Menggembala Rindu di Padang Kata-Kata

4. Kali

Matamu, mata yang lebih mirip peti es daripada bola mata, bagiku adalah almari bagi rahasia. Sepasang matamu masih menyimpan rindu yang katamu mati. Rindumu itu bak mamoth mati di kutub utara atau ikan-ikan dalam peti es kapal nelayan. Mati, tak bernyawa tapi dingin dan masih ada.

Jikalau benar mati, kenapa tak kau biarkan busuk?

Yang kau akui mati, kenapa tak kau relakan sirna?

Akankah rindumu yang membusuk duluan, ataukah penantianku?

Yang mati biar membangkai, biar mengurai bersama harap-harapmu yang tak guna itu, sayang.

Ah!

Ah, persetan.

Persetan rindu persetan tunggu persetan dungu.

Yang penting bisa kujamah tatapmu malam ini.

Matamu, redup sayu lampu sorot dan gesek senar biola pada klimaks opera. Matamu almari duka. Matamu yang terus terbit tenggelam di dadaku.

“Belum pulang, Mbak?”

Diletakkannya kopi kedua Muara untuk malam ini. Cangkir yang tinggal isi ampas kopi itu diangkutnya dengan baki. Pemilik meja tak bergeming, pertanyaan yang sampai ke telinga tak sempat dijawabnya. Fokusnya dihisap total layar monitor di hadapannya, mengingat sudah pukul 10 dan tubuhnya telah meminta jatah istirahat. Kini ia cuma ingin bisa membaringkan tubuh di kasur, sendi-sendinya lelah bekerja, lehernya ingin berbagi beban dengan bantal. Matanya ingin memasuki gelap, nyawanya ingin menepi dalam mimpi.

“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?”

Lama ia berdiri di depan pintu, siapa tahu pertanyaannya kali ini menuai jawab, atau mungkin tidak lagi.

Ternyata belum. Setelah huruf terakhir yang diketiknya, Muara membuka suara membuat Kali refleks menengokkan kepala. Mata itu akhirnya menemukan tatap Muara. Nampak senyum tipis pada wajah letih itu. Senyum yang membuat sesuatu berdegup lebih cepat dalam dada Kali.

“Kal, terima kasih kopinya.”

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Anisya Riski’s story.