Kala dan Aral (XXI)

bumi itu tidak sederhana namun bisa dihitung.

Aral menyalin data-data tugas kuliahnya dari catatan ke kertas. Tak sengaja dia salah menulis angka. Aral mengeluarkan tipex dari tempat pensilnya. Kala melihat dan berkata.

“Ih Ra jangan di tipex!”

“Kenapa emang Ka, ini ada yang salah tulis soalnya.”

“Nanti lo gak tau kalau itu salah.” kata Kala

“Tau kok, kan itu ada bekasnya.” balas Aral.

“Iya tapi lo jadi gaktau salahnya apa.” balas Kala lagi.

“Bener juga Ka. Jadi tipex sebenernya gak diperluin ya?” ucap Aral yang mau membuang tipexnya.

“Perlu kok Ra, kan bisa buat nulis. Huh maaf yak Ra tadi kebiasaan di jurusan soalnya ga boleh di tipex.”

“Jadi lo di jurusan gak boleh pake tipex?”

“Boleh sih tapi kalau lagi nulis data dan mindahin data gak boleh, karena siapa tau data yang awalnya kita kira salah adalah yang bener.”

“Jurusan lo sebenernya apa dan belajar apa sih Ka?”

“Panjang Ra kalau mau dijelasin. Kalau dari definisinya dulu ya, jangan buka kbbi! Disana ada definisi geodesi tapi gue gak setuju, jadi pake buku dosen gue aja.”

“Apa tuh Ka?”

“Geodesi itu adalah ilmu yang mempelajari penentuan medan gaya berat bumi, penentuan posisi dan variasi temporal keduanya. Kalau secara etimologi sih geo artinya bumi dan desi atau daisia itu artinya membagi. Tapi gue punya definisi sendiri Ra tentang si geodesi ini.”

“Hahahaha definisi sendiri gimana tuh Ka?”

“Iya setelah gue beberapa tahun belajar, menurut gue geodesi itu adalah ilmu yang bisa menjelaskan dan mendefinisikan semua fenomena terkait bumi hanya dengan model matematis dan angka.”

“Contohnya apa tuh Ka?”

“Contohnya hmmm, gini, pasti kebanyakan orang cuma taunya bumi berevolusi dan berotasi, dimana revolusi itu berarti bumi muterin matahari dan rotasi itu berarti bumi berputar pada porosnya. Padahal ada gerakan periodik bumi lain yang juga berputar namanya presesi dan nutasi. Minjem kertas dan pulpen Ra.”

Kala menggambar lingkaran-lingkaran di kertas dengan garis-garisnya. Mencoba menjelaskan perbedaan antara revolusi, rotasi, presesi dan nutasi.

“Trus ini kan buminya secara keseluruhan Ka, kalau secara fenomena khususnya apa tuh?”

“Pasang surut air laut. Itu bisa diukur dan diprediksi dengan data angka. Terus hmmm mitigasi bencana Ra! Kita bisa tau sebenernya vektor pergerakan lempeng, sesar, dan gunung berapi. Jadi ya kasarnya bisa diprediksi lah fenomenanya.”

“Nah selian fenomena yang alamiah ada lagi gak Ka?”

“Ada sebentar.” Kala menjawab sambil mencoba mengembalikan memori ingatannya dengan mata terpejam.

“Lo tau Menara Saidah Ra?”

“Tau Ka, menara yang di jalan MT Haryono itu kan? Yang sekarang udah kosong bahkan dibilang horor karena katanya menaranya miring.”

“Menara Saidah gak miring Ra!!” Kala tiba-tiba menyaut.

“Hah tapi kan rumornya begitu Ka?”

“Nah itulah geodesi Ra, dia bisa ngebuktiin rumor itu bener atau ngga, dengan survei lapangan dan data yang akurat. Dosen gue udah membuktikan kok kalau itu gak miring, jadi rumor itu ya cuma permainan kotor aja.

“Wah keren. Emang gila ya media dan fitnah tuh. Terus apalagi apalagi Ka?” Aral semakin penasaran dengan ilmu yang selama ini dipelajari oleh Kala.

“Jakarta turun tiap tahunnya Ra.”

“Oh iya? Parah gak?”

“Parah Ra lumayan. Daerah Jakarta tuh tadinya rawa-rawa, sekarang jadi hutan beton gini, ya gimana.”

“Huh oke oke serem juga. Terus kalau waktu itu lo gambar-gambar Causal Loop Diagram, apa hubungannya Ka sama geodesi?”

“Selain belajar fenomena bumi dan semuanya itu, gue juga belajar gimana cara bisa ngeliat suatu masalah secara spasial, dan akhirnya bisa nyelesein semuanya dengan berpikir sistemik. Jadi nanti bisa ikut dalam pengambilan keputusan untun penentuan kebijakan gitu Ra.”

“Luas juga ya ilmu lo itu.”

“Iya Ra! Sekarang gantian dong lo yang cerita tentang jurusan lo!”

“Jurusan gue? Hm oke gue mulai dari poin terakhir penjelasan lo tentang jurusan lo ya, karena itu yang paling mendekati jurusan gue.”