Usai Padam


Bola lampu beranda atau ruang tengah rumahmu

Akan tiba pada padam yang selamanya

Juga, nyawa


Satu hari

Belasan taun lampau

Di sebuah rumah

Lampu paling terang menemui padamnya


Mana bisa menyisir rambut dalam remang

Keluh gadis kecil di depan cermin,

“Aku perlu lebih lagi pelita.”


Aku butuh cahaya untuk membaca buku cerita untuk menulis untuk melukis

Ia menggerutu,

“Ah, tapi di sini tak cukup terang.”


Gadis kecil takut gelap

Jika gelap dan sepi sudah koalisi begini

Murunglah ia teringat pada bola lampu yang padam


Malam tadi

Gadis kecil berlarian dikejar-kejar bayangannya sendiri

Tersandung

Terbentur

Tersungkur dalam jurang gelap dan kalap

Lagi, gadis kecil menggerutu pilu

“Ya Tuhan, aku hanya mohon bola lampu baru.

Itu saja.”


Untuk kali pertama sepanjang sumbu usianya

Ia hanyut dalam arus tradisi manusia

Memanggil tuhan dan mencari keinginan dalam satu tarikan napas


Sayangnya,

Ia tak terlalu akrab dengan tuhan

Gadis kecil tak tau cara merengek pada tuhannya

Ah, mungkin ada cara

Suatu hari ia tulis sebuah surat

Esoknya

Lusa

Lusanya esok

Pun lusanya lusa


Tapi tukang pos tua berkata,

“Tak pernah ada surat balasan dari langit, nak.”


Ia pulang

Menangis sepanjang jalan

Menangis di dalam kamar


Hingga

Satu hari

Datang kurir membawa bungkusan paket

Tertulis,

dari: Tuhan


Nak,

Tuhan tak membalas surat dengan surat

Tuhan memberi sirat setelah surat-surat

Kata sang kurir,

Lalu hentilah tangis itu


Nak,

Entah apalagi kata bapak tua itu

Mulutnya berkata dan kumis putihnya bergerak-gerak

Tapi gadis kecil telah sibuk membuka paket tuhan


Ah!


Tuhan

Aku mau lampu

AKU MAU LAMPU, TUHAN

Kenapa yang Engkau kirim malah sebuah pintu?


Malam sunyi, pintu-pintu rindu menganga, masa yang lalu bertamu.

Malam ini gadis kecil sudah jadi gadis saja, tengah menulis puisi singkat yang singgah tiba-tiba di kepalanya pada tengah malam begini. Padahal mata telah siap mengatup, tapi rindu akan dongeng-dongeng mengetuk mata, binasalah kantuk oleh gundah gulana.


Api, lampu, usia, tak ada itu yang namanya hidup, semua hanya menyala dan padam pada masanya. Umur hanya hitung-hitungan manusia dan seorang bapak akan tetap bilangan-bilangan tak terhingga bagi gadis kecilnya. Raga butuh nyawa untuk tinggal di dunia, tapi kenangan tidak.

Ah, dulu bapak akan mendongengkan apa saja sampai aku tertidur.