Bacaanmu Persepsimu

Karena ternyata, masih ada secuil harapan untuk tetap bisa meraut kelihaian berbahasa Indonesia dari sumber konten daring

Saya berasumsi, terlalu lama terpapar konten daring (dalam jaringan, alias online) adalah penyebab utama kefasihan berbahasa Indonesia saya menurun. Tapi kemudian, setelah baru-baru ini mengenal sebuah situs web berita lokal dan membaca konten-kontennya, ada kesadaran yang tergugah dalam alam pikiran saya.

Ternyata, masalahnya bukan soal saluran/wujud konten — cetak atau digital — melainkan sumber mana yang saya baca.

Ya, daring adalah istilah baku bahasa Indonesia (Sumber definisi: KBBI)

Selama ini saya berpikir kalau konten daring telah memangkas banyak hal esensial dalam dunia penulisan, khususnya artikel.

Prinsipnya yang mengedepankan kecepatan telah memotong ruang waktu, baik dalam proses produksi juga konsumsi, serta panjang tulisan. Sang penulis dibatasi oleh tenggat yang makin sempit untuk menghasilkan konten, begitu pula sang pembaca tak lagi rela menghabiskan waktu untuk membaca teks panjang.

Tenggat, bukan tenggat waktu (Sumber definisi: KBBI)

Pada akhirnya, cara kita dalam berbahasa pun berubah. Bila sebelumnya penulis punya ruang dan waktu — juga terbiasa—untuk memperkaya tulisannya dengan gaya bahasa tertentu, sekarang cara penyampaian yang langsunglah yang laku. Bagaimana sebuah pesan dapat tersampaikan dalam waktu singkat dan usaha minim telah menjadi prinsip utama.

Lebih jauh, sebuah tulisan tak lagi dipandang sebagai hasil keterampilan, sekaligus bukan lagi sarana belajar berbahasa. Nalar yang pendek dan makna senyata hitam-putih menjelma sebagai syarat, demi jadi yang tercepat.

Gaya bahasa, satu bekal penting bagi seorang penulis (Sumber definisi: KBBI)

Maka tak heran bila sekarang jarang sekali saya temukan kosakata-kosakata unik di sebuah tulisan, atau analogi dan ungkapan menarik yang bisa memancing daya imajinasi.

Saya kehilangan ‘kemewahan’ yang dulu bisa didapat saat membaca, seperti menambah perbendaharaan kosakata, mempelajari cara bertutur baru dengan ragam bahasa tertentu, mempertajam daya nalar, dan bahkan berlatih mengolah rasa; bagaimana sebuah kalimat atau kata dapat menimbulkan emosi tertentu.

Intinya, saya kehilangan sumber untuk belajar bahasa Indonesia yang sebenarnya kaya dan indah.

Definisi lain yang tunjukkan pentingnya gaya bahasa untuk tulisan (Sumber definisi: KBBI)

Inilah yang membuat saya sedikit terkejut dan berujung tersenyum manis saat membaca konten situs web Tirto.id. Senang sekali rasanya mendapati kosakata dan frasa seperti elegi, marabahaya, meregang nyawa, gelintir, atau tipe-tipe judul artikel semacam “David Tarigan dan Irama Nusantara”, “Sejarah Teriakan di Monas: Dulu Pekik ‘Merdeka’, Kini Takbir”, “Menambang Laba dari Dusta”, “Lika-Liku Biola Legenda Stradivarius”, atau “Buaya-buaya Keroncong di Masa Lalu”.

Saya sendiri lupa kalau kita punya kosakata ini (Sumber definisi: KBBI)

Pertama, kata-kata cetak miring di atas hanya sebagian kecil contoh kata langka-pakai yang ada di situs web tersebut, dan sudah jarang saya temui di kebanyakan artikel daring. Kedua, saya rindu tipe judul artikel seperti contoh-contoh di atas! Meski bukan bentuk yang populer di dunia maya, tapi judul-judul yang sarat kiasan itu justru bikin saya penasaran akan isi artikelnya.

Perangkat bahasa yang dapat membangkitkan imajinasi pembaca (Sumber definisi: KBBI)

Pengalaman membaca konten Tirto.id lalu mengingatkan saya pada sebuah situs web lain, yang sudah lebih dulu saya kenal dan selalu menjadi referensi pribadi untuk penulisan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan bermutu. Namanya destinasian.co.id, versi daring majalah DestinAsian Indonesia.

Membaca bahasa yang digunakan media gaya hidup ini bisa memuaskan rasa haus saya akan konten bahasa Indonesia yang bernas. Sebagai pembaca, saya mendapatkan hal bernilai dari dua situs web di atas: konten-konten daring yang berbobot, menghibur dan unik pembahasannya, sekaligus indah bahasanya.

Istilah ini terbilang sudah jarang digunakan (Sumber definisi: KBBI)

Akhirnya saya pun jadi berpikir ulang mengenai prasangka negatif yang lumayan lama berseliweran di kepala. Bila tadinya saya pikir dunia informasi digital telah mengikis kekayaan ragam bahasa kita, kini pesimisme tersebut (setidaknya) sedikit melunak.

Ini bukan soal wujud atau saluran distribusi konten, melainkan siapa yang membuatnya. Meski minoritas, setidaknya masih ada ruang-ruang tempat bahasa Indonesia bisa mempertunjukkan karakternya yang tulen.

Mungkin ‘orisinal’ lebih terdengar familier? (Sumber definisi: KBBI)

Dan saya berterima kasih kepada situs-situs web di atas beserta para penulisnya, karena telah berhasil membuat saya beranjak optimis mengenai konsep berikut: Bahasa Indonesia versi digital itu tak mesti dangkal, dan daring bukan berarti ‘kering’.