Kala dan Aral (XX)

asal jangan jiwa yang terpenjara.

“Ra! Liat deh, gila juga Kim Jong Un ini ya.” ucap Kala sambil memperlihatkan ke Aral berita bahwa Kim Jong Un menghukum mati pamannya dengan melemparkan tubuhnya ke segerombolan anjing yang sedang kelaparan.

“Keren emang Kim Jong Un, mau ngehukum aja hukumannya out of the box.” balas Aral

“Menegakkan hukum sih menegakkan hukum tapi suka gila juga gitu ya dia.”

“Namanya juga Korea Utara Ka.”

“Tapi menurut lo hukuman harus seberat-beratnya atau gimana Ra?”

“Dulu gue mikir kadang hukuman mati, hukuman rajam, hukuman cambuk, hukuman potong tangan itu gak manusiawi Ka. Dulu tapi itu. Terus sekarang-sekarang gue makin ngerti gitu kenapa hukuman memang dibuat mengerikan.”

“Kenapa tuh Ra?” tanya Kala.

“Ya tujuan hukuman dibuat semengerikan itu ya biar orang gak ada yang melakukan pelanggarannya, bukan biar orang jera.”

“Tapi kalau orangnya khilaf gimana Ra?”

“Nah gue dulu juga mikir gitu Ka, kalau emang orangnya lagi khilaf gimana. Tapi setelah gue berpikir lagi, ya sebenernya khilaf tuh apa sih? Mencuri karena khilaf gitu? Atau memperkosa karena khilaf? Gue percaya gitu kalau yang kayak gitu-gitu sebenernya atas kemauan pribadi, dan sebenernya dia bisa mencegah cuma ya karena hukumannya masih ringan jadi mereka ngelakuin itu gitu aja. Ya gak sih?”

“Ya bener juga sih Ra. Sama gue ada pertanyaan lagi. Mendingan dipenjara seumur hidup atau dihukum mati?”

“Dulu dengan mudah gue jawab dihukum mati. Karena dulu juga gue kira gue tidak akan bisa bebas seumur hidup adalah hal yang lebih mengerikan daripada dihukum mati. Tapi sekarang beda, kalau lo gimana Ka?”

“Gue belum bisa milih Ra. Kata lo sekarang beda, gimana tuh bedanya?”

“Ya semakin ke sini gue sadar gitu. Bahwa kebebasan itu tidak hanya kebebasan fisik. Tapi kebebasan adalah kebebasan berpikir dan merasa. Kayaknya asal hak gue akan berpikir dan merasa gak diambil gue masih akan merasa bebas.”

“Pantes aja ya Ra orang-orang dulu cem Soekarno, Tan Malaka siapa lagi ya hmm, Buya HAMKA, malah ngehasilin buku dan tulisan hebat justru pas mereka lagi di penjara. Bisa jadi Republik Indonesia ini gak ada, karena Tan Malaka ngerumusin Republik Indonesia ini lewat Naar de Republiek Indonesia juga lewat pemikirannya di penjara.”

“Ya kan Ka? Ngebuat orang mikir lagi bahwa penjara yang ada di dunia ini hanyalah penjara fisik. Makanya gue gak heran kalau dulu Buya HAMKA malah berterimakasih karena udah dipenjara, karena pas di penjara dia berhasil ngehasilin Tafsir Al-Azhar. Bahkan dia tanpa dendam sama Soekarno, makanya pas Soekarno meninggal, keluarganya minta yang imamin solat jenazahnya Buya HAMKA dan beliau dengan senang hati melakukannya.”

“Siapa lagi ya Ra orang-orang yang menghasilkan tulisan-tulisan walaupun dia di penjara?”

“Gue Ka, kalau gue dipenjara.”

“Ye elu jangan aneh-aneh deh.”

“Beneran ini mah hahaha, gak ada kerjaan lain kan soalnya.”

“Ya iya tapi gak perlu dipenjara dulu kali buat bisa nulis.”

“Iya sih.”

“Manusia sekarang, banyak yang fisiknya doang keliatannya bebas gak sih Ra, tapi sebenernya jiwa mereka dipenjara. Dipenjara rasa takut lah, rasa rakus lah dan lain-lain.”

“Iya karena yang sebenernya paling penting, mau dimanapun kita, jangan sampai jiwa manusia itu terpenjara.”

“Edan keren banget kita berfilosofi begini hahahahaha.” Kala berpendapat sambil tertawa.

“Ra, gue punya quotes keren dong.” tambahnya.

“Apa tuh Ka?”

“Mental manusia ada batasnya, fisik manusia lebih banyak lagi batasnya, tapi jiwa mereka tak berbatas, dan oleh karenanya mereka disebut manusia.”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.