Yang terdalam

siang itu peluh masih membasahai tubuh seorang anak lelaki yang baru saja pulang menimba ilmu, tak dihiraukannya penat yang datang seiring langkah yang di ayunkan dari sebuah kampus menuju rumah di rantau nya

sesampainya di anak tangga menuju lantai dua bangunan tempatnya tinggal, dikeluarkannya sebuah ponsel lawas yang huruf-huruf di papan ketik yang sudah tak terlihat

lalu diketiknya pesan “ Dik, bisa video call hari sekarang “ ?

beberapa menit kemudian tibalah balasan dari pesan yang ia kirim “ oke, via skype ya”

lalu diambilnyalah sebuah ponsel dari dalam tas dan dimulailah video call dengan adiknya

“ halo bang… apa kabar?

“ baik, kamu gimana? “ ujar abangnya

baik bang jawab si adik

“ ternyata ada ibu disamping adiknya”

sang ibu lantas bertanya,

“ bang, apa kabar? sudah makan belum ? “ dijawab oleh anak “ sehat ma, sudah tadi,

“ Mama sendiri gimana? sehat jawab si ibu

ketika adik dan abang asik mengobrol, tiba-tiba ibu menangis

“ sang adik pun bertanya, Ma kok nangis? “

sejenak isak tangis itu berhenti, berganti kalimat yang keluar dari mulut sang ibu

“ mama kangen… sama abang” lalu sekelabat kemudian sang anak diseberang sana yang melihat layar ponsel nya dengan ekspresi seorang ibu seperti itu,

bulan ramadhan semakin dekat, kerinduan seorang ibu pada anaknya yang sudah lama tak pulang,

dalam hati anak itu berkata “ abang pulang kok ma”

jujur saja, anak lelaki itu tak sanggup menyembunyikan kesedihannya ketika melihat ekspresi ibunya seperti tadi, pilu memang ketika orang tua merindukan kita, tapi kita tak pernah coba untuk mengubunginya, sekedar menanyakan kabar

air mata seorang ibu begitu berharga menjadi jembatan untuk berjumpa dengan anaknya,

mama, doakan anakmu ini bisa pulang dengan selamat “ dalam hati kecil anak lelaki itu berdoa seraya melihat awan-awan yang digiring angin entah kemana,

ma…

aku akan pulang
tak ada tempat senyaman didekatmu di negeri inia
air mata itu menjadi cerminan kerinduanmu yang mendalam