Buku dan Gerakan Pustaka; Buat Apa dan Mau ke Mana?*

gilmau
gilmau
Sep 8, 2018 · 4 min read

Banyak orang berpikir mereka butuh banyak buku untuk membangun perpustakaan atau terlibat dalam gerakan pustaka. Tak sedikit orang datang kepada saya untuk menyatakan pikiran semacam itu. Saya selalu mengajukan pertanyaan mendasar kepada mereka: buku-buku itu buat apa? Tentu saja jawabannya jelas: untuk dibaca. Tetapi, bagaimana caranya membuat buku-buku itu dibaca? Pertanyaan terakhir itu kerap membuat banyak mulut hanya menganga tanpa suara.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar saya tadi berangkat dari sebuah asumsi: buku BUKAN hal terpenting dalam pembangunan perpustakaan atau gerakan pustaka. Benar bahwa perpustakaan butuh buku sebagai bahan bacaan tapi dalam aktivitas kepustakaan buku-buku hanyalah alat penunjang. Untuk tujuan apa alat-alat penunjang itu digunakan? Bagaimana menggunakannya sebagai alat penunjang? Itu yang harus dipikirkan pustakawan atau siapa pun yang sedang dan hendak terlibat dalam gerakan pustaka.

Membaca yang Sudah Ada

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tadi, ada baiknya kita lebih dulu membaca pola gerakan yang sudah ada. Pembacaan ini berguna untuk memahami bagaimana gerakan-gerakan pustaka memosisikan buku dan bagaiamana mereka menggunakan buku untuk menunjang agenda-agendanya.

Secara umum, gerakan pustaka kita terbagi dalam dua kutub: gerakan yang berwatak (re)distributif dan elaboratif. Dua gerakan ini muncul dari basis situasi dan kondisi yang berbeda satu sama lain. Akan tetapi, keduanya sama-sama berkembang secara sporadis. Meski berjalan sendiri-sendiri (atau bertahap; distributif dulu baru kemudian menjadi elaboratif atau sebaliknya), namun kedua gerakan ini bisa kita temukan di hampir semua tempat: di pojok-pelosok desa hingga di sudut-sudut gemerlap kota.

Gerakan berwatak (re)distributif menyebarluaskan bahan bacaan atau membuka akses bahan bacaan kepada mereka yang membutuhkan. Kita bisa menyebut Perahu Pustaka yang dinahkodai Muhammad Ridwan Alimuddin di Pambusuang, misalnya, sebagai salah satu patron dalam gerakan ini. Perpustakaan-perpustakaan jalanan di berbagai kota juga bisa kita sebut sebagai bagian dari gerakan (re)distributif yang berusaha mengisi ruang-ruang publik kota.

Berbeda dengan gerakan berwatak (re)distributif, gerakan elaboratif tak memfokuskan dirinya bekerja membuka akses bahan bacaan kepada suatu komunitas, tapi ia bekerja meningkatkan kemampuan komunitas dalam membaca sebuah bahan. Alih-alih berpindah-ruang membawa buku-buku sebagaimana yang dilakukan Perahu Pustaka-nya Ridwan atau perpustakaan-perpustakaan jalanan, gerakan ini justru berdiam di satu tempat dan mengkhusyukkan agendanya pada proses pembacaan satu-dua bahan secara intens dan mendalam. Taman Baca Multatuli-nya Ubaidillah Muchtar di Ciseel, Banten, adalah salah satu contoh gerakan elaboratif yang bisa kita lihat. Kang Ubay menggunakan metode membaca intensif bersama anak-anak anggota taman bacanya untuk mengelaborasi satu buku: Max Havelaar-nya Multatuli. Ada banyak contoh lain dari gerakan elaboratif yang bisa kita lihat, seperti misalnya klub baca di berbagai kota yang rutin menggelar pertemuan atau portal-portal daring yang menyajikan pembahasan, kritik, dan bahkan polemik tentang buku.

Pada dasarnya, buku berposisi sebagai alat penunjang pembuka akses dalam gerakan (re)distributif. Bermacam-macam jenis buku digunakan untuk membuka akses ke pengetahuan yang lebih luas. Posisi ini berangkat dari basis kondisi sosial yang dihadapi: publik dengan keterbatasan akses terhadap (ilmu) pengetahuan. Oleh karena itu, kita bisa melihat gerakan-gerakan semacam ini kerap berada di komunitas pinggiran, pedalaman, atau rural — yang secara struktural kesulitan mengakses beraneka ragam (ilmu) pengetahuan mutakhir dari sistem pendidikan formal-kapitalistik.

