Semaput

Kania Laksita Raras
Nov 4 · 1 min read

Dagingmu, tulangmu, tidak ada arti.
Tak sekuat itu ia mampu menopangmu.
Jiwamu, batinmu, sumber utamamu abai.
Kau anggap ia di bawah kendalimu.

Pongah. Kau bilang ini perjuangan.
Sampai satu waktu, debu menjadi batu,
Angin menyayat perih, melebihi tajamnya pisau.
Kau tertegun, gagu, indramu beku.

Dagingmu, tulangmu, mati.
Jiwamu, batinmu, hancur.
Bahasamu binasa, kecuali satu kata,
“Tolong.”

Bintaro, 4 November 2019

Kania Laksita Raras

Written by

Pencipta fiksi, kebanyakan yang enggan diutarakan

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade