Sebuah Ego(?)

Mungkin kalau telingaku punya mulut dia akan teriak “dikit-dikit kok nikah!” sekencang-kencangnya disamping telinga orang-orang yang merasa solusi dari semua permasalahan hidup cuma satu, yakni; Nikah. Ah!


Waktu itu kami sedang berdiskusi tentang kasus pemerkosaan sembari makan siang. Kala itu di hari Jumat, aku dan kedua temanku berada di warung depan kampus. Tiga piring nasi rames dan tiga gelas es teh dengan lezatnya memanjakan kami. Aku menyantap makananku dengan sangat khusyuk sambil mendengarkan opini dari salah satu temanku. Kepalaku menganggut-anggut mengikuti kalimatnya, padahal sebenarnya yang ada di kepalaku hanyalah tentang kering kentang,sambal,dan ikan yang masuk ke mulutku bercampur menjadi kesatuan yang – Ah! Sulit dijelaskan.

Saat lidahku sedang bekerja mengecap satu demi satu jenis makanan yang berada didalam mulutku, tiba-tiba temanku berkata “kenapa nggak dinikahin aja sih? Kan udah selesai kuliah dua-duanya?” Dimulai dari situ lidahku tiba-tiba lupa akan tugasnya yang seharusnya untuk mengecap makanan, malah ia gunakan untuk mengumpat. Tapi tentunya kuucapkan dalam hati. Entah kenapa rasanya kasihan saja.

Walaupun sudah sering melihat, membaca anggapan seperti itu tapi aku masih tetap saja heran. Terlebih kami saat itu sedang membicarakan tentang kasus korban pemerkosaan. Disentuh dengan orang yang tidak kita kenal atau tidak disertai dengan keinginan kita sendiri rasanya pun ogah! Sedangkan ini, malah menyuruh untuk menikah dengan pelaku pemerkosaan.

Menikah.

Tinggal bersama, bertemu 24/7, melihat mukanya terus menerus dari mulai membuka mata hingga terpejam. Semua hal itu akan kalian lakukan dengan orang yang sudah menyakiti kalian secara fisik dan mental? Gila!

Mulai dari kejadian itu, aku bertanya pada diri sendiri sebenarnya apa makna pernikahan? Sebenarnya bagaimana sih orang-orang memaknai pernikahan? Apakah saat ini orang-orang menganggap pernikahan sebagai hal yang sepele, sampai-sampai dalam menanggapi kasus pemerkosaan malah menyarankan untuk menikahkan pelaku dan penyintas atau korban.

Kalau tak pikir-pikir, menikah itu bukan hal yang sederhana. Apalagi mengambil keputusan untuk menikah pun perlu diiringi dengan nyali yang besar, pemikiran yang matang dan mental yang kuat. Masalah materi? Itu bisa dicari. Tapi kalau masalah mental? Carinya dimana? Banyak yang beranggapan kesiapan mental itu didapat ketika umur kita sudah dewasa, tapi ada juga yang tidak setuju. Aku ada cerita sedikit tentang hal ini.


Pernah suatu saat aku tanya teman sekolah ku yang menikah di usia muda, pada usia 18 tahun kalau tidak salah dan dia menikah dengan pria yang memiliki jarak usia yang cukup jauh dengannya. Saat itu aku diminta untuk menjadi salah satu “among tamu” di acara pernikahannya. Aku menyaksikan prosesi acaranya mulai dari persiapan ijab qobul, saat ijab qobul hingga resepsi. Jujur saja, menyaksikan teman yang usianya sama dengan kita melakukan prosesi pernikahan terutama ijab qobul, membuat bulu kudukku merinding. Salut sekaligus bertanya-tanya apa yang membuat dia seyakin itu untuk menikah di usia muda. Tetapi rasanya aku tidak perlu jawaban dari mulutnya, aku bisa merasakan pancaran matanya yang tidak ada keraguan sama sekali. Senyuman dari kedua mempelai juga orang tua mereka menggambarkan banyak hal dan menjawab pertanyaanku. Setelah itu, aku berbicara pada diri sendiri bahwa sepertinya keyakinan dan keberanian untuk menikah akan muncul dengan sendirinya tanpa perlu banyak pertanyaan maupun pernyataan mengapa rasa itu muncul, dan mengapa-mengapa yang lain. Aku kira rasanya akan susah untuk dideskripsikan tapi mudah dirasakan jika sudah waktunya. Dan anggapan bahwa “yang lebih tua selalu lebih matang” pun terbantahkan. Karena faktanya, kesiapan mental untuk menikah tidak melulu dimiliki mereka yang lebih tua tetapi juga banyak mereka yang diusia muda yang belum memiliki kesiapan untuk menikah namun keinginannya sudah menggebu.


Aku bukannya nggak menghargai pilihan mereka yang ingin menikah muda, tapi aku tidak setuju kalau menikah dijadikan solusi untuk semua permasalahan dalam hidup. Apakah orang-orang lupa maksud dari “Selamat menempuh hidup baru”? It’s a new LIFE. Coba dipikirkan lagi, bagian hidup mana yang terlepas dari permasalahan? Apalagi yang ingin menikah karena dikejar target, ugh! Ya, itu bukan hal buruk untuk memiliki goals menikah diusia sekian, tapi perhatikan juga hal yang lain seperti, kesiapan diri dan lain lain, jangan hanya semata-mata karena usia. Menikah kan tidak hanya sampai pada proses resepsi saja, tapi sampai nanti punya anak dan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Bukannya begitu, harapan-harapan yang dirapalkan oleh para tamu undangan? Kalau begini masalahnya, aku setuju dengan ungkapan “menikah itu hanyalah konstruksi sosial”. Menikah juga bukan sekedar melampiaskan nafsu malam pertama semata, ada yang harus dipertanggungjawabkan setelahnya dan seterusnya. Ah, tapi kembali lagi, aku cuma asal ngomong dan belum pernah menikah tapi udah ngomongin pernikahan. Hahaha, well its just my opinion.


Jadi, sebenarnya siapa yang menikah, kamu atau egomu?.