Kala dan Aral (I)

cerita pagi, sore, atau malam yang akan tertera setiap hari di bulan yang katanya musim panas.

Nada dering paling simpel “Ten den den den ten den den den ten den den den den” terdengar dari ponsel Nokia jadul yang mungkin bisa untuk mengganjal pintu kamar mandi yang sudah longgar.

Ada nama Kala di layar.

Aral belum benar-benar sepenuhnya tersadar. Sepertinya malah belum ada sama sekali benda bernama sadar dalam pikirannya.

“Halo Ka, kenapa nelfon pagi buta begini? Butuh temen ke fotocopyan? Atau perlu dijemput?”

“Engga kok, cabut yuk, jalan-jalan.”

“Ah dasar gila, kemana?”

“Perkedel Bondon! Laper abisnya.”

“Yasudah ayok, traktir tapi ya.”

“Oke! Ditunggu.”

Aral pun berusaha mengumpulkan tenaga satu demi satu, dan mengambil helm yang terletak di atas lemarinya.

Di perkedel Bondon.

“Laper banget jam segini sampai gak bisa dibawa tidur dan harus ke Bondon?”

“Yap, plus gue sudah lama tidak bertemu dengan lo! Jadi kita harus bertemu.”

Seperti biasa Bandung menghadirkan dinginnya tanpa permisi.

“Lo percaya jodoh?” entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi memang begitulah dia adanya.

“Panjang kalau mau dijelasin, kapan kapan ajalah.” saut Aral.

“Kalau tentang poligami, setuju atau engga?” entah apa lagi yang ada dalam pikirannya, tapi sekali lagi memang begitulah dia adanya.

“Itu lebih panjang lagi kalau mau dijelasin, kapan-kapan ah, lagi ngantuk juga nanti malah ngelantur terus inti penjelasannya jadi malah ga dapet”

“Pilih de Facto atau de Jure?” memang aneh sekali isi otak dari perempuan ini. Tapi Aral tak pernah protes dan selalu menanggapi dengan sabar.

“Tergantung apa dulu, tapi itu juga panjang jadi kapan-kapan juga lah ya. Hahahahha.”

Dengan sedikit kesal Kala menjawab “Semua aja kapan-kapan.”

“Emang semuanya kapan-kapan, kan kapan-kapan itu entah kapan ya gak? bisa aja 5 menit lagi, atau satu jam lagi atau tahun depan, ya kan?” balas Aral.

“Huh emang dasar susah salah.” saut Kala.

Jarum pendek sudah di angka 2 dan jarum panjang di angka 6, mereka masih asik memakan perkedel Bondon sambil masih berusaha melawan dinginnya kota Bandung

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.