Cerita Ciutnya Nafsu Belanja

Kiky Shahab-Ranova
Nov 7 · 2 min read

Perempuan, katanya, ditakdirkan untuk belanja. Saya perempuan, bisa dikatakan saya pun ditakdirkan untuk belanja. Yang saya suka kalau lagi belanja bukan window shopping; saya tidak terlalu suka menghabiskan waktu terlalu lama untuk shopping. Saya tipe vini vidi vici, saya lihat saya suka saya beli -- tipe yang lebih berbahaya, hahaha.

I am not a bag lady, nor a shoe lady. I am a dress lady. Saya suka sekali belanja baju, terutama dress. Dulu di awal kerja, jaman hampir setiap weekend hadir di acara pernikahan teman, rasanya gampang banget menghabiskan gaji sebulan untuk membeli satu buah dress (tambahan, prinsip shopping saya yang kedua: ada uang, ada barang. Benar-benar kombinasi yang mematikan saldo tabungan!)

Sampai suatu ketika di awal 2011 sebelum menikah, saat saya sedang packing untuk pindah rumah. Saat itu, rumah yang akan ditempati bersama suami relatif masih minim furnitur, terutama lemari. Tidak mungkin semua barang saya dibawa ke rumah baru. Saat itu, sambil melihat ke tumpukan baju, saya baru sadar banyak sekali baju yang saya pakai cuma sekali dua kali, dan jenis ini biasanya yang harganya mahal! Karena di tahun 2011 belum ada Carousell, akhirnya setengah dari isi lemari saya donasikan. Sedih juga rasanya.

Di hari yang sama, saya menerima email review reksa dana tahunan dari planner. Saya kaget ketika melihat kok masih ada sisa dana yang cukup banyak di satu pos yang rasanya sudah saya cairkan semua untuk biaya pernikahan yang akan datang. Pasti salah data, pikir saya. Setelah dikonfirmasi ke planner, jawabannya begini: nggak salah Ky, return reksa dana itu 60% dalam 3 tahun dan yang kemarin dicairkan cuma total nilai uang yang rutin diinvestasikan selama 3 tahun, tidak termasuk return.

Momen tersebut adalah salah satu yang akan saya ingat sepanjang hidup karena saat itu saya merasakan bukti nyata bahwa money can actually grow. Bagaimana bisa saya lebih suka menghabiskan uang untuk membeli dress, yang satu detik setelah dibeli nilainya langsung turun, ketika jumlah uang yang sama, jika dikelola dengan tepat, bisa memberikan tambahan nilai? Pertanyaan ini mampu membuat nafsu belanja ciut seketika.

Sejak saat itu, apakah saya langsung berhenti shopping? Tentu tidak, kan perempuan takdirnya belanja! Saya masih tetap dengan prinsip vini vidi vici dan ada uang, ada barang. Karena jaman pernikahan teman sudah lewat, saat ini shopping yang paling menggiurkan dan 'berbahaya' buat saya adalah belanja tiket pesawat untuk liburan keluarga!

Yang berubah adalah self-control yang menjadi lebih baik. Saya lebih selektif dalam menentukan kapan saatnya shopping. Ketika saatnya tepat dan membeli barang bukan dengan utang, saya nggak pernah takut menghabiskan uang untuk shopping.

Ladies, let’s embrace our destiny with a correct money mindset!

    Kiky Shahab-Ranova

    Written by

    Wife. Mother. Bookworm. Communicator. Upholder. Amateur investor. Introvert who appears as Extrovert. Hope you'll find my stories helpful!

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade