The Power of Silent Majority

Kemenangan Trump adalah bukti bahwa yang rame di social media tidak selalu berarti yang paling banyak didukung.

Hanya karena tidak berargumen di social media, bukan berarti mereka tidak punya pilihan. Mereka mungkin hanya tidak ingin pertemanannya berakhir hanya karena pilihan politik. Makanya mereka tidak mau adu argumen di social media.

Yang lebih menakutkan dari kemenangan Trump adalah: ternyata bukan di Indonesia saja, di luar negeri, bahkan di negara yang konon katanya paling “terbuka” di dunia, kebencian dan SARA masih sangat laku untuk dijual. Dan ini sudah abad ke-21.

Satu hal yang perlu digarisbawahi dari kemenangan Trump dan demo Ahok adalah: ternyata keterbukaan akses informasi tidak selalu berbanding lurus dengan keterbukaan pikiran.

Memilih calon dalam setiap proses demokrasi, mau itu pilkada, mau itu pilpres sebenarnya tidak terlalu susah. Karena masing-masing dari kita sudah punya nilai yang kita pegang sejak kecil. Dan alam bawah sadar kita akan mendorong kita untuk memilih calon yang memegang nilai-nilai yang sama dengan yang kita miliki. Yang jadi masalah adalah ketika nilai-nilai tersebut tidak lagi menjadi acuan kita dalam menentukan pilihan karena kita terjebak dalam “perang” bermodalkan kebencian.

Dari situ saya jadi belajar, ketika musim pemilu datang, memilih pemimpin sesungguhnya sangat mudah. Yang lebih sulit adalah memilih untuk tetap waras.