Kala dan Aral (VII)

minggu pagi salah satu waktu paling indah.

Hati cerah sekali…melihat pagi ini
Burung bernyanyi…menyambut pagi
Minggu pagi berseri…

Masih memakai celana pendek berwarna hitam, kaos oblong putih dan sandal jepit putih biru Aral bersiul-siul mengikuti irama lagu Koes Plus di atas. Hari masih pagi. Tak ada kewajiban yang mesti dihadiri di hari minggu yang indah seperti itu, Aral pun memutuskan untuk mencuci motornya yang sudah kotor tak karuan.

Aral melihat Kala dari kejauhan datang ke arah kosannya. Aral heran apa yang membuat manusia ini datang di Minggu pagi seperti ini dengan baju yang cukup rapi dan tidak seperti terlihat orang yang baru bangun, malah lebih terlihat seperti orang yang belum pulang dan belum tidur.

“Hai Ka! Ngapain pagi-pagi gini ke sini?” sapa Aral kepada Kala yang masih berjalan menuju rumah kosnya.

“Hai Ra.” ucap Kala yang akhirnya sampai dan duduk di tangga teras kosan Aral, sambil ngeliatin Aral yang sedang asik mencuci motor.

“Hai, pertanyaan gue belum dijawab tadi, ngapain pagi-pagi ke sini? Mau bantuin gue nyuci motor?” tanya Aral lagi sambil mengelap motornya dengan kanebo.

“Engga, mau balikkin ini. Kan katanya besok lo mau pulang ke Jakarta.” jawab Kala sambil memperlihatkan novel Gita Cinta dari SMA yang memang sudah dipinjam Kala sejak lama dan belum dikembalikan.

“Yaelah, kayak gak bakal ketemu lagi aja mesti balikkin sekarang banget, Minggu pagi banget.” balas Aral yang yakin bahwa alasan Kala menghampirinya pagi itu bukan untuk mengembalikkan novel yang sudah dipinjam.

“Sama gue mau minjem buku lagi, dan gue gaktau mau minjem buku apa jadi gue ke kosan lo aja biar sekalian bisa milih-milih.” Kala menambahkan alasannya.

“Hm, emang gak bisa nanti siang kalau itu?” Aral masih yakin bahwa bukan itu alasan Kala kesini, namun ia tak mau langsung bertanya dan memaksa Kala menjawab.

“Sama gue mau ngajak lo sarapan.” tambah Kala.

“Kenapa gak telfon aja kalau mau ngajak sarapan, coba diulang, ngapain Ka Minggu pagi gini ke kosan gue?” Aral akhirnya bertanya kepada Kala.

“Gue mau cerita Ra. Gue mau cerita panjaaang banget.” akhirnya Kala jujur dengan motif kedatangannya di pagi itu.

“Nah kalau ini gue gak heran, tapi tiga alasan tadi juga tetep alasan lo ke sini kan?” balas Aral.

“Iya tapi yang utama yang terakhir.”

“Oke kalau gitu sini bukunya, buku yang lainnya ada di atas di kamar gue nanti lo pilih aja, sama ceritanya sambil sarapan aja gimana?”

“Oke pak.”

.

.

Aral membuka kamarnya yang tidak pernah dikunci. Kamar yang tidak begitu besar. Tak ada poster apapun yang tertempel di temboknya. Hanya ada dua frame foto di kamarnya, foto keluarga dan foto teman SMAnya. Kasurnya sudah tertata rapi. Mejanya tak benar-benar rapi, namun semua barangnya terletak pada tempatnya. Berbagai macam buku mulai dari Hujan di Bulan Juni, Laskar Pelangi, Biografi HOS Tjokroaminoto, Dilan 1 dan 2, 9 Matahari, The Brief History of Time, buku-bukunya Pram, sampai buku Di Bawah Bendera Revolusi nya Ir. Soekarno tertumpuk di atas lemarinya.

Kala yang baru pertama kali masuk ke kamar Aral hanya diam dan memperhatikan seluruh detail dari kamar manusia yang satu ini. Entah mengapa ia terkagum dengan seluruh detail yang ada di dalamnya.

“Itu apa Ra?” tanya Kala sambil menunjuk sebuah papan dengan banyak tempelan kertas bertuliskan berbagai macam kata-kata dan barang barang lainnya.

“Oh itu kertas-kertas sama barang-barang yang pernah dikasih ke gue, gue taro situ. Sama ada beberapa catetan penting.”

“Kalau gue nulis disini boleh?”

“Silahkan aja Ka, tuh kertasnya sama pulpennya ada di situ.” jawab Aral.

“Oh itu kalau mau milih buku liat-liat aja, ada di atas lemari.” tambahnya.

Kala pun langsung mengambil kursi dan menaikinya karena memang badannya tidak cukup tinggi seperti Aral untuk dapat melihat tumpukkan buku di atas lemari.

“Gue pinjem ini, sama ini, sama ini ya Ra.” ucap Kala sambil menunjuk 3 buku, dua yang pertama adalah novel dan yang ketiga adalah biografi.

“Udah tiga doang?” tanya Aral.

“Iya, entar kalau kebanyakan gak abis-abis. Kan kalau mau minjem lagi gampang hahahaha.”

“Yasudah kalau gitu ayok makan.”

“Bentar-bentar, duluan gih ke bawah, gue mau pipis dulu.”

“Oh oke, nanti gausah dikunci ya Ka, ditutup aja pintunya.” jelas Aral.

“Oke.”

Kala pun masih di dalam kamar Aral. Dia mengambil pulpen dan kertas yang ada di atas meja. Dia pun menulis empat kata di atas kertas itu.

“Jangan lupa istirahat cumi. –Kala”begitulah tulisan yang tertera di kertas.

Dia pun langsung menempelnya di papan dan langsung menyusul Aral ke bawah.

“Ka, kita jalan kaki aja yuk ke tempat makannya, motornya abis dicuci lagian sayang ha ha ha.”

“Ye, emang kalau motor abis dicuci gabisa dipake.” balas Kala.

“Ya bisa, tapi gue lagi pengen jalan kaki aja. Kan lo bisa sambil cerita pas jalan dan lebih enak ceritanya. Lagian sekali-sekali melepaskan diri dari tirani kemudahan teknologi. Hahahaha”

“Okelah, kalau alasannya itu gue terima.”

Kala mulai bercerita panjang lebar sambil berjalan kaki menuju warung bubur yang memang terkenal dan buka di pagi hari.