliki ketegangan dengan negara Tiongkok. Ketegangan yang terjadi dikarenakan Tiongkok melakukan beberapa hal, yakni :

1. Tiongkok membiarkan masyarakatnya untuk melakukan “traditional fishing ground” pada nine dash line yang secara tidak langsung Tiongkok mengklaim daerah tersebut merupaka daerahya.

Hukum laut tidak mengenal “traditional fishing ground”, yang ada hanya “traditional fishing right” di wilayah perairan kepulauan (bukan di ZEE maupun laut territorial), dan harus diatur melalui perjanjian antar negara. Dengan demikian, tidak satu pun kapal ikan asing bisa menangkap ikan di ZEE satu negara tanpa ada izin dari negara pantainya.

2. Dengan mengemukakan dalih di atas, terimplikasi bahwa Tiongkok tidak mengakui

ZEE Indonesia. Padahal Indonesia telah mengklaim ZEE sejak 1983 melalui UU No 5

Tahun 1983, dan tidak pernah ada keberatan dari Tiongkok akan hal itu. Karena itu, berdasarkan hukum internasional, Tiongkok telah mengakui klaim Indonesia atas ZEE-nya.

3. Tiongkok mengirimkan penjaga pantainya untuk menjaga kapal ikannya jauh keluar dari laut teritorial dan ZEE Tiongkok, yang diukur dari mainland of China. Hal ini tentu dapat diartikan bahwa China menganggap perairan Natuna adalah daerah perairan, di mana mereka memiliki yurisdiksi yang selama ini mereka cerminkan dalam klaim sepihak “nine dash line”.

4. Klaim sepihak Tiongkok terkait “historical title” di Laut China Selatan merupakan klaim yang “absurd” dan tidak memiliki alas hukum yang sah. Sejak awal berkembangnya hukum laut jelas bahwa laut tidak ada yang memiliki. Lalu lambat laun negara mengklaim laut yang berbatasan dengan daratannya dengan alasan keamanan negara pantai (national security), dimulai dari hanya mengklaim laut teritorial hingga kemudian juga mengklaim zona tambahan, landas kontinen dan ZEE.

Dari keempat hal tersebut, Indonesia harus mempertahankan laut Natuna dikarenakan laut ini merupakan harta karun bagi negara Ini. Harta karun tersebut yaitu :

1. Di blok Natuna D-Alpha memiliki cadangan gas sebesar 222 juta kaki kubik (TCF) yang tidak akan habis 30 tahun kedepan. Sesaat potensi gas yang recoverable di Kepulauan Natuna sebesar 46 TCF atau setara 8. 383 miliar barel minyak. Apabila dikombinasi dengan dengan minyak bumi, ada sekitaran 500 juta barel cadangan daya cuma di blok itu. Cadangan sebesar ini jika diuangkan sekitar Rp 6000 triliun dimana nilai ini merupakan 3x lipat APBN negara kita saat ini.

2. Wilayah Laut Natuna memiliki potensi lestari perikanan tangkap yang cukup besar, yaitu mencapai 504.212,85 ton, sesuai dengan pendekatan kajian

KOMNASKAJIKAN/KEPMEN NO. 45/MEN/2011. Sumber daya ikan yang mendominasi, terdiri dari :

a. Kelompok Ikan Pelagis Besar : 31.520,16 TON;

b. Pelagis Kecil : 296.455,50 TON;

c. Demersal : 159.699,60 TON;

d. Ikan Karang : 10.288,89 TON; dan

e. jenis lainnya : CUMI, UDANG, KEPITING DAN LOBSTER (6.248,70 TON))

3. Yang paling penting dan paling berharga dari 2 hal di atas yaitu tentang harga diri bangsa. Harga diri bangsa merupakan harga mati yang harus dipertahankan karena menyangkut dengan kedaulatan bangsa. Kedaulatan bangsa harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan.Hal ini juga sudah diperkuat dengan tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yakni “… yang melindungi segenap bangsa Indonesia …”. Melindungi segenap bangsa bukan hanya warga negaranya saja, namun juga keseluruhan dari apa yang dimiliki bangsa Indonesia dari kebudayaan, kesenian, kekayaan alam, sampai batas wilayahnya. Jangan kan satu pulau, satu kabupaten, ataupun satu suku, satu jengkal pun Indonesia harus mempertahankan kedaulatannya.

Dari ketiga hal tersebut jelas bahwa Indonesia harus mempertahankan laut ini dengan berbagai cara baik secara diplomatik maupun secara non-diplomatik. Apabila cara damai sudah tidak bisa dilakukan, maka cara kekerasan pun wajib dilakukan dengan cara perang. Mari kita ingat perkataan Jendral Sudirman untuk mempertahankan laut-laut Indonesia, pulau-pulau Indonesia, dan keseluruhan apa yang dimiliki bangsa ini.

“Pertahankan kemerdekaannya sebulat-bulatnya. Sejengkal tanah pun tidak akan kita serahkan kepada lawan, tetapi akan kita pertahankan habis-habisan. Meskipun kita tidak gentar akan gertakan lawan itu, tetapi kita pun harus selalu siap sedia” Jendral Sudirman.

Terimakasih.

Like what you read? Give kajianenergi.patraitb a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.