Semaput
Nov 4 · 1 min read
Dagingmu, tulangmu, tidak ada arti.
Tak sekuat itu ia mampu menopangmu.
Jiwamu, batinmu, sumber utamamu abai.
Kau anggap ia di bawah kendalimu.
Pongah. Kau bilang ini perjuangan.
Sampai satu waktu, debu menjadi batu,
Angin menyayat perih, melebihi tajamnya pisau.
Kau tertegun, gagu, indramu beku.
Dagingmu, tulangmu, mati.
Jiwamu, batinmu, hancur.
Bahasamu binasa, kecuali satu kata,
“Tolong.”
Bintaro, 4 November 2019