Sementara itu, dalam gerakan elaboratif, buku digunakan sebagai alat penunjang untuk mendalami isu atau tema tertentu secara intens. Di sini, buku tak lagi berposisi sebagai ‘jendela’ yang memperluas cara pandang, tapi sebagai objek yang dicermati menggunakan berbagai sudut pandang. Hal itu dimungkinkan sebab gerakan elaboratif muncul dari basis kondisi sosial yang lebih mapan: publik dengan kebiasaan-baca kuat dan akses (ilmu) pengetahuan yang sangat terbuka. Pembacaan elaboratif ini, dalam pandangan saya, adalah tahap lanjut dari kerja-kerja distributif; ketika akses publik terhadap pengetahuan terbuka lebar, publik musti memilah dan menelaah pengetahuan baru itu untuk mendayagunakannya dalam hidup mereka.

Membaca yang Belum tapi Harus Ada

Jika anda terlibat dalam gerakan pustaka, peduli dan bergerak saja tak cukup. Anda harus punya arah ke mana hendak melangkah. Arah ini hanya mungkin ada jika anda memahami peta masalah. Tentu saja orang harus terlibat dalam sebuah gerakan untuk memecahkan masalah bersama, bukan untuk sekadar menjadi keren.

Gerakan pustaka ada untuk mengatasi persoalan kemanusiaan. Artinya, gerakan tak hanya membaca dan mengurusi masalah perbukuan semata. Gerakan juga harus bisa membaca persoalan di masyarakat. Tuntutan itu adalah konsekuensi logis dari (re)distribusi dan elaborasi (ilmu) pengetahuan yang diusahakan gerakan pustaka; pentingya (ilmu) pengetahuan adalah untuk didayagunakan semaksimal mungkin bagi kemaslahatan umat manusia dan alam semesta. Pentingnya membaca dalam gerakan pustaka sama sekali bukan untuk mencapai citraan-citraan (sok) intelektual tapi untuk menyadari dan menghadapi keberadaan persoalan kemanusiaan.

Satu persoalan mutakhir yang bisa kita lihat (dan rasakan) adalalah krisis ekologis. Rusaknya lingkungan dapat membawa masyarakat pada konflik horizontal dan vertikal. Presedennya bisa kita lihat dari banyak kasus persengketaan lahan antara warga sipil dan korporasi bisnis. Tentu saja warga merasa terancam dan terepresi jika sumber-sumber alamaiah penopang kehidupan mereka rusak karena diekspolitasi oleh kepentingan bisnis. Hari ini, kita barangkali melihat preseden itu sebagai kasus-kasus kecil tapi, dalam skala yang lebih besar, kita bisa membayangkan perang atau bahkan genosida. Tentu saja kondisi semacam itu tak baik bagi siapa pun; tak ada yang suka hidup dalam kekacauan.

Pembacaan persoalan semacam itu harus dilakukan gerakan pustaka sejak sekarang. Tujuannya agar kita bisa menyusun langkah-langkah visioner; mau ke mana kita setelah distribusi dan elaborasi (ilmu) pengetahuan? Mau kita apakan (ilmu) pengetahuan itu? Tentu saja jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu harus mewujud dalam laku hidup sehari-hari.

Saya kira pengaruh terhadap laku hidup ini adalah capaian penting yang harus diusahakan gerakan pustaka. Agenda-agenda distributif dan elaboratif dalam gerakan pustaka, sedikit-banyak, musti membuat laku hidup kita menjadi lebih bermakna. Ukuran bermakna yang saya maksud adalah kemaslahatan bagi diri sendiri, masyarakat, dan alam semesta. Kita tentu tak boleh abai bahwa kebaikan atau kerusakan besar dalam kehidupan ini bermula dari laku harian kita yang paling kecil dan remeh sekalipun. [*]

— — — — — —

*) esei ini dimuat dalam zine Kartini Bumi Literasi sebagai bahan diskusi pada acara Kenduri Literasi: Peringatan Hari Kartini, Hari Bumi, dan Hari Buku Internasional, yang diselenggarakan di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang, 22 April 2017.

    gilmau

    Written by

    gilmau

    bagian kecil dari alam raya

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade